Ketik disini

Headline Kriminal

Kasus Asusila di NTB Naik 400 Persen

Bagikan

Kasus tindak kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak A�di NTB semakin menghawatirkan. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah kasus pidana asusila yang meningkat tajam sepanjang tahun 2016.

***

TAHUNA�A�ini Polda NTB dan jajarannya menangani sekitar 200 kasus pidana asusila. Angka ini meningkat lebih dari 400 persenA� mengingat tahun 2015 A�lalu polisi hanya menanganiA� 46 kasus saja. Dari jumlah itu A�60 persen merupakan kasus perkosaan dan pencabulan.

Sumbangan A�kasus asusila terbanyak berasal dari wilayah hukum Polres Mataram, yakni sebanyak 46 kasus. Menyusul setelahnya di Polres Lombok Tengah (Loteng) dan Lombok Timur (Lotim), dengan masing-masing jumlah kasus sebanyak 34 dan 26 kasus.

Untuk tindak pidana asusila dengan unsur pencabulan, paling banyak terjadi di Polres Mataram sebanyak 31 kasus. Disusul Lotim, sebanyak 16. Adapun kasus pemerkosaan, sebanyak enam kasus terjadi di wilayah hukum Polres Kabupaten Bima.

Hingga Desember iniA� 77 kasus telah diserahkan kepada jaksa untuk dilakukan penuntutan. Kemudian 89 kasus di tahap penyidikan dan 34 lainnya dalam tahap penyelidikan.

A�Beberapa Kasus Yang Menarik Perhatian Publik

A�ejumlah kasus tindakan asusila mencuat pada tahun ini antara lain dugaan perkosaan yangA� HM (inisial, Red) di Lombok Tengah, Maret lalu. Peristiwa itu bermula, saat korban kerasukan dan mengalami demam tinggi.

Tanpa berfikir panjang, orang tua korban langsung meminta tolong kepada seorang dukun, agar anaknya diobati. Pertolongan pertama yang dilakukan pelaku dengan cara merukiyah korban sebanyak delapan kali. A�Namun, pasien tidak kunjung sehat. Alhasil, sang dukun pun meminta kepada kedua orang tua korban, agar menyediakan sejumlah bahan ritual meliputi, kain putih, kembang dan air bersih.

Tujuannya, untuk memandikan korban. Sang dukun lagi-lagi meminta, agar korban hanya menggunakan kain putih saja, tidak boleh memakai pakaian dalam dan sebagainya.

Kondisi kesehatan A�anak yang mengkhawatirkan, membuat kedua orang tua korban tak menaruh curiga. Namun sayang sang dukun justru berniat lain. HMA� yang tengah kerasukan diduga disetubuhi pelaku di kamar mandi.

Awalnya keluarga mengira tak terjadi apa-apa. Terlebih HM pulih dari sakitnya. Namun seiring waktu ia curiga dengan kondisi perut anaknya yang terus membesar. Kasus ini kemudian berakhir di tangan polisi.

asus dengan korban lebih banyak lagi terjadi di Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, awal Mei lalu. Disini bukan hanya korban saja yang masih di bawah umur. Terduga pelaku juga masih duduk di bangku SMP.

Remaja 16 tahun ini diduga mencabuli empat bocah ingusan. YakniA� tiga pelajar sekolah dasar, GM, 9 tahun, RP, 8 tahun, dan SM, 9 tahun. Satu lagi berinisial Hi, berumur 5 tahun. Seluruh korban ini berasal dari Desa Sesaot.

Akses terhadap video porno diduga menjadi pemicunya. Hal ini seperti diterangkan Kapolsek Narmada Kompol Setia Widjatono yang menyebut sebelum beraksi pelaku disebut mempertontonkan video porno kepada para korbannya.

Sebulan kemudian warga Lombok Timur (Lotim) digegerkan dengan penemuan bayi perempuan tak jauh dari pesisir Labuhan Lombok. Dari hasil penyelidikan diketahui bayi terebut merupakan hasil hubungan gelap sedarah. Seorang remaja berinisial SP diduga menggauli ibu kandungnya sendiri, NRH, hingga hamil.

Sementara itu di Lombok Barat seorang warga negara Inggris berinisial St ditangkap atas dugaan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur (pedofilia) asal Pringgarata, Loteng. Menurut Kasubdit IV Ditreskrimum Polda NTB I Putu Bagiartana, pelaku A�memberikan bayaran kepada korban Rp 500-700 ribu.

a�?Korban diiming-imingi uang, sehingga mau berbuat,a�? kata dia.

Para Predator Tak Pernah Jera

Untuk memberikan efek jera bagi para predator, pemerintah tengah menyiapkan aturan kebiri bagi pelaku pedofil. Namun, hukuman itu masih menjadi perdebatan hangat. Koordinator Divisi Advokasi LPA NTB Joko Jumadi sendiri setuju dengan hukuman tersebut. Namun menurutnya, efektifitas untuk memberikan rasa jera bagi pelaku itu masih dipertanyakan.

a�?Artinya, mampukah hukuman itu menjamin seseorang untuk tidak mengulang lagi perbuatannya itu atau tidak. Itu yang menjadi pertanyaan besar,a�? kata Joko beberapa waktu lalu.

Joko berpendapat, khusus untuk kasus pedofila, efek jera bagi para pelaku itu kemungkinan besar tidak akan bisa tercapai. Pasalnya, A�tindakan yang diberikan kepada para predator bukan pada akibat hukumannya. Melainkan, bermasalah pada psikologinya.

a�?Yang menjadi tolok ukur efek jera itu terdapat pada dalam diri masing-masing orang,a�? jelasnya.

a�?Banyak juga pelaku yang tidak secara aktif menggunakan kelamin. Malah mereka menggunakan beberapa alat,a�? ungkapnya.

Artinya, selain memberikan hukuman, psikologis pelaku juga harus dibenahi. Sehingga para sadar dan tidak menjelma lagi menjadi seorang predator.

a�?Pendekatan psikologis ini sangat penting untuk memberikan pemahaman dan pembelajaran kepada seluruh pelaku,a�? ungkapnya.

Terpisah, Sosiolog Dwi Chaniago menilai, kejahatan seksual terhadap anak sudah termasuk dalam kejahatan luar biasa. Artinya, harus ada tindakan represif kepada pelaku sebagai pemberi efek jera.

a�?Hukuman kebiri mungkin cocok bagi pelaku Pedofil,a�? imbuhnya.

Pemberlakuan hukum kebiri sebagai pendekatan represif harus disertai dengan pendekatan restitutif. Dimana peran serta masyarakat sebagai alat kontrol sosial dalam deteksi dini kondisi patologis seksual di lingkungannya.

a�?Hal harus dimulai pada level terendah dalam masyarakat, yakni keluarga,a�? ujarnya.A�(wahidi akbar sirinawa/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka