Ketik disini

Metropolis

Pariwisata Maju, Anak Muda Tidak Mau Jadi TKI

Bagikan

Saat anak muda seusianya mengadu nasib menjadi buruh migran ke luar negeri (TKI), Musanif justru bertahan di desa. Geliat pariwisata dalam lima tahun terakhir menjadi tumpuan hidupnya. Dia yakin pariwisata adalah resep manjur untuk menurunkan angka pengangguran dan menurunkan TKI ke luar negeri.

***

SORE itu Musanif sibuk menjawab pesan masuk di HP nya. Mukanya serius memandang layar, tanpa berkedip. Sesekali dia tersenyum. Pesan yang masuk kabar bahagia: rombongan tamu dari luar negeri akan berkunjung ke Tetebatu. Musanif diminta menyusun rencana liburan tamu itu. Dua hari menginap di desa yang masih di kawasan kaki Rinjani.

Musanif menawarkan paket wisata hyking sekitar Desa Tetebatu dan Desa Kembang Kuning. Rute ditulis dengan detail, termasuk tempat singgah para tamu. Di setiap lokasi yang akan disinggahi Musanif memberikan contoh foto dan video. Foto dan video promosi itu dibuat bersama anak-anak muda di kampungnya.

Tamu yang kali pertama datang ke Tetebatu itu yakin dengan tawaran Musanif. Apalagi di foto dan video yang pernah diunggah (upload) di media sosia itu menampilkan tawa wisatawan mancanegara yang satu rombongan dengan Musanif. Tanpa menawar banyak, tamu itu sepakat Musanif sebagai guide mereka.

Paket yang ditawarkan Musanif , kalau dilihat sepintas, hal yang biasa aja. Apalagi bagi orang Indonesia yang tinggal di desa. Paket wisata itu : jalan di pematang sawah, begabah (panen padi), lowong (menanam padi), ada juga ikut nyongkolan (irigan pengantin Sasak). Paket terakhir yang namanya agak aneh “coffee siong kete”. Siong artinya goreng, kete adalah penggorengan yang terbuat dari tanah liat. Jadi paket wisata yang ditawarkan Musanif itu mengajak wisatawan mancanegara ikut menggoreng kopi.

“Kalau orang sini sih tidak menarik. Tapi bagi wisatawan mancanegara kegiatan ini yang paling berkesan,’’ katanya.

Pada aktivitas sawah, tamu diajak berbaur dengan petani. Jika musim menanam padi mereka ikut lowong. Saat musim panen mereka ikut begabah. Ketika padi baru berbuah mereka ikut kegiatan mengusir burung ke sawah. Semua aktivitas pertanian itu dijual sebagai paket wisata oleh Musanif. Setelah aktivitas di sawah, Musanif mengajak ke beberapa tempat wisata di Desa Tetebatu dan Desa Kembang Kuning. Ada beberapa air terjun. Tidak sepopuler dan seindah air terjun yang sudah kesohor di Lombok, air terjun di Tetebatu dan Kembang Kuning paling tinggi lima meter.

Keindahan air terjun itu bukan jualan utama, tapi perjalanan menuju air terjun itu sendiri yang menjadi daya tarik. Melewati pematang sawah, menyusuri sungai, dan mandi di air sungai yang masih jernih menjadi keasyikan tersendiri.

“Makin simbit (angker) tempat yang dituju, tamunya makin senang dan penasaran,’’ kata Musanif tertawa.

Paket spesial “coffee siong kete” menjadi pamungkas paket sehari penuh yang ditawarkan Musanif.  Tamu diajak untuk mengenali kopi dan memroses hingga menjadi hidangan di meja. Mereka ikut menggoreng, menumbuk, menapis, hingga menuangkan di dalam gelas. Para tamu saling melayani satu sama lain.

Tak sekadar duduk menyaksikan proses pembuatan kopi itu. Musanif dan anak-anak muda yang menjadi timnya menjelaskan proses kopi itu, mulai dipetik hingga menjadi secangkir kopi. Agar makin merasakan suasana desa, Musanif mendandani tamunya dengan pakaian adat Sasak. Minimal memakai sarung dan sapu’(ikat kepala).

“Apa yang bagi kita sepele, tapi bagi mereka pengalaman luar biasa,’’kata Musanif.

Keberadaan para guide, tamu yang ramai berdampak juga bagi perkembangan usaha penginapan di Tetebatu dan Kembang Kuning. Musanif sendiri mulai merintis membangun homestay. Homestay yang sebelumnya mati suri kembali dihidupkan. Bermunculan homestay baru.  Para guide bekerjasama dengan homestay yang tersebar. Rate Rp 100-an ribu hingga di atas Rp 500 ribu tersedia. Jalinan kerjasama antara penginapan dengan para guide ini membuat wisata kawasan Tetebatu mulai bangkit.

“Kalau saya sendiri, pariwisata ini adalah periuk makan saya. Ini periuk makan yang harus saya jaga,’’ kata Musanif.

Itulah sebabnya, ketika ada kegiatan kepariwisataan dari pemerintah Musanif selalu menyempatkan diri hadir jika sedang tidak mengantar tamu. Baginya informasi tentang kepariwisataan itu adalah ilmu yang tidak boleh dilewatkan. Setiap undangan diskusi tentang pariwisata, Musanif paling depan ikut serta. Jika ada kunjungan dari pemerintah kabupaten maupun pemerintah desa ke tempat usahanya, Musanif senantiasa membuka pintu. Dia sadar, pariwisata dibangun atas kerja sama semua pihak. Pemerintah, swasta, pelaku pariwisata, dan masyarakat sekitar harus satu kata memajukan pariwisata.

“Sejak ramai wisatawan ke desa kami, bukan hanya guide dan penginapan yang dapat, tapi masyarakat juga dapat makan,’’ ujarnya.

Dituturkan Musanif, ketika pariwisata lesu, banyak usaha yang tutup. Tak sedikit anak muda di desanya menjadi buruh migran ke luar negeri. Malaysia menjadi favorit. Teman-teman sekolah Musanif pun masih ada yang berada di Malaysia.  Tak sedikit pula orang yang pernah bekerja di sektor pariwisata kini masih menjadi buruh migran. Mereka ke Malaysia karena huru hara politik yang dimulai 1998, kemudian peristiwa bom Bali dan kerusuhan 171 Mataram berdampak ke Tetebatu. Lama mati suri, di tahun 2009 kembali bangkit. Lima tahun terakhir ini, Musanif melihat masa depan pariwisata Tetebatu kembali cerah.

“Apapun program untuk memajukan pariwisata, kami akan terdepan ikut. Kami merasakan dampak kemajuan pariwisata itu,’’ katanya.

Begitu juga ketika ramai soal wisata halal, bagi Musanif, apapun nama branding pariwisata, selama mendatangkan wisatawan dia mendukung penuh. Walaupun saat ini kawasan Tetebatu belum dibranding wisata halal, Musanif tetap terbuka jika ada wisatawan yang ingin pelayanan halal.

“Makin banyak promosi kami makin senang,’’ katanya.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tetebatu Kusuma Adenan merasakan betul dampak kemajuan pariwisata.  Bukan muluk-muluk, secara mata telanjang dampak itu terlihat dari munculnya homestay. Penginapan yang sebelumnya tutup kembali dibuka. Penginapan yang lama ditinggalkan, kembali diperbaiki pemiliknya. Anak-anak muda tidak lagi berpikir untuk menjadi TKI ke Malaysia. Mereka bisa bekerja di sektor pariwisata. Kusuma Adenan yang kini mengelola Hotel Surya mencontohkan, 100 persen karyawannya adalah putra daerah Tetebatu.

“Semua penginapan di Tetebatu dan Kembang Kuning pekerjanya dari masyarakat di sini, anak-anak muda,’’ katanya.

Di tengah gencarnya promosi pariwisata Lombok – Sumbawa yang dilakukan pemerintah, Kusuma yakin akan berdampak positif terhadap angka kunjungan wisatawan. Dia juga berharap pemerintah bisa membuat promosi khusus untuk kawasan Tetebatu. Termasuk juga harapan  agar pemerintah membawa program penataan destinasi wisata yang ada di Tetebatu.(fathul/adv/r5/bersambung)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka