Ketik disini

Metropolis

Bima Mulai Berbenah

Bagikan

MATARAM – Setelah porak poranda dihantam banjir bandang, Kota Bima kini mulai berbenah. Aktivitas warga menggeliat, meski belum pulih sepenuhnya. Masih ada 8.491 jiwa warga yang tinggal di pengungsian. Namun, sebagian besar warga lain telah kembali ke rumah mereka masing-masing dan membersihkan rumah dan membenahi harta yang masih selamat.

Jalan-jalan utama di dalam kota juga sudah mulai bersih dari tumpukan sampah. Sehingga arus lalu lintas kendaraan di jalan utama mulai membaik. Sampah-sampah bekas banjir menumpuk di pingggir jalan, dan memang memang memerlukan waktu untuk seluruhnya diangkut dan dibersihkan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTB H Muhammad Rum mengatakan, kemarin sebanyak 79 truk dikerahkan untuk mengangkut sampah di tepi jalan. Sebagian sampah itu juga dikumpulkan masyarakat yang mulai membersihkan rumah dan lingkungannya. Anggota TNI dan Polri bahu-membahu bersama masyarakat dalam aksi bersih-bersih ini.

Tak cuma tempat tinggal. Aksi bersih-bersih juga dilakukan di seluruh puskesmas milik Pemkot Bima yang memang tidak bisa melayani masyarakat karena terendam banjir. Aksi serupa juga dilakukan di sekolah-sekolah untuk memastikan para siswa bisa mulai belajar pada awal tahun 2017 usai liburan kenaikan kelas.

Tim medis dari Mabes TNI juga kemarin kata Rum sudah datang di Bima. Mereka akan mendirikan rumah sakit lapangan sementara di Bima untuk penanganan kesehatan warga pascabanjir. TNI mengerahkan dokter umum hingga dokter spesialis serta kebutuhan obat-obatan.

Rumah sakit darurat ini memang sangat diperlukan di Bima saat ini, lantaran seluruh puskesmas tidak ada yang beroperasi. Setelah terendam banjir, alat-alat kesehatan di puskesmas memang rusak. Obat-obatan pun demikian. a�?Target tanggal 31 Desember ini, sekolah sudah siap pakai untuk siswa yg masuk tanggal 3 Januari 2017,a�? kata Rum.

Sementara untuk Puskesmas, ditargetkan sudah bersih pada 3 Januari 2017 dan diharapkan bisa mulai memberikan layanan pada masyarakat.

Sementara ini, untuk layanan kesehatan hanya bisa di RSUD Kota Bima yang memang selamat dari terjangan banjir. Sehingga rumah sakit lapangan milik TNI sangat diperlukan. Sementara dukungan obat-obatan juga dipasok Dinas Kesehatan NTB.

Khusus untuk jembatan di jalan negara yang juga putus diterjang banjir di Kodo Lampe, kemarin kata Rum sudah mulai bisa dilalui kendaraan. Balai Jalan Nasional dan Dinas PU NTB kata Rum sudah memasang jembatan senentara atau baily. Sementara jembatan permanen menjadi prioritas pemerintah pada tahap selanjutnya.

Khusus untuk logistik, sudah aman hingga tanggap darurat berakhir 5 Januari 2017. Sebanyak 8.491 warga yang mengungsi, kini tinggal di sejumlah masjid dan sekolah. a�?Partisipasi masyarakat untuk logistik sangat besar,a�? kata Rum.

Bantuan dari kabupaten tetangga juga masih terus mengalir dan secepatnya di distribusikan kepada warga terdampak. Sementara pasar sudah berfungsi normal dan toko mulai buka walau belum semuanya.

Untuk mempercepat proses pembersihkan kota dari tumpukan sampah dan puing-puing pascabanjir, pemerintah menyiapkan program Cash For Work. Namun, berapa nilai program ini tidak dirinci Rum.

Warga Mulai Gatal

A�Sementara itu, hingga kemarin, warga Kota Bima yang sakit sudah mencapai 10 ribu jiwa. Sebagian warga yang korban banjir tersebut mengeluhkan gatal-gatal. Namun, sebagian besar dirawat jalan.

Setiap hari diperkirakan lebih dari 100 orang warga yang mendapat pelayanan kesehatan. Total diterjunkan 23 tim kesehatan untuk pelayanan pada masyarakat.

Wali Kota Bima H Qurais H Abidin mengatakan, dari 10 ribu jiwa warga yang mengeluh sakit, sebanyak 80 persen menjalan rawat jalan. Sementara sisanya rawat inap.

Qurais khawatir, akan bertambahnya korban terdampak yang akan dirawat. Lantaran kondisi lingkungan yang dipenuhi sampah dan sudah mulai mengeluarkan aroma tak sedap.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima H Azhari memastikan obat tak ada masalah. Bantuan terus berdatangan dari daerah tetangga. Selain bantuan obata��obatan, bantuan tenaga medis pun berdatangan.

Tim kesehatan juga kata dia menerjunkan sejumlah ambulans keliling untuk memberikan pelayanan. Karena dikhawatirkan ada korban banjir yang tidak sempat mendatangi posko kesehatan. Sehingga pelayanan bisa dilakukan di lokasi pengungsian.

Selain gatal-gatal, warga juga kedinginan, sehingga terjangkit serangan batuk dan pilek. a�?Yang kami utamakan disini adalah memberikan vitamin. Agar ketahanan tubuh mereka bagus dan tidak gampang terserang penyakit,a�? tandasnya.

A�Rumah Sakit TNI

Terpisah, kemarin pagi, KRI Teluk Bintuni 502 telah bersandar di Pelabuhan Bima. Kapal perang ini membawa pasokan logistik, kendaraan, dan perlengkapan rumah sakit (RS) darurat.

RS darurat didirikan di Paruga Nae Convention Hall, kompleks kantor wali kota. Ketua Tim Medis Mabes TNI Laksamana Muda dr Lalendra mengatakan, pukul 16.00 Wita RS sudah mulai beroperasi, setelah mulai dibangun personel TNI semenjak pukul 10.00 Wita.

Lalendra mengaku selain perlengkapan RS darurat, dia juga membawa 248 personel. Di antarnya akan membantu memberisihkan kota, sendangkan sisanya merupakan dokter dan para medis.

Pelayanan dipastikan gratis dan tanpa administrasi yang berbelit-belit dan panjang. Sebab itu dalam kondisi darurat. a�?Warga kota silahkan saja ke sini untuk berobat,a�? tegasnya.

Komandan Satgas Kesehatan Kolone Ckm Sukarnanta menuturkan sudah menyiapkan fasilitas medis. Mulai dari ruang rawat inap, IGD, poli kesehatan hingga ruang bedah.

a�?Apa yang kami bangun ini sama seperti RS, baik itu dari sisi fasilitas hingga pelayanannya,a�? aku kepala Kesehatan Kodam IX Udayana ini saat dtemui di Paruga Nae Convention Hall.

Untuk melengkapi standar pelayanan kesehatan, dia megaku sudah membawa beberapa dokter spesialis. Mulai dari spesialis anak, gigi hingga bedah. a�?Semua obat-obatan juga telah kami siapkan,a�? tuturnya.

Saat ditanya berapa tenda rawat inap yang disiapkan? Dia mengaku sudah ada tiga ruang rawat inap dengan kapasitas 15 orang tiap ruang. Namun, jumlah itu bisa bertambah tergantung kondisi.

Selain gatal, serangan batuk dan pilek, diperkirakan, warga juga akan rawan terhadap penyakit ISPA atau inspeksi saluran pernapasan atas dan muntaber. a�?Ini karena lingkungan tidak sehat,a�? katanya.

Pantauan koran ini, untuk ruang inap tendanya dibangun di dalam gedung serbaguna Paruga Nae Convention Hall. Kemudian poli kesehatan dan IGD dibangun diluar. Setiap tenda yang dibangun dilengkapi fasilitas pendingin ruangan.

A�Terminal

Terminal Dara di Kota Bima kemarin juga sudah mulai beroperasi. Terutama angkutan umum bus antar kota dalam provinsi. Terminal ini tutup semenjak banjir bandang melanda kali pertama 21 Desember 2016.

Namun begitu, operasi terminal belum optimal. Kendaraan yang ada juga masih 20 persen dari kondisi normal sebelum bencana banjir menerjang.

Pantauan koran ini, aktivitas sudah ada beberapa bus tujuan Sumbawa yang menunggu penumpang. Beberapa bus lain untuk layanan ke Dompu dan beberapa tujuan di Kabupaten Bima.

Kondisi terminal terlihat sangat memprihatinkan. Meski tidak ada bangunan yang rusak, tapi terminal masih dipenuhi tumpukan lumpur di beberapa titik.

Mustamin, sopir bus Bimaa��Sumbawa menuturkan, kemarin merupakan hari pertama mereka beroperasi. Diperkirakan ada 10 bus yang beroperasi dari pagi hingga sore. a�?Penumpang masih sepi,a�? katanya.

Khusus untuk bus tujuan Mataram, kata dia, sudah mulai beroperasi semenjak Senin (26/12). Namun, bus tersebut kata dia tidak menunggu penumpang di terminal. Melainkan di lingkungan Amahami Kota Bima.

Supratman, petugas Terminal Dara mengatakan, pengoperasian terminal memang belum pulih. a�?Baru sedikit bus yang beroperasi. Halaman terminal yang bisa dimanfaatkan pun baru sebagian,a�? ujarnya.

Khusus untuk bangunan terminal belum bisa dimanfaatkan. Sebab di dalamnya masih ada tumpukan lumpur.

A�Pasar Amahami

Khusus untuk perekonomian warga, juga mulai menggeliat. Pasar Raya Amahami Kota Bima yang diresmikan Presiden Joko Widodo tengah tahun ini, juga kemari mulai buka. Hanya saja, pedagang menggelar lapak di atas genangan air. Kondisi pasar pun masih becek.

Pantauan koran ini, jumlah pedagang hanya sebagian kecil saja. Namun, meski becek, pembeli tak peduli. Karena beberapa hari terakhir, pasar tersebut memang tutup.

Pemandangan berbeda justru terlihat di komplek pertokoan Pasar Senggol Bima. Tidak terlihat satu pun toko yang buka. Di sana, lumpur yang mengendap di lantai depan toko belum juga dibersihkan.

Hadijah, 48 tahun, warga Kelurahan Sambinaa��e mengaku, sudah empat hari mereka tidak berjualan semenjak banjir menerjang. Meski pasar Amahami becek, ia dan pedagang lain memilih berjualan.

Menurut dia, usai banjir pertama, mereka sempat berjualan. Namun, setelah banjir susulan kembali menerjang, mereka tidak bisa lagi berjualan. Karena komplek pasar tersebut digenangi air setinggi tiga meter.

Halimah, 51 tahun, pedagang sayur mengaku rugi banyak. Karena stok sayur yang disimpan seluruhnya busuk. Tidak bisa dijual lagi. a�?Kami tidak menyangka akan ada banjir susulan. Saya mengambil sayur banyak sekali. Ternyata keesokan harinya banjir dan sayur itu tidak bisa saya jual,a�? ujarnya.

Beroperasinya pasar disambut bahagia warga Kota Bima. Puji, 26 tahun, ibu rumah tangga warga BTN Panggi mengaku senang bisa belanja kebutuhan lagi.

Beberapa hari terakhir, keluarganya hanya bisa mengonsumsi mie dan telur. Ia mengaku sangat membutuhkan ikan dan juga sayur. (kus/LGP/nk/yet/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka