Ketik disini

Headline Pendidikan

UN Kehilangan Marawah

Bagikan

April 2016 lalu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi siswa yang menjadi peserta UN. Pasalnya, evaluasi tahunan ini bukan lagi menjadi syarat kelulusan, melainkan hanya sebagai pemetaan mutu pendidikan.

***

SEJAK April 2016 lalu UN tak lagi menyeramkan atau mengerikan. UN biasanya paling ditakuti para siswa tingkat akhir setiap jenjang pendidikan. Sebab, akan menentukan nasib siswa. Apakah lulus atau tidak?. Namun pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memutuskan ujian nasional (UN) tidak lagi jadi penentu kelulusan siswa. UN tetap ada, tapi bukan lagi menjadi syarat kelulusan.

Keputusan ini disambut beragam dari kalangan pendidikan. Ada yang setuju, ada pula yang tidak setuju.

Sebelumnya, nilai UN dijadikan sebagai syarat kelulusan.Penilaian kelulusan siswa pada UN dengan nilai bobot perbandingan antara nilai UN dengan nilai ujian sekolah (US) 50:50. Dan inilah bagian dariA�penentu kelulusan ujian.

Tapi, pada UN 2016 lalu, A�kelulusan siswa ada ditangan sekolah dengan tidak lagi menjadikan UN sebagai syarat kelulusan. UN tetap digelar dan setiap siswa wajib mengikutinya minimal satu kali. Selanjutnya, nilai yang ada terbagi dalam empat kategori. Yakni kurang (0-5,5), cukup (5,5-7), baik (7-8,5), dan sangat baik (8,5-10). a�?Siswa yang belum mencapai kompetensi kelulusan atau kurang dari 5,5 dapat mengikuti UN perbaikan pada tahun berikutnya,a�? kata Sekdis Dikpora NTN B Aidy Furqan.

Aidy mengatakan, jika melihat bunyi dari undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional siswa wajib melaksanakan UN. Jika siswa tidak melaksanakan UN maka tidak akan lulus. Ini artinya kata dia, UN secara tidak langsung masih menjadi penentu kelulusan. a�?Siswa yang tidak ikut UN maka tidak lulus,a�? imbuhnya.

Dulu kata Aidy, UN selalu masuk menjadi penentu kelulusan. Nilai US dan nilai UN digabungkan menjadi satu menentukan kelulusan siswa. Formula seperti ini dinilai cukup efektif dalam meningkatkan mutu pendidikan.

UN yang tak lagi menjadi penentu kelulusan beredar kabar pengawasan UN kendor. Isunya, para pengawas membiarkan siswa melakukan kecurangan. Bahkan ada isu salah seoarang guru memberikan kunci jawaban kepada siswa dalam pelaksanaan UN. Bukan hanya itu, UN tidak dijadika syarat kelulusan membuat sekolah berlomba-lomba melulusakan siswanya. Jika A�siswa tidak lulus maka akan menjadi aib bagi sekolah itu sendiri. Sehingga, sekolah mau tak mau meluluskan siswanya.

Aidy menuturkan, kebijakan tidak lagi menjadikan UN sebagai syarat kelulusan membuat siswa dapat belajar dengan lebih tenang tanpa merasa tertekan. Pasalnya, jika ada UN maka siswa harus berpikir dan belajar ekstrakeras agar bisa lulus.Filosofi yang ingin dikembangkan Kemendikbud saat ini adalah belajar menyenangkan dan sebisa mungkin siswa tidak merasa tertekan.

Di sisi lain kebijakan ini menyisakan pekerjaan rumah agar guru bisa memotivasi siswa tetap rajin belajar meski sudah tidak ada UN menjadi penentu kelulusan. a�?Kami tak ingin kebijakan ini membuat siswa menjadi malas belajar,a�? ctus dia. Guru lanjut dia, A�memiliki peran di sini. Dikpora kabupaten/kota juga membuat kesepakatan bersama menentukan standar nilai meluluskan siswa.

Ketika UN sebagai syarat kelulusan A�maka akan membuat mereka tertekan. Apalagi siswa yang A�tidak memenuhi standar nilai dalam UN. Padahal setiap anak punya kelebihan masing-masing dan tidak bisa diseragamkan.

Sementara itu Pengawas Dikpora Kota Mataram Muhammad Jaelan mengatakan, UN yang tak lagi menjadi syarat kelulusan akan kehilangan marwah. Jika seperti ini kata dia, maka akan banyak guru yang akan meluluskan siswanya. a�?Harus ada keterlibatan UN dalam kelulusan,a�? ucapnya.

Kini kata dia, tradisi seperti istighotsah dan zikir bersama menjelang UN sudah tidak ada lagi. Ini tidak lepas karena peran UN yang sudah tidak ada andil kelulusan. a�?UN menjadi penentu kelulusan harus tetap ada jika ingin kualitas mutu meningkat,a�? kata dia.

Ia mengatakan, UN sudah tak ada lagi ruhnya. Pengawasan pelaksanaan UN jelas akan kendor. Sebab, UN ini akan sama artinya dengan US. Mestinya, pemerintah tetap mempertahankan UN menjadi syarat kelulusan. a�?Kalau seperti ini motivasi siswa untuk belajar juga akan menurun,a�? ujar dia. (jay/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka