Ketik disini

Metropolis

Obat Leluhur Rasid Dibuat Orang Suci

Bagikan

Rasid Effendi berharap obat leluhur lebih banyak dikenal banyak orang. Tetapi itu tak mudah. Banyak tantangan, di tengah gempuran berbagai varian obat modern dewasa ini. Berikut kisahnya.

***

KAMIA� janjian sudah cukup lama. Tiga minggu lebih. Kemarin(6/12), di sebuah warung kopi akhirnya bisa bertemu dan banyak ngobrol. Nama orang ini Rasid Effendi.

Dia bukan pejabat. Tapi pria ini, memang sangat sibuk. Hari-harinya terjadwal. Dari pagi hingga petang menjelang.

Orang penting kah? Tidak juga. Hanya pedagang obat tradisional. a�?Setiap hari memang saya harus ke pasar-pasar. Hari ini (kemarin, Red) saya mau jualan di pasar Selagalas,a�? jawabnya, lalu tersenyum. Gusinya yang memucat, terlihat jelas.

Tas pundak ia lempar di atas meja. Tidak tahu apa isinya. Tapi, tanpa basa-basi, pria yang akrab dipangil Acip ini mulai bercerita.

Tapi, eits! Ah! Intonasi itu familiar sekali ditelinga. Di alam bawah sadarnya, ia rupanya sepontan mendorong gaya diwawancarai seperti tengah memperkenalkan obat pada khalayak ramai. Sempat tersenyum juga dibuatnya.

Tapi, Acip bukan pria bermental krupuk. Tak ciut sedikit pun dengan orasinya. Bahkan, hingga membuat pemilik warung, melongo sesaat. a�?Pendidikan saya sampai SMP saja,a�? ujarnya kemudian.

Ditanya jual obat apa saja? Acip tanpa sadar seperti merasa berhadapan dengan konsumen. Untung, ia bisa mengendalikan diri saat ditanya pendidikan terakhirnya. Tapi sekali lagi, Acip terlihat sangat bangga. Ia pernah mengenyam pendidikan.

“Setidaknya saya pernah sekolah,a�? ujarnya tenang.

Bibirnya meruncing, terdengar suara mendesis. Ia baru saja menyeruput kopi hitam teman ngobrol kami di pagi menjelang siang itu.

Obat yang dijual Acip kebanyakan obat herbal. Ada juga obat racikan tradisional di tambah suplemen. Ia mengklaim tidak menjual a�?obat doktera��. Sebuah istilah obat yang hanya dianjurkan penggunaanya menggunakan resep dokter. Juga berbahan kimia.

Alasannya sederhana, ia takut digugat oleh ahlinya. a�?Saya kan tidak punya ilmunya,a�? jawabnya.

Pilihan menjual obat herbal, tradisional dan suplemen, juga dapat mengurangi tekanan persaingan obat selama ini. Obat dokter juga menurutnya mudah didapat di apotek. Sementara di sisi lain, obat tradisional khususnya ramuan para leluhur perlahan mulai ditinggalkan.

a�?Padahal obat leluhur ini kan dari dulu terbukti khasiatnya,a�? ujarnya.

Karena itu, tidak adil rasanya kalau obat leluhur yang menjadi induk lahirnya obat-obat masa kini dilupakan begitu saja. Selain itu, obat leluhur nyaris tak punya efek samping. Berbeda dengan obat-obat yang selama ini disebut ampuh mengobati. Bahayanya bagi kesehatan jika salah cara memakai, tak kalah mengerikan.

a�?Cara membuat obat leluhur ini sangat sulit,a�? ulasnya.

Selain itu, prosesnya melibatkan banyak dimensi. Selain dimensi khasiat dalam arti dampak pada fisik, obat leluhur juga mampu melahirkan khasiat kesehatan bagi batin.

Karena itulah, lanjut dia, pengguna obat-obat leluhur, punya segmentasi pasar sendiri yang tidak bisa a�?direbuta�� pasar obat modern. Selalu ada saja orang yang mencari dan ingin menggunakannya.

a�?Tubuh sehat, pikiran juga tenang. Bukankah itu yang sering dirasakan saat orang menggunakan obat-obat leluhur. Beda kalau obat masa kini. Sehat sih sehat, tapi efek sampingnya, ngantuk, lemas, kepala berat,a�? katanya membandingkan.

Khasiat yang tak ada di obat modern ini, menurut Acip rahasianya ada pada proses pembuatannya. Bagi peramu obat alat-alat yang digunakan semua ramah lingkungan.

Tidak hanya itu, hati dan jiwa sang peramu juga harus suci. Belum lagi kalimat-kalimat suci (baca: mantera) yang mampu mempengaruhi energi obat. Sehingga obat itu bisa punya aura menentramkan.

a�?Yang buat obat ini (meramu) kan orang-orang yang terjaga kesuciannya dengan menggunakan mantera-mantera,a�? bebernya.

Acip mengaku sudah melalang buana ke berbagai tempat ke sejumlah pelosok nusantara ini. menjual obat herbal, tradisional dan suplemen. Modalnya, hanya sekotak obat dan sebuah speaker. Ia pernah menjelajah Pulau Bali, NTT, Sumatera, hingga Kalimantan.

a�?Kalau lagi ramai dapat Rp 400 ribu sehari, tapi kalau lagi sepi ya hanya Rp 10 ribu,a�? ungkapnya.

Itu cukup buat makan dan minum Acip sehari. Sebenarnya, dapat banyak atau sedikit bagi ia sama saja. Semua, langsung ludes hari itu. Baik untuk makan sendiri, atau bersama dengan teman-teman pedagang obat yang lain.

a�?Istri? Hmmm, ndak ada (disisihkan). Saya sudah nikah dua kali. Saat ini istri saya ada di luar negeri (TKI),a�? terangnya.

Acip juga merasa tidak perlu menyisihkan uangnya untuk masa depan anaknya. Alasannnya, ia tidak punya anak. Namun, saat ditanya modal ia saat tua nanti, Acip tercenung.

a�?Iya mungkin saya harus mulai menabung. Sebab, kalau sudah tua nanti, pasti tidak ada tenaga lagi buat berpetualang,a�? jawabnya sembari terkekeh. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka