Ketik disini

Politika

Penguatan Nilai Tukar Rupiah Lebih Penting

Bagikan

MATARAM – Bank Indonesia (BI) telah mengeluarkan satu seri uang rupiah Tahun Emisi (TE) 2016. Terdiri dari tujuh pecahan uang rupiah kertas dan empat pecahan uang rupiah logam dengan gambar pahlawan yang berbeda dari sebelumnya.

Menanggapi hal ini, Ketua Komisi III DPRD NTB bidang Keuangan dan Perbankan H Johan Rosihan menilai BI harus berhati-hati dalam pencantuman gambar pahlawan.

Lantaran dapat memunculkan kecemburuan pada provinsi lainnya. Meski pemilihan pahlawan pada desain mata uang baru didasari oleh kebhinekaan atau keragaman Indonesia. a�?Bisa memunculkan kecemburuan, mau bhineka tapi bersamaan itu membuat ketersinggungan,a�? ungkap Johan, kemarin (20/12).

Dikatakan, sejumlah pahlawan baru dimunculkan. Sayangnya, untuk NTB tidak ada yang mewakili. Padahal, NTB juga memiliki sejumlah pahlawan penting. Seperti, TGKH M Zainuddin Abdul Majid dan Lalu Manambai Abdul Kadir yang ikut berjuang dalam pembebasan Irian Barat.

a�?Tak heran Bung Karno menjulukinya Koboi dari Sumbawa,a�? ujarnya.

Diakui, Indonesia memiliki banyak provinsi dan banyak pahlawan. Tentu BI tidak serta merta membuat mata uang rupiah sebanyak jumlah pahlawan. Karena itu, jika BI turut mempertimbangkan mencegah timbulnya kecemburuan sosial, bisa meniru kebijakan desain mata uang Amerika Serikat. Di mana hanya mendesain tokoh pendiri negaranya saja. a�?Biar adil semua desain mata uang bergambar Proklamator Soekarno-Hatta,a�? tegas politisi PKS itu.

Terlepas dari itu, Johan mengaku heran. Karena di tengah kondisi perekonomian Indonesia seperti ini, pemerintah masih sempat membuat desain mata uang baru. Padahal yang lebih urgensi jika pemerintah berupaya memperkuat nilai tukar mata uang rupiah. Agar bisa bersaing dengan mata uang negara lain. a�?Urgensinya kuatkan nilai tukar, tapi malah ganti tokoh,a�? tandasnya. (ewi/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka