Ketik disini

Feature

Berawal dari Hobi, Berakhir dengan Syukur

Bagikan

Elex Comic Center (ECC) adalah saksi nyata, betapa mengelola toko buku di tengah gempuran teknologi canggih, tak mudah. Eksis semenjak 2010 dan menjadi primadona anak-anak hingga remaja, ECC sebentar lagi hanya akan jadi kenangan indah. Ada apa?

***

AH, toko itu. Rasanya, berat sekali melihat kondisinya kini. Bagi penggemar komik, toko buku itu bak surga. Penasaran, rindu, bertanya-tanya, hingga kesal karena seri terbaru belum terbit, tercurah di ruangan yang memanjang ke arah belakang. Itulah ECC. Toko buku di bilangan Jalan Erlangga itu kini tengah merana.

Toko buku ini cuma bisa bertahan selama enam tahun. Tapi masa jayanya sendiri hanya empat tahun. Sepanjang 2010-2014. Saat kemarin, Lombok Post mengunjungi ECC, di dalamnya memang rasa-rasanya tiada banyak berubah. Salah satu komik favorit yang boming seperti Detective Conan, masih terjejer rapi di sana.

a�?Akhir Desember nanti, sudah tutup,a�? kata seorang pegawai. Wajahnya sedikit memaksakan senyum. Tapi, hati kecilnya seperti berkata lain.

Pegawai itu nampak enggan berbincang banyak. Pemilik ECC sedang tidak ada di sana. Ia hanya sempat bilang, harus bekerja cepat. Bersama rekannya, dia tengah packing buku yang jumlahnya ribuan. a�?Tetap jualan, sembari packing-packing,a�? jawab ia kembali.

Tidak enak juga mengganggu dua pegawai yang bekerja. Mereka, memang harus tekun mengemas sisa buku yang ada. Berkejaran dengan waktu.

Dihubungi melalui sambungan telepon, Audrei, pemilik ECC mengonfirmasi bahwa toko buku itu memang akan tinggal nama di pengujung 2016. Cuma, tak ada nada sedih dari Audrei.

Tentu, bagi para penggemar komik, ECC banyak kenangan. Meski dalam perkembangan selanjutnya, ECC tumbuh menjadi toko buku besar. Lengkap dengan koleksi, True Story, Novel, Anak-anak, Remaja, Agama, Ilmu Pengetahuan dan banyak koleksi lainnya. a�?Iya kami return mas. Sekarang jual buku sudah sulit,a�? imbuh Audrei.

Awal kali merintis ECC, sebenarnya karena hobi. Audrei mengaku, sangat suka membaca buku. Terutama novel. Setelah mendapat persetujuan sang suami, ia mencoba merintis usaha dengan Gramedia. Alhasil, dengan sebuah kesepakatan Gramedia, bersedia berbagai buku-buku terbitannya untuk dijual di toko bukunya. a�?Saya semakin senang. Banyak buku di dekat saya,a�? jawabnya.

Wanita ini tak henti-hentinya terdengar tertawa kecil. Entahlah. Ia sepertinya sangat tegar dengan keputusannya mereturn buku-buku dan menutup usahanya.

Usahanya mulai meredup kala memasuki penghujung 2014. Ada yang berbeda terasa. Apalagi setelah masyarakat semakin mudah mengakses informasi melalui internet. Baik menggunakan modem atau smartphone.

Seiring perjalanan waktu, smartphone semakin canggih. Munculnya android dan sejenisnya dengan tampilan memikat dan jaringan layanan internet yang kencang. a�?Peminat toko buku mulai sepi. Anak-anak sekarang gampang dapat komik, tinggal buka internet,a�? ujarnya.

Praktis, pasaran komik mulai terkikis tajam. Sementara buku umum, saingannya cukup banyak. Sulit buat survive. Pilihan yang ada di mata Audrei tinggal satu. Return atau mengembalikan buku-buku itu pada pemilik induknya, Gramedia.

a�?Tapi buat para penggemar komik, jangan sedih. Kita sekarang punya toko Gramedia. Di sana tentu lebih lengkap. Koleksi yang ada di sini akan dipindah semuanya ke sana,a�? terangnya.

Sementara ia memilih untuk melanjutkan hobinya. Mengkoleksi banyak buku. Membaca berulang-ulang jika rindu isi dan kisahnya. Bagi Audrei, kesempatan telah menjadi bagian dari pengusaha yang mendekatkan banyak informasi bagi masyarakat kota, tentu hal yang membanggakan. Dimana, saat itu sumber informasi masih bertumpu pada buku-buku. a�?Dulu disini kan deretan (ruko usaha) buku. Buku-buku masih jarang,a�? kenangnya.

Tapi arus teknologi sudah berkembang sangat pesat. Lebih cepat dari tumbuh bayi ke remaja. Bagi, Audrei apapun itu, selalu memiliki dua sisi. Dampak positif dan negatifnya. Begitu halnya juga dengan teknologi informasi.

a�?Selalu ada ya dampak baik dan buruk. Tetapi saya melihat dampak baiknya lebih banyak,a�? jawab wanita itu.

Tinggal bagaimana manusia memanfaatkan dengan bijak. Audrei mengaku sangat welcome dengan teknologi. Meski itu, ikut membawa dampak korban pada usahanya. Namun ia tetap bersyukur. Hidup di zaman manusia yang bertumpu pada buku, mungkin tidak pernah menyangka, akan ada alat yang canggih untuk meneropong dunia lebih luas.

a�?Teknologi juga memberi kita informasi yang luas, jadi saya pikir ini lebih baik,a�? ujarnya. Lantas bagi, Audrei Apakah nasib toko buku akan sampai di sini?

a�?Saya fikir nggak ya. Sebenarnya saya juga nggak fokus kelola toko buku, karena itu pilih tutup,a�? jawab Audrei.

Ia masih yakin sebenarnya tidak semua orang suka membaca melalui laptop atau smartphone. Ada juga yang tentu, sampai saat ini meski perkembangan teknologi dan informasi sudah pesat, masih lebih suka membaca melalui buku. a�?Contohnya saya, masih suka baca buku,a�? tutupnya sembari tertawa kecil. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka