Ketik disini

Headline Metropolis

Saham Lepas, Mandalika Belum Tuntas

Bagikan

Tahun 2016 menjadi tahunA� yang mendebarkan. Banyak keputusan pemerintah yang menuai kontroversi. Seperti penjualan saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) hingga pembebasan lahan KEK Mandalika Resort yang belum tuntas.

***

KEPEMILIKAN saham Pemprov NTB di PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) akhirnya berakhir. Hal ini dipastikan setelah DPRD NTB menyetujui penjualan saham PT Daerah Maju Bersaing (DMB) sebesar 6 persen yang ada di PT NNT kepada PT Multi Daerah Bersaing (MDB). Persetujuan dewan ini disahkan melalui rapat Paripurna DPRD NTB, Rabu (31/8) lalu.

Persetujuan dewan ini menjadi titik balik berakhirnya campur tangan daerah di perusahaan yang telah mengeksploitasi kekayaan alam NTB tersebut. Sebanyak 10 fraksi di DPRD NTB bulat menyetujui usulan penjualan saham tersebut, yakni Fraksi Golkar, Fraksi Demokrat, Fraksi Gerindra, Fraksi PPP, Fraksi PKS, Fraksi Hanura, Fraksi PDIP, Fraksi PKB, Fraksi PAN, dan Fraksi Bintang Reformasi.

Melalui surat Gubernur NTB Nomor 570/576 tanggal 15 mei 2016 tentang permohonan persetujuan penjualan saham, Pemprov NTB memandang penjualan saham ini akan memberikan manfaat yang lebih besar kepada para pemegang saham di PT MDB. Khususnya Pemprov NTB, Pemda Sumbawa dan Pemda Sumbawa Barat.

Ada beberapa persyaratan dalam penjualan ini, Pemprov NTB akan diberikan ruang dengan menempatkan seorang komisaris sebagai perwakilan daerah di PT AMNT. Selain itu, juga akan ada pelibatan PT DMB milik daerah dalam pengadaan barang dan jasa di PT AMNT.

Sayang, penjualan saham ini masih meninggalkan banyak pertanyaan, misalnya terkait pelunasan piutang dividen yang belum dibayar PT MDB kepada daerah sebesar Rp 84 miliar. Jatah Pemprov NTB atas penjualan saham tersebut belum diumumkan ke publik. Hingga PT NNT resmi berganti nama menjadi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMANT), masalah ini belum terjawab.

PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) berganti nama menjadi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) seiring dengan rampungnya proses transaksi pengambilalihan kepemilikan saham di NNT sebesar 82,2 persen oleh PT Amman Mineral Internasional (AMI).

Pemilik saham NNT dan aset-aset terkait lainnya sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan nasional yakni AMI yang menguasai 82,2 persen, kepemilikan saham dan PT Pukuafu Indah sebagai pemegang saham sebanyak 17,8 persen.

AMI adalah perusahaan Indonesia yang pemegang sahamnya adalah AP Investment dan Medco Energi. Dalam proses transaksi pembelian saham NNT ini, AMI didukung oleh sebuah konsorsium perbankan Indonesia dan internasional. Presiden Direktur NNT Rachmat Makkasau ditunjuk kembali oleh pemegang saham baru menjadi Presiden Direktur AMNT.

Akhir tahun 2016 juga diwarnai dengan alotnya pembayaran lahan 109 hektare di kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika. Beberapa menteri Jokowi turun ke Lombok Tengah untuk mempercepat penyelesaian lahan, seperti Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan. Dia mengumpulkan warga, menyerap aspirasinya. Pemprov NTB bersama Kapolda NTB dan Danrem 162/WB bersama instansi lainnya membentuk tim percepatan.

Pemerintah akhirnya menawarkan Rp 4,5 juta per are bagi warga. Sebab lahan tersebut dianggap sebagai milik pemerintah. Tapi tawaran ini ditolak mentah-mentah warga yang menguasai lahan tersebut. Kini, Pemprov NTB mengklaim 90 are sudah setuju untuk dibayar, tinggal 18 are yang belum tuntas. Sehingga pembangunan bisa dikebut di tahun 2017. Tapi sayang hingga saat ini persoalan lahan di KEK Mandalika belum tuntas.

Hal ini menjadi tantangan Pemprov NTB di 2017 untuk menuntaskan persoalan sengketa lahan antara warga dengan pemerintah. Jika tidak pembangunan KEK Mandalika akan terus terhambat. (sirtupillaili/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka