Ketik disini

Perspektif

Mengulang Tahun

Bagikan

HARI A�Ulang Tahun Provinsi NTB yang dirayakan pada 17 Desember lalu menyisakan beberapa catatan. Saya katakan beberapa, sebab tidak semua hal di NTB dapat saya ikuti perkembangannya. Pun saya catat seluruhnya. Hanya beberapa, dan beberapa itu pun selebihnya berupa harapan.

Dalam tulisan ini saya sengaja tak mencantumkan angka HUT NTB, bukan tanpa alasan sebab sebelumnya, melalui medsos saya mencantumkan angka yang keliru, dan tak hanya saya yang menulis angka #52, beberapa ada juga yang menulis angka 54, 56. Terklarifikasi yang tepat adalah angka 58.

Apa pentingnya angka? Untuk sebagian orang angka teramat penting. Apalagi jika berkait dengan usia, perayaan ulang tahun. Selain angka, ultahA� juga identik dengan kue tart, sesi tiup lilin, dan biasanya lilin berbentuk angka. Dan dari kesemua prosesi itu, mayoritas masyarakat nyatanya tidak menjadikannya penting, tidak merayakannya.

Maklumi saja, sebagian besar masyarakat tengah sibuk bekerja. Terlebih bagi masyarakat yang mayoritas sebagai petani, saat ini tengah memulai musim tanam padi. Mereka tengah menyiapkan lahan tanam, menyemai bibit, jadi peduli apa dengan seremoni perayaan ulang tahun yang rata-rata lebih banyak dihadiri pejabat daerah, tamu undangan. Bukankah selama ini, suara mereka juga dianggap cukup terwakili oleh kalangan elit birokrasi.

Hari demi hari, bulan berganti bulan, tahun depan daerah ini akan ulang tahun lagi, meski saya kurang setuju dengan istilah itu. Sebab, tahun tak dapat diulang. Yang dapat diulang adalah angka kalender perayaan. Dan semakin bertambah usia.

Tak ingin berpanjang kata soal kepastian angka, toh kalaupun daerah ini usianya satu abad, apa signifikansinya terhadap hal-hal yang sudah dilalui, kecuali kita masih dapat terus berharap akan semakin banyak ikhtiar, perubahan bermakna terus menerus ke depan untuk membenahi segala hal di daerah yang kita cintai ini.

Sebagai warga NTB yang kebetulan mukim di Kabupaten Lombok Tengah, saya cukup mengapresiasi hari ulang tahun daerah ini sebagai bagian dari refleksi, mengingat perayaannya berbarengan dengan akhir tahun masehi. Artinya, sangat mungkin bagi kita untuk melihat perjalanan daerah dalam satu tahun, khususnya dalam hal pernak-pernik peristiwa yang terjadi di masyarakat.

Peristiwa yang saya maksud tentunya adalah hal yang terjadi baik di sekitar kita, maupun dari kabar yang kita simak melalui media. Media sosial berbasis jaringan internet salah satunya, berperan signifikan sebagai media komunikasi.

Melalui itu, kita dapat mengakses cepat informasi, postingan postingan berita, gambar tentang kemeriahan HUT NTB. Postingan foto bersama tokoh-tokoh daerah NTB menggunakan pakaian adat, sungguh istimewa buat pribadi saya.

Karena kebetulan berulang tahun di bulan yang sama, pada minggu yang sama ada bahan pula kita buka laman berita sebulan terakhir. Berita banjir ataukah genangan yang terjadi di Kota Mataram, di Alas Sumbawa, ramai diliput media. Musibah nampaknya menjadi satu paket refleksi akhir tahun bersamaan dengan hari ulang tahun daerah.

Tak selesai kaget dengan bencana alam, kembali dikejutkan oleh penemuan jasad pemuda yang tewas bunuh diri dengan cara menggantung di lintas jalur lingkar selatan. Penemuan jasad seorang perempuan ditemukan tenggelam hampir seminggu lamanya di waduk Desa Montong Gamang. Hari Minggu lalu, melalui Toa masjid di kampung saya, ada pula pengumuman kematian seorang warga yang meninggal di negeri Jiran.

Tak selesai pada isu bencana yang menimpa perseorangan, di Kabupaten Lombok Timur terjadi penangkapan tujuh orang warga oleh sebab sengketa lahan dengan salah satu perusahaan. Seluruh masalah rentan pada konflik sumber daya. Akar dari semua ini berkait dengan ketimpangan sosial, kemiskinan.

Tapi sedianya tak hanya kabar sedih yang akan tersaji di laman koran pagi langganan kita. Sebab di antara 90 persen berita yang menambah kejemuan dengan masalah demi masalah, setidaknya tersisa 10 persen ruang untuk kita boleh bernapas lega. Daerah kita semakin nampak berbenah. Ruas jalan beraspal sudah hampir sampai ke kampung-kampung.

Bersama dengan itu, ruko-ruko bertambah, mart-mart semakin smart mengambil ruang strategis sampai ke pelosok, berkecambah. Belanja semakin mudah, diskon barang lebih murah, benarkah?

Sesungguhnya saya tak hendak mengatakan ini adalah masalah klasik yang menjangkiti diri saya dan sebagian besar kami yang masih ter-wah-wah dengan keberadaan tempat belanja super megah. Sebab, mungkin saja, indikator dari sejahteranya masyarakat adalah semakin rutin belanja dan mengkonsumsi segala hal hampir tanpa jeda. Apalagi dengan pelayanan mart yang buka 24 jam. Seandainya bisa, dalam mimpi pun kita hendak belanja.

Menengok fakta demikian, angka dalam lembaran uang justru jauh lebih mudah diingat, ketimbang angka dan hari jadi daerah ini. Sehingga saran saya pada kolom perspektif kali ini dan mumpung sedang ramai soal seri uang baru yang dikeluarkan Bank Indonesia. Mungkin ada baiknya di tahun-tahun mendatang ketika BI akan mencetak seri uang, akan ada tokoh berjasa asal NTB, yang gambar wajahnya dapat tampil di salah satu pecahan mata uang rupiah.

Siapa tahu dengan begitu, masyarakat daerah ini dapat semakin terinspirasi untuk mengumpulkan uang modal usaha. Semakin murah rezeki dan gemar berbagi, pun semakin gairah menabung. Setelah itu ada fatwa, pamali kalau uang yang ada gambar tokoh daerah dihamburkan untuk boros belanja. (r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka