Ketik disini

Metropolis

Pendapatan Rp 24 Ribu Dibagi Berempat

Bagikan

Kaum miskin kota kerap menjadi a�?tumbala�� pesatnya pembangunan. Mereka menjerit, tersisih hingga suatu saat nanti (mungkin) tersapu dari kota ini. Berikut kisahnya.

***

LELAH. Bau lemak terbakar dari daging yang nyaris melekat tipis di kulit tersebar. Wayan Dipa, pria yang lahir hanya terpaut dua tahun dari Indonesia Merdeka menerawang kosong. Teh botol plastik digenggamnya erat. Rambut peraknya nampak kusut, di balik topi lusuh warna biru.

Dari kediamannya di Pagesangan Wayan dengan gerobak kayuh biasanya berkeliling kota. Sejak pagi sampai sore. Bahkan sekarang lebih sering pulang petang.

a�?Ndeq araq balung tiang, wah sayan toaq (Ndak ada tenaga saya, sudah semakin tua),a�? logat bahasa sasak terdengar kental.

Di dalam ingatannya yang mulai berkarat, Wayan tercenung. Kota Mataram dulu dan kini sudah jauh berubah. Sangat cepat. Sampai ia tak bisa mengimbangi.

Hanya dalam tarikan nafas sepanjang hayat ia telah menyaksikan kota jauh terlihat a�?angkuha�� dari pada Kota Mataram dulu yang ia kenal. “Di gebang dulu belum ada apa-apa. Hanya ada semak belukar dan tempat bersembunyi para penyamun,a�? terangnya terkekeh.

Tapi walau begitu, Gebang dulu jauh lebih akrab di ingatannya. Ia sebenarnya tidak terlalu peduli, bahkan bersyukur dengan pembangunan yang ada. Apalagi banyak camp-camp militer di sana. Toh banyaknya cahaya-cahaya di sepanjang jalan perkotaan telah mengikis area para penyamun melancarkan aksi kejahatan.

a�?Tapi ada juga rasa rindu dengan suasana dulu. Tapi bukan rindu penyamunnya ya,a�? pria itu lagi-lagi terkekeh.

Wayan terdiam beberapa saat. Tema bincang kami memang tidak tertata-rapi. Wayan bertutur apa saja yang terlintas di benaknya. Maka, tiba-tiba saja pria itu memuji Gubernur NTB saat ini.

a�?Tapi syukurlah. Di tengah kemajuan pembangunan saat ini, gubernur tetap menjadikan daerah ini sebagai daerah agamis,a�? ujarnya.

Walau secara keyakinan berbeda. Wayan mengaku damai dipimpin seorang Ulama. Yang notabene panutan bagi umat Muslim. Bagi Wayan itu tidak masalah.

Ia punya keyakinan semua agama mengajarkan kebaikan, cinta kasih dan memanusiakan-manusia. a�?Kalau ada yang jahat itu bukan karena agamanya. Tetapi karena manusianya yang memang jahat,a�? ujarnya.

Wayan mengaku ogah mengkritik pemerintah. Jika keadaanya saat ini sangat memprihatinkan menurutnya bukan salah pemerintah. Tapi salah ia sendiri yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan pesatnya peradaban umat manusia.

Ia sadar suatu saat ia bisa saja terbuang dari kota. Dalam arti lain tidak bisa lagi mencari nafkah karena tuntutan zaman yang tidak bisa ia imbangi dengan pengetahuan.

a�?Iya itu risiko. Kenapa tidak dulu saya sekolah terus sampai pintar. Tapi malah hanya sampai kelas 2 Sekolah Dasar,a�? cetusnya.

Untungnya lagi, ia sudah tua. Kota juga belum terlalu kejam bagi orang-orang yang kurang pendidikan sepertinya. Ia masih bisa mengais rezeki dengan menjadi pengepul kardus dan tray (tempat telur, Red). Penghasilannya mungkin tidak bisa membuatnya bisa menikmati menu mewah layaknya para pejabat.

a�?Tetapi cukup membuat saya bersyukur. Yang penting halal. Saya tidak mencuri, merampok atau melakukan perbuatan tercela lainnya,a�? ujarnya.

Dari pekerjaan itu ia bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Membeli makan dan minum. Tiga dari sepuluh anaknya masih menjadi tanggungannya. Penghasilan hanya berkisar Rp 24 ribu sehari harus dibagi empat setiap hari.

a�?Anak saya jumlahnya sepuluh. Meninggal tiga. Yang sudah menikah empat. Tinggal tiga lagi masih jadi tanggungan saya,a�? terangnya.

Sebenarnya Wayan dulu termasuk orang yang berada. Tapi itu dulu. Dulu sekali. Hanya saja, mendiang ayahnya punya hobi yang kurang bagus. Bebotoh alias Judi. Sedikit-demi sedikit tanah yang dipunya dijual sebagai a�?modala�� judi.

a�?Lama-lama habis juga. Ah! Tapi tidak ada yang perlu disesali, bagaimanapun beliau tetap pria yang berjasa bagi saya,a�? cetusnya.

Tidak ada guna, menurutnya menyesali apa yang telah berlalu. Semua hanya peristiwa yang harus dijadikan pelajaran bagi yang hidup. Termasuk bagi ia dan keluarganya.

Harta yang tersisa hanya tinggal rumah. Sementara istrinya sudah lama meninggal karena penyakit aneh.

a�?Saya selalu berpesan pada cucu-cucu saya. Jangan pernah malas belajar. Jangan sampai setelah tua kita menyesal. Saya sudah merasakan bagiamana sulitnya hidup tanpa bekal pendidikan yang cukup,a�? tutupnya. (

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Komentar

Komentar

Tags:
Sebelumnya
Berikutnya

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys