Ketik disini

Headline Metropolis

Kalau Pecok, Jangan Nangis!

Bagikan

Seni bela diri sekaligus permainan presean terus menghadapi gempuran zaman. Sempat mau dihapus pada masa Plt Wali Kota Putu Selly Andayani, presean kini terancam regenerasinya. Seperti apa kenyataan di lapangan? Berikut laporannya.

***

TEKNOLOGI melesat bak anak panah. Meluncur cepat mengoyak-ngoyak budaya. Anak-anak kecil saat ini mungkin hanya segelintir saja yang masih tahu warisan budaya leluhur.

Jangan tanya ke mereka apa itu, cepring, manuk kumbur, cuklit, belanjakan dan segelintir permainan tradisional lainya. Itu sama saja, menanyakan teori limit fungsi dan alogaritma, pada anak TK!

Untung saja masih ada sedikit kepedulian. Walau itu masih terhitung secuil. Karena itu, jika anda bertanya tentang apa itu presean atau gangsing, misalnya. Maka mereka akan menjawab semudah mengoprasikan smartphone.

a�?Ayo pukul!a�? teriak seorang remaja.

Ia tengah meladeni serangan-serangan mematikan, bocah yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Meski masih bocah ingusan, tapi anak dengan nama lengkap Muhammad Rifki itu tak bisa dianggap enteng. Pukulannya terdengar keras.

Blllleeet!

Beberapa orang yang menonton tertawa lebar. Pria yang meladeni Rifki dengan duduk jongokok itu, mengelus-elus punggungnya. Ia baru saja terkena sabetan, penjalin (rotan, Red) Rifki. Layaknya pemain profesional, bocah itu mundur beberapa langkah. Mengatur jarak. Ia lalu melakukan sejenis tarian kemenangan!

a�?Laseng kanak tie, ye biase. Wah terlatih. Angkaq parap ite, gitaq iye presean kance pade umur ne (anak itu, sudah biasa. Makanya kita takut lihat dia presean dengan yang seumuran),a�? terang Mustakim, pria yang menemani Lombok Post berbincang dan menonton Rifki latihan, kemarin(19/12).

Mustakim baru saja menjelaskan, jika bocah itu memang sudah terlatih. Orang pasti khawatir jika ia harus dipertandingkan dengan anak seusianya.

Rifki terlalu jago. Kerap kali bocah ini, diajak nonton presean bahkan bertanding di kelas anak-anak. Bocah ini selalu menang. Bagaimana tidak, pukulannya keras dan telak. Tangkisan pun cepat.

Ende (perisai, Red) sebesar tubuhnya diangkat enteng. Benar! Bocah itu sangat terlatih. a�?Pepadu!” jawab bocah itu ketika ditanya cita-citanya.

Ya, bukan ingin jadi dokter, polisi, TNI atau cita-cita kebanyakan anak masa kini. Rifki ingin meneruskan jejak sang ayah yang juga atlet presean.

Bukan perkara mudah. Tapi untung, di dalam tubuhnya mengalir darah seorang pendekar. Gen pepadu yang didapat dari mendiang sang kakek, rupanya menjadikan ia sangat menggandrungi olah raga ekstrim ini.

a�?Dia memang biasa, diajak ayahnya menonton presean,a�? timpal Mustakim.

Beberapa pertanyaan lain yang diarahkan padanya, dijawab dengan diam dan senyum oleh Rifki. Ia hanya menyelingi dengan sedikit tawa kecil. Begitu juga saat ditanya apakah dia pernah merasa takut saat bertanding. Bocah itu, hanya menggeleng. Tetapi kemudian mengangguk.

a�?Kalau takut, semua orang pasti ada rasa takut. Sehebat apa pun dia. Cuma bedanya ia berhasil mengalahkan rasa takutnya,a�? kata Mustakim membantu menjelaskan maksud gerakan isyarat dari Rifki.

Filosofi perang juga demikian. Semakin berhasil orang menaklukan rasa takutnya, maka semakin dekat dia dengan kemenangan. Begitu ungkapannya.

Untungnya, bocah itu melihat presean layaknya permainan pada umumnya. Seperti lompat karet, bagi anak-anal wanita. Jadi pilihannya bukan a�?takuta�? atau a�?berania�?. Tapi a�?maua�? main atau a�?tidaka�?.

a�?Jadi dia merasa sedang bermain-main saja. Ayahnya selalu bilang kalau kena, jangan pernah nangis, toh ini hanya permainan,a�? tuturnya.

Jadilah Rifki tidak pernah merasa takut bilet atau pecok. Bilet adalah memar karena pukulan penyalin. Sedangkan, pecok adalah kepala yang berdarah karena sabetan penjalin.

a�?Ndak pernah sih dia pecok. Ya namanya pukulan anak-anak, paling seberapa keras sih. Tapi kalau bilet, sudah pasti. Tapi anak itu kebal,a�? ujarnya lalu terkekeh.

Rifki adalah salah satu anak yang masih memilih memegang penjalin dan ende. Dari pada bermain smartphone, gadget dan game-game lain.

Bersama anak-anak bocah lainnya, Rifki di lingkungan Rungkang Jangkuk, sering berlatih bersama. Menggunakan apa pun untuk presean. Dari penjalin, kain, kayu hingga pelepah pisang dijadikan senjata.

a�?Sebenarnya di daerah ini banyak pepadu. Sayang memang belum punya paguyuban sendiri. Justru banyak pepadu sini yang kerap disewa untuk memperkuat tim luar, hingga ada yang disewa ke Lombok Tengah hingga Lombok Timur,a�? tuturnya.

Iya! Potensi ada. Sayang, belum ada sentuhan pemerintah. Seandainya, daerah peka melihat potensi ini, mau mengelola atlet-atlet presean, bukan tidak mungkin akan muncul jago-jago presean di sana.

Tapi ini sepertinya harus kandas sampai khayalan saja. Warga Rungkang Jangkuk hanya bisa membuat turnamen secara swadaya untuk memupuk dan mencari bibit-bibit unggul.

a�?Ya kalau ada waktu kita berikan contoh cara bermain yang benar. Tapi rata-rata kita juga sibuk bekerja menafkahi keluarga. Kalau seandainya ada pelatih presean yang digaji pemerintah, saya yakin banyak bibit handal di dearah ini siap membanggakan daerah,a�? tutupnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka