Ketik disini

Metropolis

Penuh Semangat di Umur Seabad

Bagikan

Umur Mamiq Hasan baru saja menginjak 100 tahun. Meski sudah sangat tua, semangat kerjanya masih luar biasa. Berikut kisahnya.

***

TubuhnyaA� membungkuk. Ia berjalan perlahan memeriksa motor yang parkir di depan sebuah pertokoan di jalan Airlangga, Kelurahan Punia, Kota Mataram.

Sesekali, ia menyipitkan mata. Melihat ke arah motor yang masuk dalam area parkir tersebut. Ia kemudian tersenyum memperlihatkan barisan gigi yang kini hampir tak ada lagi.

Nama kakek renta ini namanya Hasan. Dia terbiasa dipanggil Mamiq Hasan oleh orang sekitar.

Tak hanya giginya yang sudah nyaris habis. Penglihatannya pun mulai samar-samar. Begitu juga dengan pendengarannya. Suara jauh tidak akan terdengar sama sekali olehnya.

Namun hal ini tak menyurutkan semangatnya untuk bekerja. Di usianya yang memasuki satu abad, Miq Hasan tetap bekerja. Meski kadang langkah kakinya terlihat goyah seolah tak ingin sejalan dengan badan.

Miq Hasan memulai kisahnya. Sudah 60 tahun ia bekerja sebagai juru parkir di Mataram. Ia berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Di Airlangga sendiri, ia telah bekerja selama 10 tahun hingga sekarang.

Mamiq Hasan melabuhkan pilihan terakhirnya di Airlangga, sebab dekat dengan rumahnya. Ia tinggal di lingkungan Karang Kateng, Kelurahan Punia, Kota Mataram. Ini mempermudah aksesnya menuju tempat ia bekerja.

Sejak pukul 05.00 Wita Mamiq Hasan telah bersiap-siap meninggalkan rumah. Ia bekerja hingga pukul 22.00 Wita. Tak banyak yang ia dapatkan dalam sehari. a�?Saya kerja biar bisa makan. Sehari saya bisa dapat Rp 60 ribu,a�? akunya.

Bagi orang seusianya, bekerja di tempat terbuka tentu tak wajar. Ia harus berperang dengan panas matahari dan dinginnya air hujan. Usia 100 tahun sebenarnya mengharuskan ia untuk istrirahat di rumah. Seperti lansia lainnya.

Namun apa mau di kata. Ini merupakan salah satu caranya bertahan hidup. Tak ada tempatnya bersandar lagi. Sang istri pun sudah tak memiliki daya. Ia sama tuanya seperti dirinya. Satu-satunya cara yakni dengan bekerja.

Ia tidak ingin mengemis. Baginya, selama masih bisa berdiri dan berjalan, Mamiq Hasan lebih memilih mencari bekerja. Meski terkadang risiko berat selalu mengancamnya.

Sekuat apa pun ia berjuang, ada kalanya ia pun tumbang. Terlebih lagi cuaca Kota Mataram yang sedang bercurah hujan tinggi. Beruntung ia selalu menyisihkan uang hasil menjadi juru parkir. Itu dapat membantunya membayar pengobatan dia maupun istri kala sakit.

a�?Sedikit demi sedikit disimpan untuk kita berobat,a�? pungkasnya.

Meski begitu, ia tidak pernah bersedih dengan takdirnya. Hanya saja, ia sedikit kecewa dengan anak-anaknya. Tak satu pun dari keempat anaknya memperhatikan Miq Hasan di masa tuanya. Tiga anaknya bahkan tak tahu rimbanya. Sementara satunya lagi seperti ogah-ogahan mengurusnya.

Semua ia lakukan berdua bersama sang istri. Mulai dari makan, minum, hingga berobat saat sakit. Ia tak lelah berjuang mencari uang untuk bertahan hidup. (FERIAL AYU, MATARAM/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka