Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Investasi NTB Tumbuh 8,9 Persen

Bagikan

MATARAM – Pertumbuhan ekonomi NTB triwulan III 2016 kembali menurun, demikian pula dengan pertumbuhan sektor nontambang. Pertumbuhan ekonomi NTB triwulan III 2016 tercatat sebesar 3,47 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan perekonomian nasional yang tumbuh sebesar 5,0 persen (yoy). a�?Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan I dan II 2016 yang cenderung tumbuh tinggi,a�? kata Kepala Perwakilan BI NTB Prijono di kantornya kemarin.

Menurunnya pertumbuhan ekonomi tersebut tidak lepas dari kontraksi ekspor luar negeri. Ini, seiring dengan terbatasnya sisa kuota ekspor konsentrat tembaga pada triwulan III 2016. Sejak diberlakukannya perpanjangan izin ekspor komoditas minerba pada akhir tahun 2014, NTB telah memperoleh 4 kali termin perpanjangan izin ekspor untuk komoditas konsentrat tembaga. Kuota ekspor terakhir yang diterima sebesar 419.757 ton untuk periode Mei a�� November 2016, lebih rendah dibandingkan kuota termin ekspor sebelumnya.

Kondisi demikian berdampak pada terbatasnya konsentrat tembaga yang dapat diekspor pada triwulan III 2016. Tercatat ekspor konsentrat tembaga triwulan III 2016 turun mencapai 22,52 persen (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mampu tumbuh 40,9 persen (yoy).

a�?Perlambatan ekonomi juga terjadi pada perekonomian NTB tanpa memperhitungkan sektor pertambangan (nontambang),a�? terangnya.

Pertumbuhan ekonomi NTB non-tambang pada triwulan III 2016 sebesar 5,35 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,32 persen (yoy). Melambatnya konsumsi agregat rumah tangga plus pemerintah plus lembaga non profit yang melayani rumah tangga/LNPRT menjadi faktor utama yang menurunkan pertumbuhan ekonomi non-tambang.

Hal tersebut ditengarai karena daya beli masyarakat yang melemah, seiring dengan menurunnya pendapatan masyarakat terutama yang bekerja di sektor pertanian.

a�?Kinerja sektor pertanian yang menjadi sumber pendapatan 39 persen pekerja di NTB kembali tumbuh melambat di triwulan III 2016,a�? tambahnya.

Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan Nilai Tukar Petani (NTP) yang masih stagnan, khususnya petani padi dan palawija. Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia juga menunjukan optimisme konsumen yang menurun, yang disebabkan karena berkurangnya pendapatan.

Belanja pemerintah yang diharapkan mampu mendorong permintaan domestik, tertahan oleh adanya kebijakan penundaan Dana Alokasi Umum (DAU) dari pemerintah pusat. Sehingga mendorong pemerintah daerah untuk mengambil langkah penghematan belanja. Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak pada melambatnya pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan III 2016.

Dengan kondisi perlambatan ekonomi tersebut, dukungan terhadap peningkatan investasi diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Investasi di NTB pada triwulan III 2016 tumbuh cukup tinggi, mencapai 8,9 persen (yoy), ditopang oleh peningkatan investasi swasta. a�?Pertumbuhan investasi yang cukup tinggi dalam dua tahun terakhir ini perlu dipertahankan,a�? ujarnya.

Ia menyarankan investasi ini difokuskan pada sektor ekonomi unggulan. Salah satunya pada sektor pertanian. Investasi pada sektor pertanian diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi dan penciptaan nilai tambah yang lebih tinggi. Sehingga berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat petani NTB. Realisasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB dengan perhitungan atas dasar harga berlaku pada triwulan III 2016 mencapai Rp31,14 triliun.

Dengan pencapaian realisasi tersebut, NTB menyumbang 0,97 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional. Pertumbuhan ekonomi nasional sendiri pada triwulan III 2016 tumbuh 5,02 persen, melambat dibanding triwulan II 2016 yang tumbuh 5,19 persen.

a�?Ini disebabkan relatif terbatasnya pertumbuhan konsumsi pemerintah dan ekspor,a�? tandasnya. (nur/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka