Ketik disini

Feature

Titian Hidayah, Memupuk Pelanggan dari Untung Tipis

Bagikan

Kala toko buku pesaing tiarap, bendera Titian Hidayah justru berkibar. Bukannya surut, toko buku ini bahkan beranak pinak dengan unit-unit usaha yang lain. Konsisten mengambil margin keuntungan yang tipis, telah menjadikan toko buku ini bertahan di tengah gempuran zaman. Kok bisa?

***

MENGGENGGAM tangan si buah hati, pria itu memasuki Toko Buku Titian Hidayah. Gadis cilik itu ceria bukan main. Setelah melepas salam, bapak dan anak itu masuk toko buku dan memulai memilih buku yang hendak dibelinya.

Tak lama, buku yang dicari telah ketemu. Keceriaan terpancar dari wajah laki-laki berjanggut tersebut. Jangan tanya ekspresi buah hatinya. Sungguh juga tak kalah merona bahagia.

a�?Saya memang rutin ke sini kalau cari buku-buku agama,a�? kata pria yang memakai baju gamis khas Arab itu. Dia adalah pelanggan setia Toko Buku Titian Hidayah.

Toko itu ada di bilangan Jalan Pembangunan di Gomong, Mataram. Tepat berada di pintu utama arus lalu lintas mahasiswa yang keluar masuk kampus Universitas Mataram. Toko ini tak buka setiap saat. Biasanya pada saat jam salat lima waktu, toko tutup.

Begitulah Titian Hidayah. Ini adalah toko buku yang memang mengkhususkan diri. Banyak menyajikan buku agama, Titian Hidayah menyasar pangsa pasar kalangan tertentu yang sebenarnya terbatas.

Namun, meskipun ceruk pasar yang diincar tampak tidaklah begitu gemuk, toko buku ini sukses bertahan menghadapi terpaan zaman. Tak hanya bertahan, Titian Hidayah dari waktu kewaktu justru menunjukkan peningkatan signifikan.

Tahun 2001 adalah tonggak sejarah bagi Titian Hidayah. Kala itu, Yanuar si pendiri mulai merintis usahanya. Pria perantauan itu memutuskan berjualan buku saat awal datang di Lombok.

Ikut istri yang menjadi dosen di Unram, masa-masa sulitnya diisi dengan berjualan buku. a�?Waktu itu namanya Tuan Guruku, baru kemudian berubah jadi Titian Hidayah,a�? katanya mengenang saat merintis usaha.

Tentu saja, dia tidak mengawali jualan dengan punya toko seperti sekarang ini. Yanuar berjualan secara a�?nomadena�?. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Menggelar lapak di aneka tempat ramai.

Ketika ada seminar atau pelatihan sedang diadakan di hotel, ia menjajakkan buku-bukunya di sana. Yang juga tak mungkin dilupakan adalah saat menggelar dagangan di halaman Masjid Unram.

Dari pola itulah ia mulai dikenal. Perlahan, pembeli mulai datang ke rumah kontrakannya di Kekalik, kala itu. Tak mengenal waktu, ada saja yang mengunjunginya untuk mencari buku. a�?Sampai akhirnya privasi mulai terganggu. Malam hari ada yang ke rumah, sedang istirahat, ada yang telpon,a�? katanya menggambarkan kondisi.

Hanya perlu setahun. Pada 2002, Yanuar mulai melirik sistem berjualan yang menetap. Diapun memberanikan diri menyewa toko kecil di Gomong untuk memajang buku-bukunya.

Pelan namun pasti, usaha jualan buku itu bukannya meredup. Namun, terus meningkat. Yanuar pun naik level. Padahal kala itu modalnya tidaklah seberapa. Seolah sudah ditakdirkan menjadi pengusaha buku, ia mendapat sejumlah keringanan dari suplier buku di Pulau Jawa.

Hanya memegang modal kepercayaan, laki-laki murah senyum itu dikirimi buku tanpa harus membayar terlebih dulu. Bahkan tak juga menggunakan uang muka. a�?Kepercayaan itulah yang kami pegang teguh, dan berusaha tak mengecewakan rekan bisnis,a�? ujarnya.

Bantuan tersebut menurutnya sangat membantu Titian Hidayah untuk meniti tangga yang lebih tinggi. Menyasar kalangan mahasiswa dan umum, Titian Hidayah terus mengembangkan diri.

Bahkan dari toko buku itulah, Titian Hidayah kini berkembang menjalankan usaha lain seperti toko kaset dan toko pakaian muslimah.

Apa rahasia Yanuar? Rupanya dia tidak maruk. Mentang-mentang didatangi pembeli yang ramai, dia justru tidak mengambil untung banyak. Dan terbukti, mengambil margin untung yang sangat tipis, menjadi jalan Yanuar terus mengibarkan bendera Titian Hidayah. Bertahan dari gempuran para pemain besar bisnis pernjualan buku.

Karena margin keuntungan yang tipis itulah, maka jangan heran, kalau persoalan diskon seolah telah menjadi hal yang lumrah diberlakukan di tokonya.

Namun begitu, bukan berarti tak ada hambatan yang dirasakan. Selama 15 tahun berkecimpung dalam bisnis buku, Yanuar sudah mendapat ragam pengalaman suka dan duka.

Salah satunya ketika ia tak lagi bisa menyasar para pelanggan hingga ujung Lombok. Mataram kini menjadi fokus utama ayah empat anak tersebut. Kendati hingga kini konsumen dari luar Mataram bahkan Pulau Sumbawa masih ada yang rutin datang.

Kemajuan teknologi juga menjadi masalah lain yang sempat menghantam usahanya. Dulu, sebelum era digital marak seperti saat ini, ragam jenis buku bisa ludes terjual dengan cepat.

Misalnya, ketika jelang bulan puasa, ia wajib menyiapkan banyak stok buku berkaitan dengan Ramadan. Mulai dari buku yang membahas cara berpuasa, amalan puasa, hingga fiqih puasa. a�?Tapi sekarang semua bisa dibaca cukup dengan google saja,a�? katanya.

Pria bergelar Magister Manejemen Unram tersebut tak mau menyerah. Kendati sejumlah buku tergerus akibat teknologi, ia terus berupaya memantau pasar. Inovasi dan kreasi coba dikembangkan.

Salah satu yang mulai dihindari atau dijual terbatas adalah buku-buku musiman yang tak memiliki umur panjang. Misalnya, ketika aksi bela Alquran sedang marak saat ini, ada kemungkinan buku terkait segera terbit. Namun, buku seperti itu dipastikan tak bertahan lama, karena dalam waktu satu bulan saja, isu sudah akan berpindah. a�?Kami lebih memilih buku yang tidak termakan waktu, yang dibaca sejak kakek nenek kita dulu, sampai cucu kita nanti,a�? katanya.

Titian Hidayah dengan Yanuar kini terus mencoba bertahan di tengah kemajuan zaman. Dalam benaknya, ia masih meyakini buku masih memiliki waktu yang panjang untuk bertahan.

Perbedaan sensasi membaca dengan layar kamera dan buku asli salah satu alasannya. a�?Baca lama pakai layar lelah juga. Saya yakin buku masih akan terus berkembang dan berevolusi,a�? pungkasnya. (WAHYU PRIHADI S, Mataram/r8/bersambung)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka