Ketik disini

Giri Menang

Banjir Terparah, Pilkades Diwarnai Sengketa

Bagikan

Sepanjang tahun 2016, banyak peristiwa mencolok di Lobar. Beberapa menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan pemkab tahun depan. Apa saja?

***

SELAMAT A�tinggal tahun 2016, selamat datang tahun 2017.A� Kurang dari 24 jam lagi, tahun dengan penuh semangat baru akan datang. Seiring dengan itu, kenangan tahun 2016 akan terkubur menjadi catatan penting yang tak pernah terlupakan.

Lobar, sebagai salah satu daerah yang mulai menggeliat dan berbenah masih memiliki segudang pekerjaan rumah. Bisa dibilang, tahun 2016 merupakan tahun kelam bagi Lobar. Betapa tidak, bencana banjir tahunan yang hanya diprediksi skala kecil, di luar dugaan ternyata merendam tujuh desa.

Kendati belum separah Kota Mataram ataupun Kota Bima, namun banjir yang terjadi di Lobar tahun ini menjadi banjir terparah. bahkan, anggaran bantuan banjir yang digelontorkan pemkab setiap tahun senilai Rp 1 miliar, hanya pada tahun ini ludes terpakai.

Banjir ini tidak semata akibat tingginya curah hujan. Banjir lebih banyak disebabkan ulah manusia. Dandim 1606/Lobar Letkol Ardiansyah menyebut, khususnya banjir di Kecamatan Batulayar disebabkan penyempitan irigasi karena sampah, dan pembangunan villa yang dianggap semakin tak terkontrol.

Sementara Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid mengatakan banyak faktor yang menyebabkan banjir tahun ini merembet cukup luas. Pertama, karena banjir memang murni bencana alam yang disebabkan curah hujan dengan intensitas tinggi. Kemudian diakui, masalah tata ruang memperparah banjir yang terjadi. Beberapa bangunan villa khusunya di wilayah Batulayar dianggap menutup saluran irigasi.

Di penghujung tahun 2016, tepatnya tanggal 7 Desember Lobar menyelenggarakan pilkades serentak. Dengan desa peserta pilkada sebanyak 18 desa.

Meski secara umum tahapan pilkades serentak diklaim kondusif. Namun persoalan muncul begitu tahapan pencoblosan tuntas. A�BPMPD Lobar selaku panitia kabupaten, menerima dua aduan terkait pilkades serentak tahap pertama ini. Yaitu dari Desa Gili Gede Indah dan Omber Baru.

Di mana salah satu calon kades di dua desa tersebut merasa tidak puas dengan kinerja panitia di tingkat desa. Mereka merasa dirugikan. Banyak kertas suara sah hak mereka dianggap tidak sah. Buntutnya, kantor Desa Ombe Baru disegel oleh pendukung massa calon nomor urut tiga yang meras dirugikan.

Jika tidak ingin berpotensi terulang pada pilkades serentak 2018, persoalan sengketa ini harus disikapi serius oleh pemkab. Karena, bukan tidak mungkin sengketa terulang lagi.

Satu lagi yang perlu disikapi oleh semua pihak adalah penyebaran HIV/AIDS yang semakin mengkhawatirkan. Penyebaran virus mematikan ini menjadi ancaman nyata.

Catatan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Lobar tahun 2016, jumlah penderita HIV 16 dan AIDS 13. Parahnya, jumlah tersebut didominasi usia produktif 21-30 tahun.

Kendati jumlah tersebut menurun dibanding tahun 2015, namun Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Lobar sepanjang tahun 2016 mencatat dua orang dengan HIV/AIDS (ODHA) meninggal dunia.

Peristiwa lain yang menyita perhatian publik tahun 2016 di Lobar adalah penyegelan Hotel Santosa. Untuk kedua kalinya, Hotel Santosa disegel Pemkab Lobar setelah tahun 2013 karena tidak mampu melunasi utang pajak. Dengan total utang mencapai Rp 8 miliar lebih, aset hotel berupa tempat parkir dan lapangan golf terancam dilelang. (M. Zainuddin/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka