Ketik disini

Metropolis

Mempercantik Destinasi Lama, Mempromosikan Destinasi Baru

Bagikan

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) NTB bergerak cepat ketika ada keluhan tentang destinasi pariwisata. Tidak boleh menunggu lama. Bisa-bisa wisatawan terlanjur kecewa karena pelayanan dan destinasi yang kurang bagus.

***

MASIH ingat ketika jagat media sosial diramaikan protes netizen terhadap pemasangan tulisan Segara Anak di Danau Segara Anak ?. Para wisatawan yang tak pernah naik ke Segara Anak pun ikut berkomentar, hampir semua pendaki berkomentar miring tentang pemasangan huruf-huruf itu. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) NTB yang selama ini getol mempromosikan Gunung Rinjani pun turun tangan. Berkoordinasi dengan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sebagai penguasa wilayah dan pelaku wisata, akhirnya tulisan itu diturunkan. Protes mereda.

Begitu juga ketika ramaiA� postingan foto sampah di Gunung Rinjani. Lagi-lagi Budpar NTB memfasilitasi seluruh pihak terkait untuk mengatasi persoalan itu. Karena terbentur status waspada setelah meletus, aksi pembersihan sampah itu tertunda. Pekan ini barulah aksi bersih gunung itu akan dilakukan,walaupun pada areal yang terbatas.

a�?Bagaimana pun destinasi wisata itu tanggung jawab kita bersama. Destinasi itu wajah pariwisata kita,a��a�� kata Kepala Dinas Budpar NTB HL Moh Faozal.

Tak banyak yang tahu jika destinasi-destinasi unggulan sebenarnya dibenahi oleh Budpar NTB. Konsep idealnya, Budpar NTB fokus pada upaya promosi, sementara pembenahan destinasi urusan kabupaten/kota. Bagaimana pun juga uang masuk dari destinasi itu kembali ke kabupaten. Tapi, bagi Budpar NTB, ego kewilayahan itu harus dihilangkan jika ingin memajukan pariwisata. Ketika ada persoalan destinasi, Budpar NTB bergerak duluan untuk menyelesaikan. Ketika destinasi di satu kabupaten diprotes wisatawan, Budpar NTB juga tidak tenang sebelum menyelesaikan persoalan itu.

Ketika ramai pemberitaan tentang kawasan Mandalika, Budpar NTB bergerak cepat. Salah satu yang banyak dikeluhkan adalah informasi yang terbatas dan keamanan. Budpar NTB membangun tourist information center (TIC) atau pusat informasi wisatawan. Di tempat itu disediakan informasi pariwisata di kawasan Mandalika, termasuk juga wisata Lombok Sumbawa. Budpar NTB menempatkan petugas yang siap memberikan informasi. Tempat itu juga bisa menjadi ruang singgah bagi wisatawan.

Kawasan Senggigi yang menjadi salah satu ikon pariwisata Lombok ikut digarap Budpar NTB. Baru-baru ini, Budpar NTB membangun kursi taman. Kursi-kursi panjang yang dipasang di pusat keramaian Senggigi menjadi tempat nongkrong baru wisatawan. Ketika mereka jalan kaki di sepanjang Senggigi, mereka bisa istirahat di kursi taman itu. Bagi wisatawan yang jogging, kursi panjang itu menjadi tempat singgah sementara sebelum meneruskan kegiatan olahraga mereka.

Begitu juga kawasan Sesaot. Dengan sedikit sentuhan, kawasan itu mejadi destinasi favorit baru untuk liburan keluarga. Sesaot sudah lama dikenal karena keasrian hutan dan mata air. Sering dikunjungi wisatawan lokal. Setelah dipercantik, kawasan Sesaot itu menjadi ikon baru kawasan wisata hutan. Spot-spot yang sebelumnya biasa saja menjadi luar biasa setelah dipasangi beberapa fasilitas. Sedikit sentuhan pada jogging trek, membuat kondisi Sesaot berubah 180 derajat. Kawasan Sesaot tak lagi sekadar a�?destinasi kampunga�?.

Kawasan air terjung Sendang Gile, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU) juga bisa lebih cantik setelah diberikan sentuhan. Beberapa kali Budpar NTB turun langsung menata kawasan itu. Hasilnya, beberapa fasilitas yang sebelumnya kurang terawat kini sudah baik. Wisatawan pun lebih nyaman berkunjung ke air terjun yang menjadi ikon kabupaten paling muda di NTB itu.

Selain pembenahan fisik, Budpar NTB juga kerap turun langsung ketika ada laporan kondisi destinasi yang kurang terawat. Budpar NTB bersama para pelaku wisata rutin melakukan bersih-bersih di destinasi. Mungkin saja aksi bersih itu tidak bisa membersihkan semua sampah di kawasan pariwisata, tapi melalui aksi bersih itu Budpar mengajak agar masyarakat dan pelaku pariwisata peduli dengan kebersihan destinasi. Jika destinasi bersih, wisatawan lebih nyaman dan itu menjadi penilaian positif bagi destinasi wisata.

Itu pula alasannya ketika Budpar NTB harus a�?blusukana�? ke masjid-masjid di kawasan pariwisata. Dimulai bulan Ramadhan lalu, Budpar NTB memantau masjid yang berada di dekat destinasi wisata. Budpar turun ke Tetebatu, Budpar memantau masjid di Senggigi, Budpar mengecek masjid di Sembalun, Budpar memeriksa toilet masjid di Kuta Lombok Tengah, Budpar memeriksa air bersih masjid di Lombok Utara. Setelah memeriksa masjid itu, Budpar secara tiba-tiba mengundang pengurus masjid. Budpar memberikan penilaian kebersihan masjid itu. Budpar juga memberikan pemahaman bahwa masjid di daerah wisata itu bukan hanya dikunjungi warga setempat, tapi juga wisatawan yang beribadah.

a�?Makanya kami intervensi kamar mandi dan tempat wudhu masjid di Sembalun,a��a�� kata Faozal.

Sembalun yang saat ini dibranding sebagai salah satu destinasi halal tak pernah sepi dari wisatawan. Baik wisatawan yang akan mendaki maupun wisatawan yang khusus berlibur ke Sembalun. Para wisatawan yang akan beribah tentu saja perlu diberikan pelayanan yang baik. Pelayanan itu dalam artian, tempat mereka bersuci bersih. Tersedia toilet yang bagus dan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Tempat wudhu yang terpisah antara lak-laki dan perempuan. Bahkan masjid bisa menyediakan kamar mandi khusus bagi wisatawan yang ingin membersihkan badan setelah menjelajah Sembalun.

a�?Kalau orang di terminal dan tempat umum mau bayar untuk masuk toilet, kenapa tidak masjid juga menyediakan kotak amal dari wisatawan yang memakai toilet,a��a�� kata Faozal.

Keberaaan masjid yang bersih di destinasi wisata adalah nilai plus pariwisata. Banyaknya wisatawan nusantara yang muslim, maupun wisatawan muslim mancanegara harus nyaman ketika liburan. Kenyamanan itu, selain makanan halal, mereka juga butuh tempat ibadah yang baik. Ketika masjid yang ada di destinasi wisata jorok atau kurang bersih, tentu saja itu bisa mencoreng citra pariwisata.

Selain menata destinasi unggulan itu, Budpar NTB juga berkomitmen mempromosikan destinasi baru. Sebenarnya destinasi yang disebut baru itu bukan temat baru, tapi baru dikenal menjadi destinasi pariwisata. Faozal mencontohkan kawasan Tanjung Luar. Daerah itu lebih dikenal sebagai pasar ikan terbesar di Pulau Lombok. Ratusan kapal nelayan singgah tiap hari di dermaga Tanjung Luar. Kesibukan pasar ikan tak pernah sepi.

Belakangan dermaga itu juga populer sebagai rute jejalah gili di kawasan selatan Lombok Timur. Di kawasan itu dikenal Pulau Pasir, Gili Petelu, Gili Maringkik, Gili Bembeq, dan pulau-pulau kecil lainnya. Belum lagi pantai-pantai di kawasan selatan Lombok Timur itu lebih indah dijelajahi melalui laut. Tanjung Luar pun mendadak terkenal menjadi penyeberangan pariwisata.

a�?Sekarang anak-anak muda di sana sudah memiliki kelompok. Ini sesuatu yang positif. Mereka menangkap peluang,a��a�� katanya.

Selain membantu mempromosikan, Budpar juga mendukung kegiatan masyarakat yang bisa mengenalkan pariwisata Tanjung Luar. Tahun lalu Budpar NTB mendukung event Nyalamaq Dilauq. Acara selamatan laut itu dihadiri ribuan orang. Selain melestarikan tradisi masyarakat bahari, event itu juga semakin melambungkan nama Tanjung Luar. Publikasi media nasional dan komentar para wisatawan membuat Tanjung Luar tak lagi dikenal hanya sebagai pasar ikan, tapi menjadi destinasi baru wisata. Budpar NTB membantu menata tempat sampah dan berugak (gazebo) tempat istirahat.

a�?Tahun depan juga kami siapkan untuk dukung kawasan Tetebatu Lombok Timur,a��a�� kata Faozal yang beberapa waktu lalu diskusi bersama puluhan pelaku pariwisata di kawasan Tetebatu. (fathul/adv/r8/bersambung)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka