Ketik disini

Headline Metropolis

Kera Sakti Ingin Dirikan Padepokan Peresean

Bagikan

Kepandaiannya memainkan penjalin membuat namanya kesohor ke seantero Lombok. Di juluki Kera Sakti, Multajam punya tekad mendirikan padepokan peresean.

***

JAUH dari praduga. Tubuh Multajam terlihat imut jika dibandingkan dengan kebanyakan pendekar-pendekar peresean. Tapi memang tubuhnya terlihat kekar. Berotot. Lehernya besar dan kokoh.

Dialah pepadu peresean yang dulu dijuluki Kera Sakti. Multajam adalah ayah dari Muhammad Rifki (lihat Lombok Post kemarin).

a�?Saya dijuluki itu karena sekali mukul biasanya orang langsung pecok (bocor),a�? terangnya.

Tapi itu nama panggungnya dulu. Sekarang Multajam memilih tak mau lagi pakai nama panggung. Alasannya ia tak mau malu. Meski sebenarnya ia termasuk pepadu kaot (kelas berat) dan selalu bisa tampil sebagai juara, Tajam mengaku mulai risih.

a�?Nama itu sebenarnya pemberian teman-teman. Tapi saya rasa ada baiknya tidak menggunakannya lagi. Iya kalau menang terus, tapi kalau kalah kan bikin malu saja,a�? cetus pria yang menghitung-hitung tak kurang dari 50 kepala pendekar peresean kepalanya bocor oleh pukulannya.

Ia lebih senang memperkenalkan diri di panggung dengan nama asli. Sampai sekarang. Setiap ada undangan pertandingan atau disewa untuk mempertahankan klub lain. “Saya minta nama saya ditulis Tajam saja,a�? jawabnya pendek.

Tawaran bermain peresean memang cukup menggairahkan. Uang saku saja dari pengelola kelompok yang diperkuat minimal masuk antara Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu. Itu belum bonus dari panitia jika mendapat juara saat bertanding.

a�?Ditambah lagi dapat saweran. Pokoknya sama seperti mendiang ayah saya dulu, peresean jadi bisnis,a�? celetuknya lalu terkekeh.

Tajam mengaku menggeluti dunia peresean sejak masih kecil. Ia lupa persisnya kapan. Tapi gen petarung yang diwarisi dari mendiang sang ayah rupanya banyak mempengaruhi ia dan saudara-saudaranya.

Tiga adiknya yang lain yakni Marwan, Awal dan Tedi tumbuh jadi jawara-jawara Presean. “Dulu almarhum ayah selalu mengajak kami nonton peresean. Sebenarnya kami tidak pernah dilatih. Tapi setiap kali menonton ayah bertanding, kami selalu tertarik untuk ikut bertarung,a�? tuturnya.

Kalau hadiah peresean dulu, memang tidak semewah hadiah sekarang. Selain uang saweran, hadiah lain hanya berupa sabun mandi dan sabun cuci. Dapat kaos oblong hanya untuk juara pertama. Tapi, meski begitu para jawara senang bukan main menerima itu semua.

“Jadi kalau sabun cuci dan mandi habis, ayah pergi peresean. Dulu dia juga pepadu yang tangguh,a�? kenangnya.

Tetapi walau ayahnya seorang petarung hebat peresean, Tajam mengaku tidak pernah diajari sang ayah bagaimana caranya peresean yang benar. Ia hanya diminta menonton dan bermain sebisanya. Tajam kecil pun tumbuh menjadi pendekar peresean yang tangguh.

“Kalau dipukul sih sering. Lagi asyik-asyiknya main layangan ayah tiba-tiba memukul dengan kayu. Sering sekali begitu. Karena itu setiap kali bertanding saya selalu menganggap pukulan lawan yang masuk sebagai pukulan dari ayah,a�? ungkapnya.

Dengan berfikir seperti itu, Tajam mengaku bisa mengontrol emosi. Ia tidak lantas jadi gusar. Tetap bisa tenang karena ia menganggap sedang. Sehingga pukulan-pukulan balasannya bisa lebih terarah dan mengenai sasaran.

Uniknya Tajam menganggap peresean seperti berobat. Meski pekerjaannya cukup berat dan dekat dengan sampah dan rongsokan, ia mengaku jarang sakit.

a�?Lamun sakit-sakit idap awak, tiang lalo peresean (kalau saya merasa ada gejala mau sakit, saya pergi main peresean), itu kayak habis kerokan rasanya,a�? kelakarnya. Biasanya setelah itu ia langsung sehat dan segar bugar.

Koran ini kemudian menanyakan ada bekas codet di pelipis kanannya. Tajam mengaku codet itu didapat saat bertarung memperebutkan posisi ketiga dalam satu turnamen. Alhasil ia pun berhasil juara tiga waktu itu. Dengan mengalahkan salah satu murid pepadu legendaris H Rizal. Atau lebih akrab dijuluki a�?Arya Kamandanua�?.

a�?Kalau bilet (bengkak oleh sabetan penjalin) sih tidak terlalu sakit. Sudah biasa, tapi yang sakit pas waktu malam itu, kalau biletnya sampai berair. Waduh, satu-satunya cara biar bisa tidur, ya beralaskan dedaunan,a�? terangnya.

Di dalam Presean sebenarnya ada banyak cara menangkal pukulan agar tidak terlalu menyakiti badan. Biasanya, bagi mereka yang punya ilmu kanuragan, jimat atau minyak (ramuan kebal, Red) kerap digunakan sebelum bertanding.

“Saya tidak punya bebadong (jimat, Red). Kalau sudah pakai sabuk dan sapuq (ikat kepala, Red) cukup,a�? jawabnya tersipu.

Entah itu artinya apa. Tapi memang bagi pepadu bertempur tanpa bebadong itu tak lazim. Hanya saja, kearifan lokal dan pesan guru yang mewarisi ilmu atau jimat memang sudah mewanti-wanti agar tidak diceritakan pada siapa pun. Mungkin hal inilah yang dilakukan Tajam saat menolak mengaku memiliki itu.

a�?Ya modalnya cuma yakin. Toh kalau kena (kepala) tetap saja bocor,a�? imbuhnya lalu tersenyum kecil.

Perawakan Tajam yang kecil mungil memang kerap jadi bahan tertawaan musuh. Tetapi ketika Tajam masuk final dengan setengah nyinyir orang mereka biasnya meragukan jika Tajam bisa masuk final.

Mereka nanya, bagaimana caranya dia mukul bisa masuk final? Padahal musuh-musuh yang dihadapi bertubuh besar-besar dan atletis. Kalau sudah begitu ia biasanya menjawab enteng. “Ya begini sudah caranya,a�? tuturnya.

Ketika bertarung di sebuah arena peresean di Penede Gandor, Tajam pernah mengalami peristiwa yang membuatnya kesal. Cemoohan pada tubuhnya yang terlalu imut membuat beberapa jawara usil.

Saat ia tengah meladeni seorang pepadu, tiba-tiba salah satu anggota tim lawan melempari ia dengan air mineral. “Saya langsung bilang ke dia, ayo sini kamu masuk (ke arena) biar saya hadapi kalian berdua,a�? sesumbarnya.

Tajam sebenarnya paham betul di dalam peresean ada etika pepadu yang disebut Wirage, Wirase dan Wirame. Poin Wirase mengajarkan bagaimana seorang pepadu tidak boleh melecehkan lawan mainnya. “Tapi saat itu saya memang dibuatnya kesal,a�? Tuturnya.

Tajam dan beberapa pepadu Rungkang Jangkuk punya mimpi besar. Membuat padepokan peresean yang akan dinamai a�?Ijo Rungkanga�?. Pria yang mengaku hanya lulusan kelas 2 Sekolah Dasar ini juga melihat potensi-potensi pepadu Rungkang Jangkuk sangat banyak dan terlatih.

“Tapi selama ini kita kesulitan untuk membuat tim, karena tidak ada dana pembinaan,a�? tuturnya.

Padahal jika saja itu bisa diwujudkan, ia yakin Tim Rungkang Jangkuk akan jadi tim yang ditakuti di seluruh pelosok Lombok. “Pendidikan saya hanya SD, itu pun tidak lulus. Tapi saya punya tekad untuk melestarikan salah satu budaya Lombok ini. Kami di sini butuh pembinaan,a�? harapnya. (

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka