Ketik disini

Metropolis

Ingin Dirikan Museum Paper Art Pertama

Bagikan

PENAMPILANNYA sederhana, tapi punya jiwa seni tinggi. Dialah Theo Setiadi Suteja. Warga Ampenan Selatan ini memiliki jiwa seni tinggi. Itu teraktualisasi dalam tampilan rumahnya di Jalan Energi, Ampenan Selatan.

Ukiran menghiasi tembok pagar rumah berwarna cokelat itu. Pintu gerbangnya seperti kerajaan dengan dua patung di depannya. Uniknya, pintunya berbalut kertas dengan corak campuran khas Bali dan Sasak.

Rumah berlantai dua itu dipenuhi benda-benda yang terbuat dari kertas. Ada meja dengan model peta Lombok, kursi ukiran mirip kayu, topi cowboy, dua bilah pedang kertas, dan bermacam souvenir kertas lainnya. Lebih kurang 200 jenis produk berbahan dasar kertas terdapat di rumah yang memiliki luas 3 are itu.

Pada sisi depannya terdapat taman yang tertata rapi. Satu berugak terpasang sebagai tempat santai dan berdiskusi.

Sudah dua tahun Theo menjalankan aktivitasnya mendaur ulang sampah menjadi kerajinan bernilai tinggi.

“Saya terinspirasi dari banyaknya limbah kertas yang terbuang begitu saja dan mencemari lingkungan,” kata alumnus Universitas Maha Saraswati, Denpasar itu Rabu (14/12) lalu.

Lebih kurang 2 ton sampah sudah didaur ulang menjadi benda-benda berharga. Sebagian karya seninya dibeli wisatawan mancanegara yang datang langsung ke rumahnya. Ayah tiga anak itu menamakan rumahnya sebagai The Griya Lombok.

Saat itu, Theo sedang mengerjakan kursi pesanan. Sejumlah kertas direndam dalam dua bak. Kertas-kertas itu selanjutnya dibentuk sedemikian rupa dan dikeringkan. Dia mengandalkan panas matahari untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Untuk membuat satu kursi dia membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Tapi tidak dengan kerajinan tangan lainnya, seperti asbak, souvenir, tempat sampah, dan tempat tisu.

“Tergantung jenis produknya. Kalau meja ini saya buat dalam waktu 1,5 bulan dan saya bandrol seharga Rp 10 juta,” ungkapnya sambil menunjuk meja berbahan kertas karyanya.

Tidak sedikit mahasiswa dan pelajar yang datang menimba ilmu dari mantan aktivis Walhi ini. Keramahan Theo juga setidaknya menjadi daya tarik tersendiri. Hanya saja, Theo tidak begitu saja menerima pesanan dalam jumlah besar.

Dia justru ingin menularkan bakatnya kepada semua orang. Caranya, para pemesan harus menyediakan bahan baku kertas berikut tenaga kerjanya. Dengan begitu, secara tidak langsung dia menularkan pentingnya kepedulian masyarakat terhadap pengolahan limbah.

Contohnya, untuk satu unit meja membutuhkan 40 kilogram kertas. Jika pemesan membutuhkan 10 unit meja, maka membutuhkan 4 ton limbah kertas. Dengan begitu, satu persoalan terkait sampah kertas dapat teratasi. Bahkan akan menarik tenaga kerja untuk mengerjakan secara bersama-sama. Hasilnya pun akan dinikmati bersama dari hasil penjualan produk.

“Kalau sekarang yang termurah kisaran Rp 50 ribu dan termahal Rp 15 juta seperti kursi ini,” ungkapnya.

Ke depan, Theo yang kini berusia 51 tahun berencana membuat Museum Peper Art pertama di Indonesia bahkan di dunia dengan 5 ribu produk yang dipajang. Dia optimistis upayanya dalam mendaur ulang limbah kertas dapat meminimalisasi kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh sampah.

Dia juga bertekad menularkan ide dan kreativitasnya itu kepada generasi penerus sehingga kedepannya Indonesia bebas sampah pada 2024. Meski kerap mengikuti pameran, tapi dia tetap berharap ada perhatian pemerintah NTB minimal dengan mengajaknya mengikuti pameran tingkat nasional.

Kini, dia berupaya menambah jumlah produknya. Selanjutnya hasil karyanya akan dilelang untuk didonasikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Theo yakin apa yang dilakukannya memberikan inspirasi bagi generasi penerus.

“Yang penting tidak menjadi plagiator, tapi semakin banyak yang mencontoh karya saya, maka semakin berdampak positif terhadap lingkungan,” tegasnya. (*/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka