Ketik disini

Perspektif

Seratus Tahun Nyala Tungku

Bagikan

a�?Jika saja keinginan anak saya untuk bersekolah tidak lebih kuat dari keinginan kami di keluarga ini untuk memburuh, mungkin saja semua hal akan terlihat gelap seperti pengelihatan suamiku.a�?

***

KUTIPAN itu diterjemahkan dari Bahasa Sasak yang diucapkan Ijum (bukan nama sebenarnya), seorang ibu rumah tangga sekaligus buruh tani.

Tulisan ini tadinya akan saya simpan sebagai bagian dari catatan perjalanan studi 12 hari tentang keterlibatan anak-anak yang membantu di perkebunan tembakau. Sebab, mungkin saya, juga Anda, yang sempat tinggal atau bahkan tumbuh dari lingkungan keluarga agraris, pengalaman semacam ini adalah merupakan hal yang begitu biasa.

Saking biasanya, kita menjadi teramat akrab dengan semua itu dan tak tahu bagian mana yang mesti kita ceritakan, kita sampaikan ataupun yang harus kita dengar dari orang lain tentang sisi lain hidup mereka.

Kutipan di atas seolah meringkas gambaran hidup seorang perempuan berusia 37 tahun. Saya menemuinya untuk melakukan wawancara mendalam sesaat setelah ia menyelesaikan tugas memburuh tanam padi di tengah lahan sawah seluas 10 are milik tetangganya. a�?Maaf, membuat Anda menunggu sebab saya sudah terlanjur mengambil upah dua hari lalu, jadi hari ini harus keluar bekerjaa�? ucapnya.

Kami lantas masuk ke rumahnya yang sederhana beratap pagar bambu dan hanya terdiri dari satu kamar. Ijum tak tinggal sendiri di rumah itu, ada dua orang anaknya si Sulung laki-laki yang kini duduk di bangku kelas 2 SMA, dan bungsu perempuan yang kini menginjak bangku kelas 4 SD. Di ruang tengah, tampak suami Ijum tengah berbaring di atas sehelai kasur beralas tikar lusuh.

Sesekali laki-laki itu bangun dan meraba-raba pinggir alas tidurnya untuk mencari sesuatu. a�?Ia total tak dapat melihat sejak dua tahun lalu. Saya tak tahu sebabnya, kami sudah pernah membawanya untuk berobat ke rumah sakit daerah bahkan pernah juga ikut operasi mata gratis di salah satu RS swasta di Lombok Tengah. Tapi kata dokter tak dapat disembuhkan sebab ada syaraf yang putusa�? tutur Ijum.

Semenjak suaminya mengalami cacat permanen, sejak itu pula Ijum menjadi tulang punggung keluarga. Masa tersulit baginya ketika membutuhkan uang biaya anak sulungnya masuk SMA negeri. Ia harus mengeluarkan biaya pendaftaran sebesar 1,6 juta. Biaya yang akhirnya ia cicil selama setahun dari upah memburuh.

a�?Anak laki-laki saya nekat sekolah ke sana, tadinya saya ingin ia sekolah di yayasan swasta yang lebih dekat saja karena di sana bisa gratis, tapi anak saya bilang di sekolah itu gurunya sering alpaa�? tuturnya.

Alasan-alasan itu yang membuatnya harus tetap bertahan untuk bekerja. Termasuk ketika musim tanam tembakau tiba. Musim itu bagi Ijum adalah harapan yang cukup lama, sebab dari masa pembibitan, perawatan hingga panen berkisar enam bulan lamanya.

Masa itulah para Buruh di desa hampir tak ada liburnya. Katanya, musim tembakau itu bisa banyak hasil uangnya. Sehari upah 40.000 dari jam 6.30 pagi sampai jam 11 siang. Istirahat untuk masak dan Salat Zuhur. Lanjut lagi jam 2 siang sampai jam 6 sore. Kalau musim begelantang (mengikat daun tembakau basah untuk dioven) jam kerja Ijum semakin bertambah. Jika daun tembakau banyak biasanya dikerjakan sampai malam, dan anak-anaknya akan ikut membantunya.

Standar upah jasa begelantang daun tembakau di desa Ijum berkisar Rp 1.000 untuk 5 sampai 7 ikat hasil gelantangan. Per hari Ijum yang dibantu anak bungsunya maksimal memperoleh upah gelantang sampai Rp 55 ribu.

Sementara anak sulungnya turut membantu para buruh yang bekerja menaikkan dan menyusun ikatan daun tembakau ke atas kayu-kayu yang melintang di dalam bangunan oven, menjaga nyala perapian dan menyuplai kayu ke dalam tungku. Pekerjaan jenis ini disebut dengan istilah a�?stockera�?.

Mengingat anak sulungnya yang masih menjadi pelajar, Ijum tak mengizinkan ia bekerja menjadi stoker penuh waktu. Sebab, jenis pekerjaan itu mengharuskan terjaga sepanjang malam untuk mengontrol bahan bakar dan nyala api agar tak padam. Si Sulung hanya membantu sewaktu-waktu. Dari aktivitas membantu tersebut biasanya ia menerima upah sebesar Rp 100 ribu pada akhir proses oven daun tembakau.

Upah memburuh di musim tembakau serupa panen sepanjang musim bagi Ijum dan keluarganya. Musim itu ia dapat mengganti pinjaman uang dari Masjid di kampungnya untuk biaya sekolah anak sulung. Musim itu si bungsu dapat membeli tas, buku dan sepatu baru di pasar desa. Musim di mana dirinya dapat membeli kebutuhan keluarga serta sebagian disimpan untuk berjaga ketika peralihan musim selanjutnya.

Percakapan kami di depan tungku kayu dapur Ijum, sembari seruput kopi adalah bagian dramatis dari cara kami saling memahami. Hampir 3 jam, saya hanya mendengar perempuan itu mengalir menceritakan kisah hidupnya. Sesekali saya menyela tanya hanya untuk mendapat jawaban atas pertanyaan di lembar kertas penelitian. Dari semua yang saya tuliskan ini, masih belum cukup untuk mewakili sisi lain kehidupan Ijum dan keluarganya.

Ijum memahami, kemiskinan telah merenggut hampir seluruh kebahagiaannya, kebahagiaan keluarganya. Yang tersisa, A�hanya harapan untuk mendidik anak-anaknya.

Serupa bahan bakar yang habis di dadanya. Jika dan hanya jika seandainya nyala tungku tak padam seratus tahun, ia berharap anak bungsunya tak bernasib serupa kisah dongeng gadis penjual korek api. (r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka