Ketik disini

Metropolis

Tetap Bertahan Meski Diabaikan Anak

Bagikan

Berusia satu abad namun masih kuat bekerja. Seharusnya di usia tersebut ia duduk santai di rumah menikmati masa tua. Hidup bahagia dan rukun bersama keluarga. Namun tidak bagi Mamiq Hasan.

A�***

DiA� balik senyum sumringahnya saat menyapa orang sekitar, Mamiq Hasan punya kisah hidup yang sangat memilukan. Di usianya yang semakin tua ini, ia ditelantarkan oleh anak kandungnya sendiri.

Garis matanya yang sayu memandang jalan raya. Raut wajahnya terlihat sedih menyaksikan seorang ayah dan anak berjalan bersama di atas trotoar depan pertokoan.

Mamiq Hasan ingin seperti itu. Bisa berjalan bergandengan sambil tertawa riang. Bercengkrama bersama anak dan cucu di rumah. Namun sayangnya itu tak seperti yang dibayangkan. Pria empat anak ini justru tak diperhatikan anak-anaknya.

Pelupuk matanya mulai basah saat ia mulai bercerita sisi lain kehidupannya di rumah. Kata rumahku surgaku tak berlaku untuknya. Tak ada cinta di rumahnya.

Pagi buta, Mamiq Hasan sudah bangun. Usai salat subuh, ia bersiap-siap untuk berangkat kerja.

“Jam lima pagi saya sudah berangkat kerja setiap hari ,” akunya.

Pria asal Karang Kateng, Kelurahan Punia ini sudah tak memiliki penglihatan tajam. Untuk berangkat kerja, ia harus meminta tolong anaknya mengantar hingga depan toko yang tak jauh dari rumahnya.

Namun sangat miris, anak yang seharusnya membantunya tanpa ikhlas, justru meminta ongkos antar darinya. Itu pun terkadang dengan nada yang cukup tinggi.

“Bukannya saya ngadu tapi beginilah kenyataannya,” tuturnya sedih.

Untuk makan ia harus mencari makan sendiri. Meski hidup serumah, namun mereka makan terpisah. Mamiq Hasan hanya makan bersama sang istri, dengan menu seadanya.

Tidur pun hanya beralaskan tikar. Tikar tersebut ia beli sendiri dari uang hasil jerih payahnya sebagai juru parkir. Bahkan ketika sakit, ia harus berobat sendiri. Penderitaannya makin lengkap, karena sang istri sering sakit-sakitan.

Namun Mamiq Hasan tidak ingin mengeluh. Memang ia tidak memiliki siapapun untuk bersandar.A� Bahkan anak-anak lainnya menghilang tanpa kabar.

“Mereka merantau dan menikah disana. Setelah itu tak ada kabarnya sampai sekarang,” ungkapnya.

Mamiq Hasan memutuskan untuk tetap menjadi juru parkir. Meski penglihatan dan pendengarannya telah berkurang. Seratus tahun usianya tak menjadi alasan untuk tetap semangat bekerja. (FERIAL AYU, Mataram/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka