Ketik disini

Oase

Mayoritas yang Minoritas

Bagikan

SIAPAKAH yang mayoritas? Hingga akhir abad ke-19 para pendatang Bali yang berjumlah kurang dari sembilan persen mampu mengendalikan sebagian besar daratan  Lombok yang dihuni mayoritas Sasak.

Minoritas ini berkuasa sekitar satu setengah abad sebelum akhirnya digulingkan oleh kelompok yang jumlahnya jauh lebih kecil. Yakni, Belanda di tahun 1894 dan Jepang pada 1942. Bahkan dua kelompok terakhir berkuasa dengan jumlah kurang dari tiga persen dari total penduduk.

Mayoritas dalam jumlah tak selamanya menjamin sebuah kelompok menang dalam perebutan kekuasaan. Kelompok-kelompok minoritas di atas misalnya mampu berkuasa karena mayoritas dalam kualitas.

Masyarakat Bali yang ditaksir datang di pesisir barat Lombok di permulaan abad 17 bukan hadir dengan tangan kosong. Boleh jadi mereka tiba dengan keunggulan dalam kualitas ilmu pengetahuan, strategi perang, budaya, senjata, perekonomian dan tentu saja kekompakan. Jepang juga demikian ketika mengusir Belanda dari kepulauan Nusantara.

Terlebih dalam sistem demokrasi “campur sari” seperti di Indonesia dewasa ini.  Mayoritas dan minoritas punya hak setara dalam bertarung merebut kuasa.  Undang-undang menjamin itu.

Ahok, contohnya. Dia bukan Jawa, dia wakil minoritas Tionghoa, Kristen pula. Sebagai pendatang dari Belitong dia sempat berkuasa di Jakarta, ibukota negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.  Dalam konteks demokrasi Indonesia tentu tak ada yang salah dengan ini semua.

Bahkan pada Pilkada DKI mendatang Ahok kembali mencoba peruntungan. Boleh saja ia datang dari minoritas yang kecil dari segi jumlah penduduk. Tapi dalam satu dan lain hal, komunitas Tionghoa dimana Ahok berasal adalah  mayoritas dalam hal perekonomian di Ibukota.

Tengoklah daftar 10 besar orang terkaya di republik ini, merekalah penguasanya. Karena itu dalam demokrasi ini sah-sah saja dukungan orang-orang kaya ini menumpuk pada Basuki. Pun demikian ketika orang-orang  Betawi Muslim  berkumpul di Silang Monas dan mengajak sejawatnya untuk tak pilih Ahok sebagai pemimpin bukan hal yang terlarang. Bukankah ini juga demokrasi!

Tapi praktiknya tak pernah sesederhana itu. Telebih ketika menyangkut  orang-orang sejenis Basuki. Bumbu-bumbu purbasangka selalu lebih kental. Muslim-Non Muslim, Pribumi-Non Pribumi, Mayoritas-Minoritas diungkit dihembuskan, dikipas-kipas.

Lalu para buzzer bekerja memenuhi lini massa. Sumpah serapah, adu fitnah meski belum pernah bersua. Kegaduhan yang dilindungi atas nama demokrasi. Media-media utama juga tak kurang ributnya.  Alam demokrasi meyuburkan percik api dari sasus-sasus yang berseliweran di jejaring sosial. Rakyat awam dibakarnya.

Apakah pelakunya kelompok Mayoritas? Belum tentu. Media memungkinkan orang menggunakan topeng-topeng tetentu. Bahkan para politisi kerap memfitnah diri untuk memfitnah lawan politik, ini adalah jurus lazim di masa pemilu.

 Jadi Siapakah pribumi?

Rasanya tak adil, mempermasalahkan orang-orang non pribumi tapi tetap menikmati hasil budaya mereka. Mobil, komputer, kertas, listrik, telepon, Facebook dan lainnya datang dari budaya luar. Bahkan lima agama utama Indonesia tak satupun yang asli Nusantara.  Mereka diimpor dan diadaptasi.

Akulturasi budaya itu juga kerap kita temukan di atas meja makan. Semisal dalam semangkuk bakso yang kita nimati selepas hujan. Ia adalah bukti kecil pengaruh-pengaruh luar itu bertemu, berpadu dalam diam dan menjalankan apa yang digembar-gemborkan politisi itu sebagai kebhinekaan.

Pentol bakso telah ratusan tahun bermigrasi ke nusantara dari laut China selatan. Sejak itu ia telah berbaur beranak pinak dengan masakan pribumi. Hasilnya ragam turunan baik resmi maupun hasil perselingkuhannya telah lahir.

Batagor misalnya. Bola-bola bakso yang habitatnya dalam sup kuah berduet di atas wajan dalam minyak panas bersama tahu. Setelah itu ia dipertemukan beberapa pendamping seperti kentang rebus, pare dan diguyur saus kacang. Ada juga bakso cilok yang hanya dicocol saus tomat.

Bakso juga tak melulu dari daging, adaptasinya dengan budaya pesisir nusantara menghasilkan ragam bakso ikan, udang, kepiting dalam berbagai bentuk dan ukuran. Bahkan di berbagai daerah bakso telah diklaim sebagai makanan has semisal bakso khas Lamongan, Bakwan Malang, Bakso Lapangan Tembak Senayan dan lainnya. Demikian halnya mie kuning dan bihun. Dunia bersepakat itu produk budaya Cina.

Tapi apa jadinya mangkuk bakso tanpa bola-bola bakso dan mie tersebut?  Tinggallah kuah dan ragam bumbu. Kecap juga bukan pribumi asli, ada darah Cina dalam dirinya. Seperti mie dan bakso leluhur kecep datang dari tradisi Tionghoa. Lalu orang-orang di pesisir utara Jawa mengembangkanya hingga kini.

Jika demikian sipakah yang tersisa dalam mangkuk itu? Boleh jadi ada kuah daging, saus tomat dan sambal? Tapi apakah mereka asli Nusantara? Lalu bagimana jika dia daging sapinya diimpor dari Australia.  Dan soal sambalnya, siapa bilang  cabai asli Indonesia? Cabai adalah tanaman asli Benua Amerika yang tiba bersama kedatangan orang-orang Portugis dan Spanyol ke Nusantara.  Jadi siapakah yang Pribumi?  (r8)

Penulis : Zulhakim, tinggal di Ampenan

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka