Ketik disini

Metropolis

Vaksin dari Air Kelapa, Obat Merah dari Getah

Bagikan

Mengulik lebih dalam dengan dagang owat yang kerap ditemui di pasar, ternyata ada fakta mengejutkan. Seorang eks penjual obat yang kini telah tobat, menceritakan keusilannya, membuat ramuan. Berikut ceritanya.

A�***

AnggapA� saja ini, semacam investigasi. Nama penjual ini minta dirahasiakan. Sebut saja, namanya Jumisah. Ia berasal dari Lombok Tengah. Tepatnya, dari Desa Ganti. Jumisah memang sudah lama pensiun jadi tukang owat (obat, Red). Ia mengaku ikut jualan obat, karena diajak seorang teman, sebut saja Patra.

a�?Kami jarang main di pasar. Karena gak bisa akrobat,a�? tuturnya.

Entah bagaimana ceritanya. Penjual owat di pasar, memang selalu main sulap. Tapi memang tujuannya sudah jelas. Biar diperhatikan banyak orang. Biasanya, sembari bermain sulap, di sela-sela itu, mereka terus mempromosikan obat-obat yang dijual.

a�?Kalau ngomong tentang obat, Patra memang sangat pandai. Syurga dan neraka, bisa ada kaitannya dengan obat yang dijualnya,a�? jawab dia lalu tertawa lebar.

Tapi tempat mereka selalu sepi. Kalah sama penjual owat lain. Maka, Patra pun punya ide untuk mengajak Jumisah jual obat dari kampung ke kampung. Alhasil, pendapatan mereka, jauh lebih banyak.

a�?Pesan saya, hati-hati saja dengan penjual owat tradisional. Memang tidak semua dagang owat. Tapi ada juga yang seperti kami, ya sedikit jahil,a�? bebernya.

Jumasih lalu membeberkan bagaimana mereka beraksi. Ternyata, obat-obat yang dimasukan dalam botol dan dijual bukanlah obat yang datang dari tempat yang terpercaya. Itu bukan juga ramuan para tabib yang telah bertapa bertahun-tahun.

a�?Obat luka biasanya dicampur dengan katoq (sejenis kaktus dengan getah warna putih), lalu suntikan biasanya kami isi pakai air kelapa,a�? ungkapnya.

Jumasih, sempat geleng-geleng. Ia sendiri mengaku menyesal telah melakukan praktik penipuan itu. Saat itu, usianya memang masih muda. Keusilannya tidak lepas dari keliaran jiwanya saat itu.

a�?Tapi, aneh kami memang selalu dipanggil dan orang yang kami obati juga tidak sedikit yang sembuh. Mungkin, karena mereka yakin,a�? ujarnya.

Memang tidak semua yang ditangani Jumisah dan Patra sembuh. Ada juga yang sakitnya tambah parah. Untungnya, tidak ada yang sampai meninggal. Kalau sudah sakit makin parah, maka tugas Jumisah adalah meyakinkan keluarga atau a�?pasiena�� mereka yang tengah sakit, jika penyakit itu sudah kronis. Harus ditangani dengan alat yang canggih di rumah sakit.

a�?Ya mereka percaya saja. Namanya orang kampung. Itulah kenapa kami lebih banyak jual obat ke desa-desa. Kalau ke kota tidak pernah,a�? terangnya.

Kepandaian Patra dalam mengenalkan obat, juga didukung kenekatannya saat aksi. Karena itulah obat luka mereka laku keras. Padahal, obat luka itu hanya getah dari katoq yang disadap dari kebun miliknya.

a�?Patra itu nekat. Dengan menggunakan pisau ia berani mengiris lengannya agar luka. Ya, namanya luka kalau diolesi getah katoq, darah pasti berhenti netes,a�? cetusnya.

Makanya lengan temannya itu penuh dengan sayatan. Tapi uniknya, luka bekas sayatan itu dalam tiga empat hari, sudah mulai mengering. Setelah darah tidak lagi menetes.

a�?Kalau malam Patra kerap mengerang. Mungkin sayatan itu cukup membuatnya kesakitan,a�? tuturnya.

Namanya, orang kampung. Aksi tipu-tipu itu, ternyata berlangsung mulus. Bahkan, hingga keduanya menyatakan diri berhenti jual obat dan bertobat. Memang, aksi ini bisa dibilang berjalan lancar, sebab masyarakat kampung, belum melek informasi. Percaya saja, setelah kena hipnotis, kata yang bertubi-tubi dari penjual obat.

a�?Kadang dibayar pakai singkong, beras, kelapa. Jarang pakai uang,a�? ujarnya lalu terkekeh.

Jumisah mengatakan, kekuatan dari dagang owat, memang terletak dari sugesti kata-kata yang mereka sampaikan. Sugesti itu, bisa mendorong orang untuk yakin. Sehingga pada dasarnya yang menyembuhkan diri mereka, sebenarnya mereka sendiri. Tidak ada sangkut pautnya dengan obat-obat yang dijualnya.

a�?Coba bayangkan, bagaimana mungkin orang bisa sembuh dengan air kelapa yang jarum suntiknya, tidak pernah diganti. Tapi, karena yakin ya kita tetap saja dipanggil untuk mengobati,a�? terangnya.

Bahkan, minyak-minyak urut yang dijual, tidak lebih dari minyak kepala yang diberi semacam pernik akar-akaran. Biar terkesan, berbahan herbal, mujarab dan ekslusif. Padahal, kata Jumisah akar itu, hanya akar-akar yang diambil dari hutan Sekaroh.

a�?Kalau pakai akar biasa, orang-orang kampung bisa cepat mengenali. Beda kalau diambil di hutan, di sana banyak tumbuh tanaman yang jarang ada,a�? bebernya.

Ia menyadari, aksi itu memang tidak baik. Jumisah juga mengatakan, tidak semua penjual obat, suka tipu-tipu seperti mereka. Ada juga yang memang menjual obat berbahan ekslusif dan terbukti menyembuhkan.

a�?Tetapi karena memang tidak ada lembaga yang mengawasi kualitas obat-obat yang kami jual, ya bebas saja ada yang melakukan penipuan,a�? tutupnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram./r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys