Ketik disini

Metropolis

Optimalkan BRT, Dishub Berguru ke Kota Batam

Bagikan

KOTA BATAM – Pemprov NTB saat ini tengah gencar meningkatkan penggunaan transportasi publik untuk masyarakat. Itu diwujudkan dengan kehadiran Bus Rapid Transit (BRT) yang telah diresmikan beberapa waktu lalu. Sebanyak 25 unit BRT telah beroperasi di Kota Mataram.

Sekretaris Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) NTB Ary Purwantini mengatakan, kehadiran BRT tidak hanya untuk mengurangi kemacetan. Tetapi mengurangi jumlah korban akibat kecelakaan lalu lintas. Meski demikian, hingga saat ini masih sedikit masyarakat memanfaatkan transportasi publik tersebut. Ini karena hampir sebagian masyarakat di NTB khususnya Kota Mataram lebih menyukai menggunakan kendaraan pribadi.

Untuk itu, Dishubkominfo NTB beserta jajarannya melakukan kunjungan kerja ke Dishubkominfo Kota Batam. Karena Kota Batam sudah lebih dulu menerapkan publik transportasi. a�?Kami harapkan ilmu, saran, dan kritikan dari Kota Batam dapat diterapkan di NTB,a�? katanya, kemarin (6/12). a�?Khususnya pengelolaan transportasi di daerah,a�? tambah Ary.

Kepala Dishubkominfo Kota Batam H Zulhendri mengatakan, Batam sendiri baru menyadari penggunaan transportasi publik sekitar tahun 2013. Karena Kota Batam dikenal sebagai daerah kawasan industri. Kelancaran aktivitas para pendatang memicu terjadinya peningkatan jumlah penduduk dan pengangguran. Akibatnya, sarana dan prasarana dasar perkotaan khususnya tarnsportasi umum tidak memadai. a�?Meski ada ojek, metro trans, dan taksi itu belum memadai,a�? katanya.

Bila hal tersebut terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan Batam akan menjadi kota termacet kedua di Indonesia, setelah Jakarta. Menyadari hal itu, Batam melakukan pengembangan transportasi kota dengan menjadikan busway sebagai sentral transportasi publik.

Artinya, transportasi umum masa depan Batam adalah busway yang teratur, tepat waktu, aman dan nyaman bagi semua lapisan masyarakat Batam. Kata dia, memang tidak mudah mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum. Sehingga membutuhkan waktu cukup lama. Namun memancing masyarakat menggunakan transportasi publik cukup dengan meningkatkan kualitas pelayanan bus yang nyaman, dan aman. Kemudian, kondisi halte sebagai tempat tunggu penumpang tidak jauh dari lokasi padat penduduk. Selain itu, tarif yang tidak memberatkan bagi masyarakat. a�?Banyak pekerjaan rumah untuk mewjudkan itu, tapi semua harus dilakukan bersama-sama,a�? katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, semua dinas terkait saling bantu mewujudkan daerah bebas kemacetan. Pemerintah daerah sebaiknya harus sedikit memaksa masyarakat. Karena pola perilaku masyarakat Indonesia agak malas untuk berjalan. “Kami juga bekerja sama dengan pengusaha trans, serta memberikan pembinaan bagi operator untuk memenuhi standar pelayanan,a�? pungkasnya. (ewi/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka