Ketik disini

Metropolis

2017, Ekonomi Cemerlang

Bagikan

Tahun 2017 akan datang dalam hitungan hari. Di tahun Ayam Api ini, ekonomi NTB diprediksi akan tetap cemerlang, menggenapi pencapaian ekonomi dua tahun terakhir. Investasi yang terus menggeliat, arus kunjungan wisata yang membanjir, telah menjadi trigger. Di sisi lain, tahun 2017 juga bagi NTB adalah tahun politik. Perputaran uang pun akan lebih bergairah.

***

OPTIMISME yang membuncah itu datang dari Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB Prijono. Memang, di penghujung tahun 2016, ekonomi NTB melambat setelah mencatatkan pertumbuhan tertinggi se Indonesia pada triwulan pertama dan kedua.

Tapi, itu bukan pertanda ekonomi NTB akan surut pada 2017. Justru sebaliknya. Pertumbuhan ekonomi pun tahun depan diprediksi Prijono tetap akan tinggi.

Ekonomi NTB bahkan kata Prijono akan langsung menggeliat sedari awal tahun. Ibarat konser musik, langsung menghentak. Ini seiring dengan membaiknya kinerja sektor ekonomi utama. a�?Tekanan inflasi pada triwulan I 2017 diperkirakan terkendali, didukung oleh meningkatnya pasokan komoditas,a�? kata Prijono yang juga Wakil ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah NTB.

Dari data yang dimiliki Bank Indonesia, analisis Prijono, di triwulan I 2017, pertumbuhan ekonomi NTB akan lebih lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2016, yaitu sebesar 2,7 – 3,1 persen.

Begini analisisnya. Pada triwulan pertama tahun 2017, sektor pertanian yang menjadi andalan utama NTB tengah menggeliat. Ini seiring dengan masa panen padi pertama.

Membaiknya kinerja sektor pertanian tersebut sudah pasti akan mendukung meningkatkannya pendapatan masyarakat. Otomatis daya beli masyarakat juga meningkat. Apalagi, saat ini, lebih dari 50 persen penduduk NTB hidup dari sektor pertanian. a�?Sehingga mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga,a�? terangnya.

Namun demikian, sektor tambang yang diperkirakan masih mengalami kontraksi diperkirakan menjadi faktor yang menahan laju pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut diperkirakan karena kemungkinan tidak diperpanjangnya kuota ekspor tembaga.

Ini mengacu pada PP Nomor 1 Tahun 2014 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di Dalam Negeri.

Secara keseluruhan, sepanjang tahun 2017, Prijono memperkirakan ekonomi NTB akan tumbuh moderat.

Menurunnya kinerja sektor tambang tak terlalu mengkhawatirkannya. Sebab, pada saat yang sama, penurunan sektor tambang akan bisa diimbangi dengan produksi pabrik gula di Dompu.

Pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tahun 2017 diperkirakan sebesar 5 hingga 5,5 persen dari tahun sebelumnya. Atau tumbuh sekitar 7,3 hingga 7,7 persen tanpa tambang.

Sementara itu, jika memasukkan sektor tambang, ekonomi NTB pada triwulan I 2017 diperkirakan akan menurun dibandingkan triwulan IV 2016.

Pertumbuhan ekonomi non-tambang diperkirakan masih cukup tinggi, ditopang oleh membaiknya sektor perdagangan. Seiring dengan peningkatan konsumsi masyarakat saat perayaan Maulid Nabi di awal tahun. Selain itu, adanya peningkatan UMP Provinsi NTB di awal tahun 2017 diperkirakan berdampak pada meningkatnya konsumsi masyarakat, didorong oleh meningkatnya pendapatan.

Tingkat kunjungan wisatawan yang diperkirakan masih cukup tinggi di tahun 2017 diperkirakan akan meningkatkan permintaan masyarakat. Sehingga permintaan pasokan pangan juga akan tinggi. Tahun 2017, Disbudpar NTB menargetkan angka kunjungan wisatawan mencapai 3,5 juta orang.

Tekanan inflasi pada triwulan I 2017 diperkirakan juga menurun. Inflasi NTB di triwulan I 2017 diperkirakan sebesar 2,7 a��3,1 persen dari tahun sebelumnya.

Menurunnya laju inflasi tersebut disebabkan meningkatnya pasokan bahan pangan. Seiring dengan kemungkinan adanya panen raya beras di triwulan I 2017. a�?Namun demikian, meningkatnya permintaan masyarakat saat Maulid Nabi di awal tahun berisiko meningkatkan capaian inflasi NTB di triwulan I 2017,a�? ingatnya.

Pun begitu, tetap harus ada yang diwaspadai. Pada 2017 kata Prijono, terdapat sejumlah risiko yang terkait dengan kelompok komoditas administered price dan volatile food.

Dari sisi kelompok volatile food, anomali cuaca diperkirakan masih terjadi hingga awal tahun, meskipun dengan level lemah. Sementara itu, perlu dicermati risiko administered price terkait dengan pengurangan penerima subsidi listrik pada kelompok pelanggan 450VA dan 900VA. Dimana pelanggan yang tidak mendapatkan subsidi akan dilakukan kenaikan tarif secara bertahap.

Belanja Pemerintah

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Endang Tri Wahyuningsih juga punya keyakinan yang sama. a�?Perkembangen ekonomi NTB akan cukup bagus,a�? kata dia.

Dia memberi contoh. Perekonomian NTB tahun 2016 hingga triwulan III saja pada periode yang sama tahun 2015, tumbuh sebesar 7,48 persen. Seluruh kategori mengalami pertumbuhan positif, dimana pertumbuhan tertinggi terjadi pada kategori pengadaan listrik dan gas yaitu sebesar 14,25 persen, diikuti oleh kategori pertambangan dan penggalian yaitu sebesar 11,77 persen, kategori penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 11,42 persen.

Paling tidak, kata dia, ada lima penopang membaiknya ekonomi NTB. Di antaranya 3,07 poin bersumber dari kategori pertambangan dan penggalian. Kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 0,93 poin, dan kategori konstruksi sebesar 0,90 point.

Sementara kategori pertanian, kehutanan dan perikanan menyumbang menyumbang 0,42 poin dan kategori transportasi mencatatkan 0,41 poin.

Secara struktur perekonomian NTB menurut lapangan usaha masih didominasi oleh tiga kategori lapangan usaha. Yakni pertambangan dan penggalian 22,86 persen, kategori pertanian, kehutanan dan perikanan 20,98 persen dan kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor 11,97 persen.

Sektor lapangan usaha pertanian yang merupakan lapangan usaha dominan di NTB juga memperlihatkan kondisi membaik yang ditunjukkan dengan Nilai Tukar Petani selama triwulan III-2016 mencapai 105,99 di atas Nasional 101,66.

Sejumlah perayaan hari besar juga menjadi penggerak ekonomi. Wahyuningsih misalnya mengambil contoh. Perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha yang berada di triwulan III-2016 mendorong peningkatan kinerja pelaku usaha untuk memenuhi permintaan masyarakat. Hal ini berdampak pada peningkatan permintaan untuk konsumsi rumah tangga. Namun, memang pada triwulan III-2016 inflasi tercatat 0,11 persen, relatif lebih tinggi dibanding triwulan II-2016 yang mengalami deflasi 0,33 persen. Sedangkan inflasi Nasional pada triwulan III-2016 sebesar 0,90 persen.

Beroperasinya pabrik gula di Dompu yang sudah dimulai pada Juli 2016 juga diyakini akan mendorong peningkatan kinerja industri pengolahan, khususnya industri makanan dan minuman. a�?Hal ini juga berdampak pada peningkatan produktivitas tanaman tebu,a�? tambahnya.

Di sisi lain, BPS juga mencatat kontribusi belanja pemerintah. Total pada tahun ini saja, seluruh instansi pemerintah di NTB memiliki anggaran Rp 22 triliun yang bersumber dari pemerintah pusat. Dana itu Rp 14 triliun untuk pemerintah daerah dan sisanya untuk instansi vertikal. Jumlah itu belum termasuk dana yang dihimpun pemerintah daerah dari pajak dan retribusi daerah.

BPS mencatat, belanja pemerintah terus menunjukkan tren membaik. Hingga triwulan III-2016 misalnya, belanja pemerintah meningkat hingga 21,33 persen dibandingkan dengan kumulatif triwulan III-2015. Hal ini berdampak terhadap peningkatan pengeluaran konsumsi pemerintah. Sehingga kondisi ini harusnya dipertahankan. Bahkan ditingkatkan.

Pada saat yang sama, posisi kredit perbankan pada akhir triwulan III-2016 juga meningkat jika dibandingkan dengan akhir triwulan II-2015 sebesar 1,78 persen. Untuk kredit modal kerja meningkat sebesar 1,40 persen, kredit investasi sebesar 2,27 persen dan kredit konsumsi juga meningkat 1,90 persen. a�?Dengan kondisi tersebut mendorong peningkatan pembentukan modal dan pengeluaran konsumsi rumah tangga,a�? jelasnya.

A�Pengusaha Tersenyum

Kalangan pengusaha menyambut gembira perkembangan perekonomian NTB sepanjang 2016. Itu menjadi modal para pengusaha menatap cerah 2017. Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) NTB H Lalu Heri Prihatin kepada Lombok Post mengatakan, NTB sudah dilirik kalangan dunia usaha menyusul peningkatan di sektor ekonomi.

Tak usah rumit-rumit. Indikator utamanya adalah banyaknya investor yang berinvestasi di NTB baik di Pulau Lombok maupun di Pulau Sumbawa. NTB dinilai termasuk salah satu daerah yang iklim usahanya kondusif. a�?Tidak secara nasional saja, bahkan secara internasional NTB ini sudah dilirik kalangan usaha. Investasi itu kan sudah melalui perhitungan sedemikian rupa,a�? papar Heri Prihatin kemarin.

Hal yang paling membuat optimistis kata dia adalah posisi NTB yang kian dipercaya sebagai lokasi kegiatan-kegiatan skala nasional bahkan internasional. Dia mencontohkan bagaimana industri pariwisata NTB termasuk sektor pertanian telah menarik perhatian dunia. Begitu juga dari sektor lainnya baik perdagangan, pertambangan, serta infrastruktur.

Perhatian pemerintah pusat dari segi pengembangan infrastruktur di NTB diharapkan dapat diseimbangkan dengan program yang bermanfaat, terstruktur dan tepat sasaran. Menurut dia, salah satu bentuk perhatian pemerintah pusat adalah dengan mendorong pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Resort di Lombok Tengah.

Belum lagi jika menghitung efek pembangunan Pelabuhan Peti Kemas dan Terminal Kapal Pesiar di Lembar. Juga penghapusan 3.000 Peraturan Daerah serta pembentukan sekretariat bersama pungli merupakan sikap positif pemerintah pusat untuk mendukung perekonomian yang kondusif.

Ke depan, pemerintah perlu lebih kompak lagi. Sebab, kata Heri, pemerintah hanya mampu menangani 20% pembiayaan untuk infrastruktur. Selebihnya, pihak pengusaha dalam ini KADIN diyakini dapat melengkapinya.

Artinya, kata Heri, NTB harus lebih jeli melihat peluang dengan memperbanyak lapangan pekerjaan, ikut menggenjot daya beli masyarakat termasuk dengan menciptakan kondusivitas daerah. Sekaligus pemerataan program kerja di bidang ekonomi sehingga seluruh masyarakat merasakan dampaknya.

Yang penting itu kata dia, realistis dengan menggenjot sektor riil. Apalagi selama ini 80 persen pembelanjaan anggaran pemerintah dipakai untuk belanja pegawai. Maka sektor riil harus digerakkan.

Salah satu upaya yang harus dilakukan pemerintah menurut Heri adalah mencabut izin Hak Guna Usaha sejumlah tanah telantar untuk dimaksimalkan penggunaannya. Dia menilai, ratusan ribu hektare tanah telantar di NTB menjadi salah satu penghambat laju perekonomian.

Di samping itu, program pemerintah juga harus tepat sasaran sehingga hasilnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Membangun networking dengan berbagai pihak perlu dilakukan dengan catatan harus menyiapkan infrastruktur yang matang. a�?Nggak ada artinya kita promosi keberbagai negara tapi ternyata di dalam belum dibenahi. Jangan sampai kita jadi tong sampah pihak lain,a�? papar dia.

A�Tahun Politik

Dosen Pascasarjana Universitas Mataram Iwan Harsono berpendapat, kontestasi politik tahun 2017 juga akan berdampak positif pada ekonomi NTB. Tahun depan, proses pemilihan gubernur dan wakil gubernur NTB akan dimulai. Juga pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Lombok Timur dan Lombok Barat serta pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bima.

Alumni Universitas Of New England itu menilai politik dan ekonomi memang tak bisa dipisahkan. Dia mengambil contoh pengambilan keputusan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang melalui DPRD, adalah keputusan politik.

Dan keputusan politik itulah yang berimbas kepada sektor swasta dan tentunya dirasakan langsung oleh masyarakat. a�?Ada sekitar Rp 5 Triliun APBD NTB dan sekitar Rp 20 Triliun APBD kabupaten/kota yang dampaknya harus dirasakan oleh masyarakat,a�? papar Iwan kemarin.

Sehingga sudah jelas, APBD NTB serta kabupaten/kota itu, kata dia harus pro growth, pro job, dan pro poor. Artinya, harus berdampak positif terhadap masyarakat, mampu menumbuhkan lapangan pekerjaan, dan mampu menurunkan angka kemiskinan. Dengan begitu, menurut Harsono dapat menghasilkan perekonomian yang berkualitas.

Iwan mewanti-wanti agar pada 2017 legislatif maupun eksekutif harus menyumbang terhadap investasi yang kondusif. Bagi legislatif harus menghasilkan perda yang memudahkan investasi. Sedangkan eksekutif harus merealisasikan perencanaan ekonominya dengan program yang terarah dan dapat dirasakan oleh masyarakat.

Sementara itu, pengamat ekonomi Unram lainnya Firmansyah yakin ekonomi NTB tahun 2017 akan tumbuh lebih meningkat lagi. Dia mengatakan, tahun ini saja, meski mendapat tekanan dari luar yang berimbas pada perekonomian lokal, tapi NTB mampu tumbuh. Apalagi kalau tekanan itu berkurang.

Ia mengatakan, dari sisi inflasi menunjukkan tren terkendali. NTB masih bisa menjaga inflasi tahunan di bawah 3 persen. Padahal, biasanya jika pertumbuhan ekonomi tinggi, maka inflasi juga tinggi.

Menurut dia, sektor pariwisata menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi NTB. Entah itu bidang jasa, hotel, restoran, telah berkembang pesat di NTB. Tapi ia belum bisa memastikan berapa persen dihasilkan dari sektor pariwisata pada pertumbuhan ekonomi NTB.

Namun, dia mewanti-wanti. Bahwa tahun depan, persaingan cukup tinggi. Saat ini berbagai cara dilakukan orang luar untuk masuk NTB. Ia menyebutkan tol laut yang menghubungkan Surabaya dengan NTB, akan menjadi ancaman bagi orang lokal. Ini akan dimanfaatkan orang luar pada sektor industri.

Padahal, jika kebutuhan masyarakat dipasok orang lokal, maka perekonomian akan lancar. Tapi sebaliknya, jika kebutuhan masyarakat dipasok orang luar maka perekonomian akan tersendat. a�?Jangan sampai kebutuhan dipenuhi orang luar. Ini akan menjadi ancaman bagi kita,a�? urainya.

Ia mengatakan, potensi orang luar ini tak bisa diabaikan. Hampir semua sektor industri seperti hotel dan restoran ini berkembang karena pariwisata. Jangan sampai kebutuhan hotel ini dipasok dari orang luar. a�?Ini harus dimanfaatkan orang lokal,a�? ingatnya. (nur/tan/jay/kus/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka