Ketik disini

Pendidikan

MASIH PENENTU KELULUSAN

Bagikan

MATARAM – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) NTBA� diminta ke Jakarta untuk menindaklanjuti keputusan Presiden Joko Widodo untuk tetap mengadakan UN. Hanya saja, Unas tahun depan apakah menjadi penentu kelulusan atau tidak ?. a�?Ini yang belum kita tahu. Apakan Unas hanya sebagai pemetaan saja seperti tahun lalu ,a�? kata Sekdis Dikpora NTB H Aidy Furqan, kemarin (20/12).

Sebelumnya, Mendikbud Muhadjir Effendy mengajukan proposal moratorium Unas kepada Presiden Joko Widodo. Hal ini membuat sekolah di NTB gundah. Apakah Unas dilanjutkan atau tidak. Setelah Rapat Terbatas di Kantor Presiden kemarin (19/12), Presiden Joko Widodo memutuskan untuk tetap mengadakan UN.

Aidy mengatakan, jika melihat bunyi dari Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional siswa wajib melaksanakan Unas. Artinya, jika siswa tidak melaksanakan Unas maka tidak akan lulus. Ini artinya kata dia, Unas ini secara tidak langsung masih menjadi penentu kelulusan. a�?Siswa yang tidak ikut Unas maka tidak lulus,a�? imbuhnya.

Dulu kata Aidy, Unas selalu masuk menjadi penentu kelulusan. Nilai raport, nilai ujiansemester, dan nilai Unas digabungkan menjadi satu dalam menentukan siswa lulus atau tidak. Formula seperti ini dinilai cukup efektif dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kini, apakah nilai Unas akan dimasukkan menjadi penentu kelulusan, ia belum bisa memastikan. a�?Nanti saja kita tunggu hasil rapat di Jakarta,a�? ucapnya.

Ia tidak bisa memastikan nilai Unas akan masuk formula kelulusan. Begitu juga sebaliknya,A� apakah kelulusan A�akan kembali diserahkan kepada sekolah seperti Unas tahun lalu.

Saat ini kata dia, yang terpenting bagaimana menyiapkan siswa menghadapi Unas. Saat ini, kegundahan sekolah terkait Unas dilaksanakan atau tidak sudah jelas. Kata dia, Unas tetap diadakan. Oleh karena itu, ia meminta kepada semua sekolah untuk menyiapkan diri dalam pelaksanaan evaluasi tahunan ini.

Terpisah Ketua PGRI NTB H Ali Rahim sangat menyangkan Unas kembali dilaksanakan tahun depan. Selama ini ia menilai Unas hanya mengukur kemampuan diagnostik saja. Evaluasi diagnostik merupakan evaluasi yang mempunyai penekanan khusus pada penyembuhan kesulitan belajar siswa yang tidak terpecahkan oleh formula perbaikan yang biasanya di tawarkan dalam bentuk evaluasi. Evaluasi diagnostik juga sebagai evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa. Sehingga, berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.

Sementara keterampilan, sikap, terutama karakter siswa tidak ada pada Unas. Kata dia, Iptek dan Imtak ini harus menjadi rangakaian dalam satu sistem. a�?Jika ingin Unas maka semua aspek penilaian di sekolah itu dinilai,a�? ucapnya.

Ia mengatakan, selama ini hanya empat mata pelajaran (mapel) saja yang dinilai pada Unas. Ini menjadi diskriminasi kepada mapel lainnya. a�?Hanya empat mapel itu saja yang diujikan,a�? sebutnya.

Ali menambahkan, jikapun Unas dilaksanakan maka alat ukur di masing-masing daerah harus beda-beda. Sekolah yang ada di Pulau Jawa dan diluarnya harus beda alat ukurnya. Mengingat, tidak semua sekolah memiliki fasilitas lengkap dalam meningkatkan mutu pendidikan. a�?Tingkat kesulitan soal didaerah harus beda-beda,a�? pungkasnya. (jay/r9)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka