Ketik disini

Metropolis

Pemerintah Kemana?

Bagikan

MATARAM – Puluhan rumah di pemukiman pesisir Bintaro, Ampenan terendam air sejak dua pekan lalu. Masyarakat terpaksa berkegiatan di tengah genangan air yang mengepung rumah-rumah mereka.

“Uah sebulan lebih, pemerintah embe jage laikne (sudah sebulan lebih, pemerintah kemana mungkin),a�? kata Isah, salah satu warga dengan wajah tampak gusar.

Perempuan 45 tahun itu sangat kesal. Hingga kini, tak banyak hal yang dilakukan Pemkot Mataram terhadap ratusan warga di sana. Beberapa kali kawasan itu sudah dikunjungi, namun setelah kunjungan demi kunjungan, tak ada hasil apa pun yang diperoleh warga.

“Kalau hujan angin airnya tambah tinggi, kasur, kompor, kursi semua pada basah,a�? katanya kembali meluapkan curahan hati.

Dia bukanlah satu-satunya warga yang kesal. Hampir semua yang ditemui Lombok Post menuturkan kekecewaan yang sama terhadap pemerintah. Mereka merasa tak diperhatikan, bahkan dilupakan dan dicampakkan begitu saja.

Jangankan mendapat bantuan makanan dan keperluan lainnya seperti korban banjir di tempat lain, masalah inti air yang terus menggenang pun tak kunjung dibereskan. a�?Kalau tidak salah, Bintaro ini Mataram juga kan,a�? sindir Inaq Rosa yang merasa tak mendapat perhatian serius.

Sedari pagi hingga siang kemarin, sejumlah warga tampak berupaya bergotong royong mengatasi air yang tak kunjung surut. Mereka membuat sodetan, mengarahkan air ke lokasi lain, memperbaiki saluran, hingga membelokkan arah air.

Namun, keterbatasan alat dan tenaga membuat apa yang diupayakan tak banyak membuahkan hasil. Genangan yang mulai berwarna hijau kehitaman dan mengeluarkan bau busuk seolah enggan pergi.

“Kalau pun sekarang sudah berkurang airnya, nanti malam pasti naik lagi air ini,a�? kata Muhammad, warga lainnya tampak pasrah.

Dihubungi via telpon, Kadis PU Kota Mataram Mahmuddin Tura mengatakan sudah mengetahui kondisi di Bintaro. Beberapa kali ia bahkan sudah berkunjung langsung ke sana.

Namun, katanya, solusi untuk kawasan tersebut sangat sukar. Saluran yang tak baik menjadi kendala pertama. Letak pemukiman warga yang lebih rendah ketimbang pesisir pantai juga menjadi masalah berikutnya. Itu membuat air laut pasang pasti mengalir ke kawasan tersebut yang rendah.

“Kalau sudah ke sana airnya, susah buat kering, tak bisa juga kembali ke laut,a�? jelasnya.

Dikatakan Mahmudin, perbaikan saluran baru akan dilakukan 2017 mendatang. Itu mencakup saluran primer, sekunder, bahkan tertier.

Perbaikan menyeluruh wajib dilakukan karena kini kondisinya sangat parah. Untuk puluhan rumah warga Bintaro yang tergenang, konsep relokasi menurutnya menjadi jalan satu-satunya untuk solusi jangka panjang.

“Tahun depan mulai pembebasan lahan, setahun berikutnya pembangunan fisik di lokasi relokasi,a�? ujarnya.

Sedikitnya 200 rumah sudah terdata di seputaran pesisir itu. Dalam perencanaan yang telah dikemukakan Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh, warga akan dibuatkan rumah susun.

“Itu memang solusi terbaiknya, kita perlu siapkan berbagai hal mulai dari anggaran sampai teknis, dan kesiapan warga untuk pindah,a�? jawab Mahmudin.

Sayangnya sembari menanti proyek yang belum jelas realisasinya itu, warga masih harus berjibaku dengan masalahnya terhadap air. Diserang dari tiga arah. Yakni pasang laut, aliran air dari hulu, bahkan hujan yang terus turun.

Belum ada solusi kongkrit untuk saat ini. a�?Maunya kita dipinjamkan mesin pompa, atau dibantu alirkan air ke lokasi lain yang lebih rendah, masak yang begitu pemerintah tak bisa,a�? kata Inaq Rosa kembali menggerutu. (yuk/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys