Ketik disini

Giri Menang

Bikin Harga Sapi Melonjak Tinggi

Bagikan

Sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas hasil panen, para petani di Lombok Barat menggelar tradisi malean sampi. Seperti apa pelaksanaan tradisi turun-temurun ini?

***

TRADISIA�A�malean sampi bukan lomba alias adu pacu sapi. Jika umumnya karapan sapi bertujuan untuk lomba.A�Namun kerapan sapi yang satu ini, dikonteskan untuk meningkatkan nilai harga jual sapi.

Memang betul. Selain dihajatkan sebagai wujud rasa syukur sudah selesai panen dan menyambut musim tanam baru. Tradisi ini juga mampu mengangkat nilai jual sapi.

Aturannya, sapi pemenang harganya bisa melambung tinggi. Jika harga sapi normal di kisaran Rp 15 juta. Biasanya para saudagar berani membeli sepasang sapi pemenang pada tradisi malean sampi ini seharga Rp 30-35 juta. Bahkan bisa menembus Rp 75 juta. Untuk satu ekor sapi saja.

Pada tradisi malean sampi ini sama seperti karapan sapi pada umumnya. Dua ekor sapi diikat pada alat pembajak sawah. Ditunggangi joki yang tangguh dan berpengalaman. Kemudian dikonteskan.

Nah pada tahap kompetisi, jika kerapan sapi yang dinilai kecapatan. Pada tradisi malean sampi ini sepasang sapi hanya dituntut berlari melewati jalur lurus yang sudah ditentukan oleh panitia penyelanggara.

Nah, sapi yang larinya paling bagus, tak berbelok keluar sebagai pemenang. Dan pastinya sangat diburu oleh saudagar.

Sayangnya, seiring perkembangan zaman tradisi malean sampi mulai bergeser maknanya. Kini tidak hanya sekadar rasa syukur hasil panen. Ada juga masyarakatA� Lobar yang menggelar tradisi ini sebagai rasa syukur pernikahan atau pun sunatan.

Seperti yang digelar oleh keluarga H Daleman Alfari di Dusun Jejati, Desa Dasan Baru, Kecamatan Kediri, Minggu (19/12) lalu. Ia menggelar tradisi turun-temurun itu untuk membayar nazarnya. Telah menikahkan anak kesayangannya dengan lancar.

Joki yang diundang pada malean sampi kali ini pun cukup banyak. Ada sekitar 17 peserta. Berasal dari Kecamatan Narmada, Dusun Tanak Kepok, dan sebagian dari Desa Langko.

a�?Ini bukan lomba, tapi lebih karena kegemaran dan kesenangan kami. Terutama menjalin silaturahmi,a�? kata H Daleman Alfari warga Dusun Jejati, Desa Dasan Baru sekaligus yang punya gawe.

Sementara salah seorang peserta malean sampi, Zaini mengungkapkan, penyelanggaran tradisi malean sampi ini dulunya di gunakan oleh orang tua terdahulu sebagai alat untuk meratakan tanah. Namun kini dilakukan lebih karena kegemaran dan melestraikan tradisi.

Selain itu, kata dia, pastinya dengan tradisi ini pun harga jual sapi bisa meningkat dua kali lipat bahkan tiga kali lipat.

Jika normalnya seekor sapi dihargai Rp 15-17 juta. Sapi yang juara pada tradisi malean sampi ini naik harga dikisaran Rp 30-50 juta. “Kalau ada sapi yang harganya kurang bagus, setelah ikut malean bisa jadi rebutan,a�? ucapnya. (M Zainuddin, Giri Menang/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka