Ketik disini

Praya

Alokasi Pupuk Tak Sesuai RDKK

Bagikan

PRAYA – Hampir setiap tahun para petani diA� Lombok Tengah (Loteng) kesulitan memndapatkan pupuk di musim tanam seperti ini. Jikapun ada harganya relatif mahal. Hal ini karena alokasinya, tidak sesuai dengan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), sehingga kelangkaan pupuk tak bisa dihindarkan.

a�?Mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi keputusan pusat dan provinsi,a�? kata Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Loteng H Nasrun, kemarin (27/12).

Asisten II Setda Loteng tersebut membeberkan, jika mengacu pada RDKK, maka kebutuhan pupuk per tahunnya untuk jenis urea sebanyak 24.680 ton, namun dialokasikan hanya 22.494 ton.A�A�A� Kemudian, kata Nasrun jenis NPK yang seharusnya 14.910 ton, alokasinya hanya 6.263 ton. Lalu, jenis SP36 dibutuhkan sebanyak 10.460 ton, dialokasikan 6.308 ton. Selanjutnya, pupuk ZA yang dibutuhkan 8.478 ton, dialokasikan 3.817 ton. Terakhir, pupuk organik dibutuhkan sebanyak 13.922 ton, dialokasikan hanya 8.535 ton.

Lagi-lagi, kekurangan yang ada dari alokasi berdasarkan RDKK tersebut, lanjut Nasrun sulit diatasi.

a�?Kalau mengacu RDKK, maka stok pupuk di daerah kita tercinta ini tetap saja kurang. Sehingga, wajar pupuk langka dan mahal,a�? kata Nasrun.

Ia mengaku, sudah beberapa kali menyurati pusat dan provinsi, guna menyesuaikan alokasi pupuk yang dimaksud. Sayangnya, keputusan itu tidak bisa diubah. Dengan alasan, keterbatasan anggaran negara. a�?Namanya saja, pupuk bersubsidi,a�? kata Nasrun.

Atas dasar itulah, pihaknya mengumpulkan seluruh UPT Dinas Pertanak di 12 kecamatan di Loteng. Termasuk, berkoordinasi dengan Badan Ketahanan Pangan Penyuluhan Pertanian (BKP3). Dengan harapan, solusi lain mulai diterapkan.

a�?Kalau kita mengacu pada analisa luas tanam pertanian, maka Insya Allah alokasi pupuk itu cukup, kalau pun ada kekurangan, bisa kita tutupi,a�? katanya.

Dari analisa itu, tambah Nasrun diputuskan luas tanam pertanian di Loteng setiap tahunnya mencapai 99.885 hektare (ha). Terdiri dari, 59.485 ha lahan pertanian. Sisanya, palawija. Jika dihitung dengan luas area tanam itu, maka kebutuhan pupuk jenis urea sebanyak 23.085 ton. Kemudian, SP36 sebanyak 7.487 ton, MPK 9.234 ton dan ZA hanya 4.991 ton.

a�?Kalau sudah seperti itu, maka mata rantai kelangkaan pupuk di daerah kita ini, tidak akan pernah selesai-selesai,a�? kata mantan sekretaris Forum Kepala Desa (FKD) Loteng Supardi Yusuf, terpisah.(dss/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka