Ketik disini

Headline Opini

Stop Bangun Kota dengan Cara Menggaruk Gunung

Bagikan

KOTA  Bima yang sekarang kita tangisi karena dilanda banjir bandang hebat itu sejatinya lembah. Sisi utara, timur dan selatannya dikepung oleh pegunungan, sementara sisi baratnya teluk. Keadaan geografi demikian menjadikan kota ini oikumene, tempat tumbuhnya masyarakat dan peradaban. Gunung-gunung di sekelilingnya adalah sumber penghidupan yang melimpah bagi penduduk kota, menyediakan air, makanan, juga kenyamanan dan kesedapan mata memandang.

Sementara teluknya menyumbang perikanan dan memfasilitasi perdagangan. Itulah mengapa kota ini pernah jaya sebagai salah satu pusat peradaban bagi Nusantara di bagian timur. Pernah dua abad silam diporak-poranda oleh letusan dahsyat Gunung Tambora, tapi tidak lama bangkit kembali, berkat posisinya yang strategis ini.

Kota ini sekarang ringkih, seperti nyonya tua yang sakit-sakitan, jalannya tertatih-tatih. Bangun, jatuh lagi. Bangkit, runtuh kembali. Bukan karena umurnya sudah tua. Bukankah kota ini sudah mengalami ‘operasi’ peremajaan kembali melalui pe-NKRI-an dan peng-Kotamadya-an. Mestinya kota ini sudah menjelma ‘Bidadari dari Timur’. Tetapi bagaimana mungkin, kalau setiap tahun selalu saja tertimbun lumpur, membuat percuma upaya-upaya penataan dan periasan sepanjang tahun.

Ditata, terhapus lagi. Dirias, ternoda lagi. Begitu terus setiap tahun. Dan kali ini memilukan: banjir bandang susul-menyusul.

Bukan salah air dan hujan, apalagi Tuhan yang menurunkannya. Juga bukan masalah ‘tangan panas’ atau mitos “dana mbari’, itu omong kosong yang dipakai sebagai alibi. Tetapi siapa itu yang mencukur gundul gunung-gunung yang membentengi kota ini, dan menimbun sungai dan teluk penampung sisa-sisa resapan. Merekalah pihak yang mesti memikul tanggungjawab dari setiap terjangan banjir atau longsor.

Penggundulan itu, sahabatku, tiadalah mempesonakan sebagaimana gambaran imajinasi dungumu, tetapi justru menyeramkan bagi semua orang. Dan sekarang kau melihat dengan mata kepalamu sendiri amuk dendam derai hujan. Kau mendenganr dengan kuping telingamu sendiri gemuruh air bah menerjang peradabanmu. Kau mendapati penduduk kampungmu menangis terjebak di atap-atap rumah mereka yang mau roboh. Sementara kau tidak berkutik.

Gunung sisi utara kota ini sudah muak dengan kecerobohanmu menggundulinya serampangan tapi untuk suatu keuntungan yang terorganisasi rapi. Gunung-gunung itu tidak bisa lagi menyimpan air lalu menyemburkannya ke arah kota di selatan yang selokannya sudah buntu dan sungainya sudah dangkal dan kering. Sekarang, bukitnya yang tersisa kau permak lagi untuk ‘pariwisata abal-abal’: memandang kota dari jauh agar terlihat indah padahal rapuh, kotor, dan pengap.

Padahal itu semua hanyalah pengalihan frustrasi sosial dari. Padahal itu hanya cara melipatgandakan nilai aset tanah gunung yang sudah kau kuasai.

Gunung sisi timur kota sudah malas menjadi pengayom dan penyedia energi kesuburan bagi “saudara kecilnya’ yang congkak dan tak tahu diri. Gunung-gunung itupun mengencingi kota ini setiap tahun sampai jidatnya belepotan oleh air comberan. Kota ini mestinya menyadari posisinya yang terletak di bawah ketiak ‘saudara tuanya’ dengan cara berkolaborasi satu-sama lain merawat hutan-hutannya dan bukannya ikut-ikutan menggerogotinya.

Tinggallah pegunungan sisi selatan yang masih menyimpan keramahan. Tapi ujung timurnya sudah mulai tergerogoti oleh proyek eksperimentasi batu marmer yang gagal. Lempengan puing-puingnya teronggok begitu saja tanpa bisa disusun kembali ke dalam tanah dan siap berhamburan ke perkampungan jika suatu saat ada momen. Dorolonda adalah benteng terakhir. Itulah mengapa kampung Panggi, SambinaE, dan Oi Ni’u masih dinaungi secara sabar sehingga relatif aman dari banjir.

Tapi nanti dulu, bukankah kaki-kakinya sudah kalian amputasi sepotong demi sepotong untuk memenuhi ambisi proyek kota tepian air yang ternyata maksudnya menguruk teluk itu. Kaki gunung Dorolonda menjadi semakin pincang dan tampak bopeng-bopeng seperti macan kalah tarung sama buaya. Padahal gunung itu adalah pusat kosmos kota ini. Tidak sampai di situ keserakahan entah siapa ini. Gunung itu sedang dalam bahaya: urat-urat nadinya sudah dipermak jadi ‘jalan ekonomi’.

Ah, sahabat, istilah ‘jalan ekonomi’ itu tidak lain dari muslihat kapitalis yang sudah klise untuk memobilisasi pengerukan sumber daya hutan. Padahal penduduk kampung sudah lama lupa jalan masuk ke gunung itu sejak kultur kompor diperkenalkan. Padahal gunung itu sudah mulai rimbun kembali dan sudah bisa memberi air kehidupan dan kesejukan bagi kota dan penduduknya.

Sekarang penduduk sudah melirik kembali kepada gunung itu, karena jalan masuk sudah lempang dan mulus sampai ke puncak. Eskavator sudah naik-naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali. Jalan-jalan itu akan segera menjelma menjadi gorong-gorong bagi kapitalisasi batu-batu jadi uang dan tanah-tanah gunung jadi pengisi patok-patok pantai yang sudah dikavling para cukong.

Menggaruk tanah gunung itu satu masalah, dan menguruk pantai pakai tanahnya adalah masalah lain. Hasilnya adalah masalah kuadrat yang akan berakumulasi menjadi malapetaka. Jalan-jalan ekonomi itu akan berubah menjadi ‘perosotan’ bagi meluncurnya air hujan yang ditinggal mati pepohonan untuk menerjang perkampungan-perkampungan. Bukan kau yang menjadi pikiran, tetapi para penduduk tak berdosa itu. Mereka tidak pantas menanggung akibat dari dosa-dosamu.

Jika serbuan banjir dari sisi utara dan timur berkolaborasi dengan sisi selatan, itu kiamat bagi kota ini. Dan kau, ya kau sahabatku, yang sudah diidentifikasi sebagai pihak yang paling bertanggungjawab jangan mau terbirit-birit dikejar-kejar seperti kucing garong yang kedapatan maling ikan teri. Itu derajat paling rendah dari strata hewan. Maka, berhentilah membangun kota ini dengan cara mengeruk gunungnya, juga menutupi pantainya dan menyumbat sungainya. Itu kebodohan! (*)         

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka