Ketik disini

Feature

Sebab Perintah Agama, Toko Buku Jaya Tetap Aada

Bagikan

Dikelola kakek berumur 75 tahun, Toko Buku Jaya di pusat denyut bisnis Cakranegara, Kota Mataram, bertahan hingga kini. Bagi pemiliknya, toko buku ini adalah ladang ibadah. Jangan heran, di tengah gempuran zaman, toko buku masih eksis.

***

DI USIA yang sungguh senja, Rifai menolak mengenal kata istirahat. Maka, saban pagi, seperti biasa, dia sidah memulai aktivitas. Masih persis sama, seperti 40 tahun lalu, manakala kakek berusia 75 tahun itu memulai usaha penjualan bukunya.

Awal pekan lalu, Lombok Post menemuinya saat dia baru saja membuka toko bukunya di Jalan Pejanggik, Cakrenagara. Toko itu diberinya nama JAYA. Lokasi tokonya sangat strategis. Ada di pusat denyut kawasan bisnis Ibu Kota provinsi. Mengawali hari, satu persatu dia mulai mengelap buku-buku yang dipajang di tembok toko.

Keringat terlihat menetes dari keningnya yang mulai berkerut. Gerakannya memang mulai melambat. Namun, semangatnya masih bergelora. Seperti kala dia masih usia muda dulu.

Selesai mengelap semua buku yang dipajang, Rifai kemudian beralih membersihkan lantai. Setelah seluruhnya dirasa beres, maka dia kemudian menuju tempat duduknya. Toko siap. Dengan tangan terbuka, Rifai bersiap meyambut para pembeli buku.

Berapa banyak pembeli yang datang sehari? Tidak menentu. Tapi Rifai tak pernah mengeluh. Dia sadar, betapa usaha memang selalu ada pasang surut. Namun, dia tahu persis, bahwa usaha yang digelutinya lebih dari setengah masa hidupnya itu, tengah meredup.

Pengalaman berjualan buku selama 40 tahun menjadikan Rifai mengalami fase-fase penting sebagai penjual buku.

Masa kejayaan itu kata Rifai terjadi di era 90-an. Pada saat itu masyarakat masih gemar membaca buku. “Kalau dahulu kita punya banyak stok buku dan banyak orang yang mencari buku,” ujarnya.

Memasuki tahun 2000-an, eranya kemudian menurun. Bahkan hingga sekarang. Pembeli buku sudah semakin berkurang. Apalagi para pemain besar juga bermunculan di Mataram. Belum lagi gempuran teknologi, menjadikan orang bisa mendapat buku secara daring. Atau bisa mengunduh versi digitalnya. Soal berapa pengurangannya, Rifai tak bisa memberi angka pasti.

Kendati demikian, Rifai tetap bertahan menjadi penjual buku. “Saya ini bertahan karena perintah agama,” ujarnya.

Inilah yang selalu dipegang teguh olehnya. Agama kata dia, mengajarkan untuk selalu memegang teguh hablumminallah (hubungan dengan Allah) dan hablumminannas (hubungan dengan manusia). “Prinsip itu yang membuat saya tetap bertahan menjadi penjual buku,” ucapnya.

Menurutnya, menjual buku sama saja dengan memberikan kemudahan bagi sesama untuk mendapatkan ilmu. Maka, mengelola toko buku, adalah ladang ibadah untuknya. Terlebih di usianya yang sudah senja, apalagi yang lebih bermanfaat selain memperbanyak ladang ibadah?

Rifai mengungkapkan, saat ini berbisnis menjadi penjual buku tidak akan bisa bertahan lama jika tidak menikmati dari hati. Niat yang tulus harus ada dalam sanubari.

Jika dihitung dari penghasilan kata dia tak seberapa. Palingan bisa mendapatkan untung Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu per satu buku. a�?Itu tantangan yang dihadapi para penjual buku sekarang,a�? bebernya.

Sementara harga buku yang dijualnya bervariasi. Tergantung dari judul dan ketebalan buku. a�?Kita jual dari Rp 15 ribu hingga Rp 75 ribu.

Saat ini ia tak bisa menjual buku dengan harga mahal. Karena, peminat pembaca buku yang sepi. a�?Jika kita menjual dengan di atas Rp 100 ribu pembeli malah kabur,a�? ungkapnya. (SUHARLI, Mataram/r8/bersambung)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka