Ketik disini

Feature

Ubah Kebiasaan Jual Mentah Jadi Biji Setengah Basah

Bagikan

Dari tren meningkatnya bisnis kopi, tak semuanya bisa dinikmati petani. Kedai-kedai kopilah yang memetik untung berlipat. Para aktivis di Communal Coffee berusaha memberikan solusi.

***

DERU mesin meraung dari sebuah rumah bercat putih yang berada tepat di samping Terminal Dago, Bandung, pada Minggu (11/12). Tampak seorang anak muda yang sedang meracik kopi. Aroma kopinya begitu semerbak hingga luar rumah. Begitu masuk rumah, bau harumnya kian menggugah selera.

Angga Sulistia, anak muda itu, sedang menggerus biji kopi, lalu menyeduhnya dengan cara yang berbeda. Dia menggunakan gelas besar yang mirip dengan tabung laboratorium. Di atas gelas besar itu, diletakkan selembar tisu. Lantas, biji kopi yang sudah menjadi bubuk tersebut ditaruh di atasnya. a�?Hampir jadi ini kopinya,a�? ujar laki-laki kelahiran 1985 itu.

Kemudian, dia mengambil teko kecil berwarna silver yang berisi air panas. Dia menuangkan air panas itu ke atas bubuk kopi. Air berwarna cokelat mengucur lembut ke dalam gelas besar. Sejurus kemudian, kopi sudah tersaji di gelas. Kopi itu sama sekali tidak diberi gula atau pemanis lain. Slurrp. Begitu dicicipi, ternyata kopi tersebut begitu nikmat. Rasanya agak menyengat. Begitu dikumur-kumur, ada rasa manis yang muncul.

Saat ditanya dari mana rasa manis itu, Angga langsung tersenyum. a�?Memang kopi berkualitas itu sudah mengeluarkan rasa manisnya sendiri. Tak perlu gula. Tak perlu tambahan apa pun. Hanya kopi,a�? paparnya.

Angga menceritakan, rumah putih tersebut menjadi base camp untuk komunitasnya, yakni Communal Coffee. Sebuah kelompok roaster atau semacam peracik kopi. Ada beberapa anggota inti Communal Coffee. Di antaranya, Angga, Linggo, Agus Samroni, Alan, Jaja, Maman, Dewa, Juhe, Pak RW, dan Apih. a�?Kopinya kami dapat langsung dari petani,a�? ujar Angga.

Namun, Communal Coffee bukan semata-mata bisnis. Ternyata, hampir semua anggota Communal Coffee merupakan aktivis. Mereka membentuk Communal Coffee sebagai salah satu cara untuk membantu petani. a�?Awalnya, kami ini banyak mendampingi petani yang bersengketa tanah,a�? tutur Angga.

Begitu petani mendapatkan tanahnya, ternyata masalah yang lebih besar muncul. Tanah itu tidak subur atau bisa jadi malah petani terus merugi karena harga hasil panen murah sekali. Alhasil, petani gagal. Tanah pun malah dijual. a�?Yang seperti ini membuat kami kepayahan,a�? ungkapnya.

Mau tak mau, upaya Angga dan kawan-kawan untuk meningkatkan kesejahteraan petani tidak bisa berhenti setelah mendapatkan tanah. Karena itu, mereka mulai menggagas Communal Coffee. Salah satu tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan petani melalui kopi. a�?Bagaimana caranya bisa hidup dari kopi?a�? kata Angga, lalu tertawa.

Pilot project mereka berada di kampung petani Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat. Ada tanah seluas sekitar 20 hektare yang dikelola secara bersama oleh Communal Coffee, yang anggotanya juga ikut kelompok tani Berdikari yang aktif sejak 2009. a�?Kami kelola semua bersama, hasilnya dibagi bersama,a�? papar Angga.

Setelah meraba-raba bisnis kopi, mereka menyadari bahwa alurnya mirip piramida. Petani yang merupakan hulu bisnis kopi mendapatkan keuntungan paling kecil. Roaster yang berposisi di tengah mendapatkan keuntungan lebih besar. End user kopi atau kedai-kedai kopilah yang mendapatkan keuntungan berlipat. a�?Kami pun pelajari sistem ini, apa yang perlu diubah,a�? ungkapnya.

Ternyata, salah satu hal yang membuat petani mendapatkan keuntungan paling cekak adalah menjual langsung dalam bentuk buah ceri atau coffee cherries. Kalau dijual dalam bentuk buah, harganya hanya Rp 6 ribu per kg. a�?Untungnya hanya Rp 2 ribu atau Rp 3 ribu,a�? paparnya.

Kebiasaan petani itu harus diubah. Communal Coffee mulai mengenalkan proses membuat biji kopi menjadi green bean atau biji kopi setengah basah. Per kilogram green bean bisa dijual petani seharga Rp 75 ribu. a�?Harganya naik drastis, tapi harus melalui rangkaian proses yang rumit,a�? terang dia.

Untuk menghasilkan green bean, biji kopi diproses melalui beberapa tahap, mulai perendaman, pengupasan, fermentasi, hingga penjemuran. a�?Satu per satu cara itu harus diajarkan kepada petani,a�? terangnya. Salah satu petani yang paling getol belajar adalah Dewa. Dia saat ini menjadi anggota Communal Coffee. Angga menuturkan, kesulitan demi kesulitan dilalui demi mengembangkan kopi sejak 2009. a�?Percobaan sering kali gagal,a�? ujarnya.

Bukan hanya itu, pada pertengahan 2016 Communal Coffee membuat kompetisi kualitas kopi dari setiap biji yang diolah petani. Semua petani ikut acara tersebut dan melihat bagaimana kopi yang ditanam sendiri diracik Communal Coffee. a�?Ada salah satu petani yang merasakan sendiri hasil kopinya,a�? tuturnya.

Saat itu Communal Coffee menilai kopi olahan petani tersebut kurang sempurna. Tapi, petani itu justru merasa kopi yang ditanamnya sudah nikmat. a�?Udah enak kok,a�? ujar Angga, menirukan petani tersebut. Angga saat itu menjelaskan, setelah di-roasting atau diproses, kopi yang dihasilkan terlalu asam. Sang petani pun langsung mengeluh. a�?Lalu, bagaimana dua hektare kopiku itu?a�? lanjut Angga, menirukan si petani. Communal Coffee tentu berupaya menemukan cara untuk memperbaiki kualitas kopi tersebut.

Dengan kegigihan, lambat laun hasilnya mulai terasa. Kopi yang dibuat dari green bean mulai menunjukkan kualitas. Communal Coffee, yang mengelola sekitar 20 hektare tanah, mulai bisa menjualnya ke pasaran. a�?Petani yang ikut kelompok ini kami beli bijinya Rp 75 ribu,a�? ujarnya.

Dengan kerumitan pembuatan biji kopi menjadi green bean, biaya produksi meningkat. Tapi, bila dibandingkan dengan untungnya, jauh sekali. Untuk Rp 75 ribu, petani untung Rp 15 ribu. a�?Jauh beda dengan menjual buah yang untungnya hanya Rp 2 ribu atau Rp 3 ribu,a�? ungkapnya.

Setelah hasil mulai terlihat, banyak petani yang melirik Communal Coffee. Mereka ikut bergabung. Saat ini ada 38 petani yang menjadi anggota Communal Coffee. a�?Petani menjual green bean, kami meraciknya menjadi biji kopi siap saji. Lalu dijual ke kedai. Sudah ada sekitar 16 kedai di Bandung, Sumedang, dan Tasikmalaya yang dipasok Communal Coffee,a�? paparnya.

Agus Samroni, anggota lain, menuturkan, dari kopi itu, akhirnya kesejahteraan banyak petani membaik. Contohnya Kang Dewa, salah satu anggota Communal Coffee. Dia tahun ini akhirnya bisa menyekolahkan anaknya di sebuah universitas. a�?Dulu di kampung ini anak yang kuliah malah tidak ada,a�? ujarnya.

Saat ini Communal Coffee berupaya kembali menginventarisasi jumlah lahan dan petani yang menanam kopi. Ke depan, perbaikan manajemen dilakukan. Harapannya, kesejahteraan petani menjadi lebih baik. (ILHAM DWI WANCOKO, Bandung/c11/oki/JPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys