Ketik disini

Headline Metropolis

Ancaman Bencana Masih Panjang

Bagikan

Musim hujan telah tiba. Tapi bagi kota, hujan kali ini tak ubahnya mendulang bencana. Ancaman tidak hanya datang dari drainase yang tersumbat dan sedimentasi sungai yang menebal.

***

BANJIR Sabtu (10/12) lalu benar-benar menampar keras wajah pemerintah kota. Puluhan titik di Kota Mataram tiba-tiba berubah jadi kolam. Tinggi air bervariasi. Dari paling rendah setinggi lutut. Hingga ada yang mengaku terendam hingga sedada orang dewasa. Kerugian materi ditaksir bermiliar-miliar rupiah.

Dari talud-talud yang ambrol, proyek seperti hutan kota yang raib hampir separuh, rumah warga yang jebol sampai hanyut. Hingga peralatan eletronik milik warga yang sudah pasti terendam hingga ikut terbawa arus. Miris!

Jauh-jauh hari, persoalan drainase dan sedimentasi menebal memang sudah banjir kritik. Tetapi pejabat rupanya hanya menjawab normatif saja. Dari soal anggaran tidak tersedia, hingga kata a�?nantia�? yang tak kunjung terealiasi.

Hujan pun turun. Banjir yang awalnya hanya berupa genangan-genangan kecil, tak diindahkan.A� Lagi-lagi pejabat menjawab normatif.

a�?Tapi itu cepat surut kok,a�? kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Mataram Mahuddin Tura beberapa waktu lalu. Meski ia juga mengaku memang ada persoalan konektivitas antara saluran primer dan tresier drainase kota.

Hujan lebih deras di hari-hari selanjutnya kembali turun. Puncaknya Sabtu lalu. Walau sebelumnya, Wali Kota H Ahyar Abduh sudah bergerak cepat dengan a�?membangunkana�� tim terpadu penanggulangan bencana bergerak, segera bergerak sesuai tugas dan fungsinya.

Tim ini terdiri dari sejumlah SKPD yang memiliki petugas lapangan. Di antaranya Dinas PU, Kebersihan, Pertamanan, BPBD hingga satpol PP dan Linmas dilibatkan. Mereka diminta siap sedia 24 jam. Memberi pertolongan cepat jika terjadi ancaman bencana susulan.

a�?Tidak hanya banjir, tetapi saya juga meminta mereka untuk mengatasi persoalan bencana lain. seperti pohon tumbang, longsor dan ancaman lainnya,a�? kata Ahyar.

Ia menambahkan inilah langkah taktis yang bisa dilakukan saat ini. Menurutnya penanganan banjir memang tidak bisa dilakukan instan. Tetapi membutuhkan langkah-langkah besar. Di antaranya membangun embung atau waduk. Untuk menampung air, jika terjadi luapan air besar.

a�?Itu yang mau kita kerjakan tahun depan. Embung Babakan. Jadi kalau ada air besar lagi, luapannya tidak sampai melubar ke rumah warga, tetapi masuk ke embung,a�?A� terang Ahyar.

Besar embung diperkirakan mencapai 1,4 hektare (ha). Dengan kedalaman 4-5 meter. Sehingga mampu menampung air higga 60 ribu meter kubik. Hanya saja, Ahyar mengakui kelemahan dari niat mewujudkan embung ada pada anggaran yang dimiliki sangat terbatas. Jika politik anggaran mendukung penuh pembuatan embung, maka tentu ada banyak program kerja lain, harus dikorbankan.

a�?Karena itu saya tengah berusaha agar ada keterlibatan pemerintah pusat dan provinsi dalam mewjudukan embung ini,a�? terangnya.

Tapi semua seperti terlambat. Sabtu (10/12) lalu, hujan seperti mengamuk. Tidak hanya turun di Kota Mataram. Tetapi daerah tertangga, seperti Lombok Barat diguyur berjam-jam. Dengan intensitas hujan tergolong tinggi. Akibatnya, sungai-sungai besar yang membelah kota, seperti Unus, Ancar dan Jangkuk diterjang luapan air besar.

a�?Luapan air terjadi juga di sungai-sungai kecil seperti Sungai Berenyok,a�? kata Zaini, warga Sekarbela.

Luapan air Sungai Berenyok yang berada persis di belakang rumahnya itu bahkan hingga merenggut nyawa keponakannya, Muhammad Sultan. Saat itu, mereka tengah berusaha menghindari arus pendek aliran listrik ke air yang sudah setinggi perut.

Tapi nahas. Saat mengecek sambungan yang lain, Sultan justru tersengat di belakang rumah. Hingga menghembuskan nafas terakhir dan tenggelam berjam-jam lamanya.

A�

Banjir Kiriman

Sementara itu, Sekda Kota Mataram Effendi Eko Saswito mengatakan banjir yang terjadi lebih besar disebabkan oleh air kiriman luar kota. Kondisi geografis kota yang memang lebih rendah posisinya dari daerah tetangga membuat aliran air banyak yang masuk ke kota. Belum lagi, tiga sungai besar yang alirannya juga bermuara dari Lombok Barat.

a�?Jadi saya katakan itu banjir kiriman,a�? terangnya.

Eko mengaku yakin itu banjir kiriman. Setelah melihat fenomena air tetap tinggi, meski hujan telah berlalu. Bahkan ia menyebut debit air semakin besar.

a�?Kita memang tidak bisa berbuat apa-apa,a�? terangnya.

Saat ia dan beberapa SKPD teknis lain turun langsung ke lapangan meninjau banjir yang merendam kota. Tindakan yang bisa dilakukan hanya melakukan evakuasi pada warga. Sedikitnya 300 warga, dibawa mengungsi ke tempat-tempat yang lebih tinggi. Lalu diberikan bantuan nasi bungkus, matras dan selimut.

a�?Hujan memang turun sejak sore, jadi saya langsung minta ada bantuan distribusi logistik untuk warga,a�? terangnya.

Sampai hari ini, musim penghujan telah mengundang sedikitnya tiga jenis bencana bagi Kota Mataram. Dari tanah longsor, banjir, pohon tumbang. Bahkan sempat juga, kota diamuk angin cukup kencang. Untungnya tidak ada kerusakan berarti pada saat itu.

a�?Warga saya himbau tetap waspada, ada beberapa potensi bencana yang harus diwaspadai. Diantaranya pohon tumbang,a�? Kata Kepala BPBD Kota Mataram Dedy Supriady, mengingatkan.

Kini, satu minggu pascabanjir, hujan memang nyaris tidak turun lagi. Warga kota, bisa bernafas lega, karena belum ada ancaman banjir yang akan kembali menerjang. Tetapi Kepala BMKG Stasiun BIL Ot Oral Sem Wilar mengatakan, hujan dengan intensitas tinggi ini diramalkan tetap akan terjadi selama musim penghujan. Bahkan cendrung lebih lebat ke depannya.

Hal ini disebabkan adanya perubahan iklim, dari El Nino menjadi La Nina. Jika di tahun sebelumnya curah hujan rendah karena suhu permukaan air laut relatif lebih dingin.

a�?Berbeda sekarang kebalikannya yang terjadi yakni La Nina,a�? terangnya.

Akibat perubahan iklim ke La Nina, suhu permukaan laut menjadi lebih panas. Proses penguapan lebih tinggi. Lantas mendorong curah hujan tinggi. Bahkan, lebih sering. Namun puncak yang patut diwaspadai yakni pada bulan Februari.

a�?Di sana menurut ramalan BMKG, puncak hujan,a�? terangnya.

Masa transisi hujan ke kemarau diperkirakan terjadi pada bulan April. Namun, ini masih bersifat ramalan sementara. Sebab bisa saja, musim penghujan ternyata lebih pendek atau lambat.

a�?Tergantung dari keadaan atmosfer bumi,a�? tandasnya. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka