Ketik disini

Headline Metropolis

Bencana Terparah, Mutasi Mengecewakan

Bagikan

Salah satu peristiwa yang paling menyita perhatian publik tahun ini adalah saat Kota Mataram dilanda banjir. Ini merupakan banjir terparah sepanjang 40 tahun terakhir. Akhir tahun, ditutup dengan mutasi fenomenal.

***

PADA Bulan Oktober, mimpi buruk itu mulai jadi kenyataan. Dimulai dari tibanya musim penghujan. Baru beberapa jam diguyur, seperti yang terpantau pada hari selasa (13/9) lalu, ruas jalan hampir sepanjang jalan Udayana dan Airlangga digenangi air.

Luapan air sampai setinggi puluhan centimeter dan membuat para pengendara yang melintas harus ekstra hati-hati. Lubang-lubang resapan atau biopori, tidak bisa maksimal menyerap air yang meluap. Beberapa di antaranya bahkan mampet oleh endapan lumpur.

Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram I Gede Wiska menilai banjir ini akibat minimnya normaliasi saluran drainase di Kota Mataram. Meski tidak bisa disebut pembiaran, namun dinas teknis yakni Pekerjaan Umum (PU) Kota Mataram seperti lalai dan menunggu terjadi banjir, lalu baru bekerja.

a�?Karena itu, pengawasan PU ini kita pertanyakan,a�? cetus Wiska.

Tidak hanya PU, tetapi pola kebiasaan beberapa masyarakat tak luput dikiritik politisi PDIP ini. Ia pada dasarnya memahami keterbatasan kemampuan dan jumlah dari pasukan biru menormaliasi saluran-saluran drainase di Kota Mataram. Belum lagi, banyak pemilik tempat usaha yang membeton saluran penutup drainase sehingga sulit dibongkar.

a�?Karena pasukan biru juga sepertinya kesulitan melakukan normalisasi, tapi tentu tidak boleh dibiarkan juga (harus dinormaliasi) dan pemilik tempat usaha harus diingatkan,a�? tegasnya.

A�a�?Jadi kedepan, sebaiknya jadi program prioritas, untuk perbaikan drainase ini,a�? tegasnya.

Sedimentasi Menebal, Warga serobot Sungai

Ditelisik lebih dalam, seperti di sepanjang Sungai Gedur, yang melitasi kawasan Karang Panas, Taman Kapitan hingga Taman Sari, kondisinya sangat buruk. Tidak hanya disebabkan sedimentasi tanah yang menebal hingga ditumbuhi banyak rumput dan tanaman. Tetapi juga, perumahan warga baik permanen dan semi permanen dibangun tepat di bibir saluran.

Bahkan di salah satu titik pantau, sebuah berugaq dibangun tepat di atas saluran. Padahal ini menyalahi aturan. Sebab, berpotensi menimbulkan banjir. Terutama saat musim hujan dan debit air tinggi.

a�?Aneh juga aparat kelurahan seperti membiarkan pelanggaran itu,a�? keluh salah seorang warga, Dewa Wayan Djawatha, pada Lombok Post.

Akibatnya, saluran terlihat semakin sempit. Sepanjang yang diketahui, warga yang bermukim dekat dengan sungai, tidak pernah memberikan teguran. Karenanya saat hujan turun, ia mengaku tak heran, Kota Mataram bakal terendam.

Anggota Komisi III DPRD Kota Mataram I Ketut Sugiartha, menyebutkan persoalan sedimentasi memang sudah mengakar di kota. Tidak hanya di Sungai Gedur, tetapi hampir semua saluran sungai, drainase hingga selokan.

a�?Saya pikir, sedimentasi hampir terjadi di semua saluran,a�? ujarnya.

Bencana pun Tiba

Sabtu (10/12) bencana yang ditakutkan tiba. Kota Mataram di kepung air di mana-mana. Tingginya dari 30 cm hingga setinggi dada. Bahkan dalam laporan, beberapa rumah hanyut.

Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh langsung meninjau lokasi banjir.A� Sepanjang perjalanan wali kota mengontak beberapa kepala dinas. Di antaranya Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram.

Ahyar meminta, dua dinas ini mencari solusi tercepat mengatasi bencana. Tak terkecuali Camat Sekarbela juga diminta segera melihat kondisi warganya.

Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengajak semua pihak melihat persoalan ini secara holistik. Banjir yang terjadi, benar-benar di luar dugaan. Begitu juga debit hujan yang turun sangat lebat. Tidak hanya terjadi di Kota Mataram, tetapi juga terjadi di kawasan Lombok Barat dan sebagian lagi Lombok Tengah.

a�?Sekali lagi saya tekankan, letak geografis Kota Mataram ini berada paling rendah dibanding daerah lain, membuat daerah ini kerap jadi tempat pembuangan air,a�? kata Mohan.

Beberapa sungai di kota juga merupakan terusan sungai dari daerah lain seperti Lombok Barat. Akibatnya, kondisi hujan yang merata meningkatkan volume air yang mengalir di Kota. Praktis kawasan-kawasan yang dilintasi sungai itu mengalami banjir.

Harapan Perubahan Mesin Birokrasi

Pascabencana, isu mutasi semakin hangat. Banyak pihak yang berharap, terpilih pejabat yang berkompeten di bidangnya. Apalagi ini juga didukung dengan PP 18 tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah yang mengharuskan daerah, melakukan perubahan secara besar-besaran pada struktur organisasinya.

Tapi kemudian banyak mencuat isu soal bekingan yang mengancam terjadinya perubahan. Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana menepis isu itu. Namun sejarah politik mutasi di kota, sepertinya masih menakuti banyak pejabat.

Mutasi akhirnya digelar kemarin (30/12). Dikabarkan banyak pejabat yang kecewa. Mereka menganggap mutasi kali ini sebenarnya tidak memberi efek dan perubahan apapun terhadap wajah kota.

Mereka pada dasarnya berharap ada perubahan yang besar pada organisasi perangkat daerah yang baru. Tetapi kenyataanya, banyak wajah-wajah lama yang hanya dirotasi posisinya ke tempat yang lain. Tidak ada demosi yang digembar-gemborkan selama ini. Pejabat-pejabat yang menjadi tulang punggung menghadapi bencana juga hanya wajah-wajah lama.

a�?Banyak (bawahan) pada ngeremon atasannya tidak sesuai harapan. Bagaimana mau baik, pejabat-pejabatnya saja masih saja kayak gini-gini saja,a�? kritik seorang pejabat yang meminta namanya tidak dikorankan. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka