Ketik disini

Headline Metropolis

Siap Saingi Nipah, Ogah Direcoki Pemerintah

Bagikan

Ada yang berbeda di seputaran Loang Baloq saat ini. Sejumlah pedagang ikan bakar mulai bermunculan. Tanpa bantuan pemerintah mereka menghidupkan kawasan itu.

***

Suara deburan ombak begitu terasa siang itu. Angin yang memang sedang kencang membuat ombak-ombak besar terus berdatangan.

Dari berugak-berugak semi permanen yang dibuat seadanya, sejumlah orang tampak menikmati suasana. Rindangnya pepohonan makin meneduhkan suasana. Tak perlu menunggu lama, aneka olahan laut langsung berdatangan. Makin menambah nikmat siang yang panas itu.

“Silakan mas, ini seafood khas Inaq Isnah,” kata seorang perempuan berkerudung.

Menurutnya, sajian buatannya adalah yang terlezat diantara sejumlah pedagang lain yang berjajar di sepanjang jalan itu. Ia bahkan mengklaim yang terenak di Lombok. Menjadi spesial lantaran segala kenikmatan tersebut ada di pusat Kota Mataram.

Ya, Inaq Isnah adalah warga asli Mataram. Tempatnya berjualan bukanlah Nipah yang terkenal, tapi Loang Baloq. Di sepanjang jalan Lingkar Selatan dekat Taman Loang Baloq, ia dan sejumlah pedagang berjajar rapi.

Kurang lebih sudah tiga pekan ia berjualan di sana. Sang suami yang membantunya mengipas-ngipas ikan bakar sesekali juga tampak sibuk dengan aktivitas membuat berugak di sebelahnya. Semua serba baru di sana. Lapak pedagang tampak sangat baru didirikan.

“Jumlah pedagangnya belum sampai belasan,a�? ujarnya.

Meski baru beberapa pekan saja berjualan, namun geliat Loang Baloq yang bertransformasi menjadi kawasan kuliner seafood baru tampak sudah sedemikian hebatnya. Antrean orang-orang berbelanja ke sana sudah terlihat. Beberapa bahkan menyempatkan diri makan langsung di lokasi, disela kesibukan masing-masing saat jam kantor.

“Ini sudah seperti Nipah baru,a�? kata Ridwan, seorang pengunjung.

Tak sekadar mirip karena ikut-ikutan, Loang Baloq justru memiliki sejumlah kelebihan lain. Yang paling jelas tentu saja kedekatannya dengan pusat kota.

Keberadaan Pantai, Taman Loang Baloq, hingga Makam Loang Baloq ikut memberi keuntungan. Belum lagi rute tersebut adalah jalur lintas resmi para wisatawan yang baru datang dari Bandara. a�?Kami siap saingi Nipah,a�? kata Dijah, pedagang ikan bakar lainnya.

Perempuan 65 tahun itu adalah yang pertama memulai usaha berjualan ikan bakar di sana. Ia yang dulu hanya berjualan kopi dan jajanan ringan tiba-tiba terbayang membuat terobosan. Disulaplah lapak PKL miliknya.

Kini satu demi satu PKL lain mulai mengikuti. Secara rasa, ia juga merasa tak kalah dari lokasi lain. Buktinya keramaian yang terjadi setiap hari dan terus meningkat.

Kini, mereka bahkan sampai kewalahan memasok sumber seafood yang dihidangkan. Tak tanggung-tanggung, ia dan pedagang lain sampai mendatangkan ikan dari Sekotong, Lombok Barat. Itu bukti lain kalau usaha yang satu ini tengah menggeliat. Bahkan mereka tumbuh dan berkembang ketika tak satu pun bantuan dari pemerintah diterimanya.

Ide sepenuhnya datang dari pedagang. Lapak juga mereka buat dengan kemampuan sendiri. Modal pun juga sama. Bahkan resep masakan yang disajikan juga bersumber dari mereka.

Tanpa bantuan pemerintah sekalipun, Loang Baloq tampaknya sudah menemukan titik masa depan cerahnya. Kini satu hal yang mereka harapkan. Tak direcoki pemerintah.

Ya, mereka dibayangi kekhawatiran bakal digusur, karena ada di pinggiran jalan utama yang memang bukan haknya. a�?Mudah-mudahan tidak diganggu pemerintah atau siapa pun,a�? harap perempuan yang kini bisa membawa pulang uang hingga lebih dari Rp 250 ribu setiap harinya itu. (WAHYU PRIHADI, Mataram./r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka