Ketik disini

Selong

Kekerasan Terhadap Anak di Lotim Meningkat

Bagikan

SELONG – Lombok Timur (Lotim) menjadi daerah yang memiliki kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tertinggi di NTB. A�Sejumlah faktor dinilai berperan dalam peningkatan ini. Mulai faktor lingkungan hingga pemerintah yang dianggap kurang serius menangani kasus tersebut.

a�?Kalau tahun lalu jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan itu 119. Sedangkan kasus kekerasan terhadap anak itu 101. Jumlah ini meningkat menjadi 258 dari dua kasus tersebut,a�? jelas Kab Kabid Perlindungan Perempuan dan A�Anak BPPKB Lotim Baiq Farida Apriyani.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dikatakan Yani, sapaan akrabnya mendominasi kasus kekerasan terhadap perempuan. Selain itu, ada juga kasus pelecehan seksual dan perdagangan perempuan. Sedangkan untuk kasus anak-anak didominasi kasus pernikahan dini dan pelecehan seksual.

a�?Meski jumlah kasusnya meningkat, itu jangan selalu diartikan negatif. Bisa saja ini meningkat karena kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ini sekarang lebih baik dari sebelumnya,a�? terangnya.

Keterbatasan petugas dan sarana prasaranan di Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak dirasakan membuat upaya penekanan kasus kekerasan kurang maksimal. Anggaran yang tak memadai serta jumlah anggota yang hanya enam orang dinilai belum mampu mengimbangi banyaknya kasus yang terjadi.

a�?Kadang ruangan kami ini sepi karena semua petugas keluar menangani kasus di seluruh wilayah yang ada di Lotim,a�? cetus Kasi Perlindungan Perempuan dan Anak, Serkapudin.

Karena itu batalnya rencana pembentukan Dinas khusus yang membidangi masalah pemberdayaan perlindungan perempuan dan anak dikatakan sangat disayangkan.

A�a�?Tapi mau bagaimana lagi, karena keterbatasan anggaran daerah ya itu batal terwujud,a�? bebernya.

Tahun 2016, Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak BBPKB Lotim mendapat kucuran anggaran Rp 190 juta. Anggaran ini tahun depan dikatakan meningkat. Dengan rincian 190 juta untuk perlindungan perempuan dan 149 juta untuk perlindungan anak.

a�?Makanya, satu-satunya langkah yang kami ambil dengan segala keterbatasan ini, kami berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lotim, LSM, dan semua tokoh masyarakat,a�? jelas Serkapudin.

Wacana untuk menuju Lotim sebagai Kabupaten Layak Anak juga seolah hanya menjadi mimpi belaka. Karena, dari 31 indikator pemenuhan hak anak, baru satu indikator yang terpenuhi di Lotim. Itu pun tidak secara keseluruhan. a�?Kalau untuk Kabupaten Layak Anak itu masih belum. Mungkin tahun 2018 nanti baru bisa dicanangkan,a�? tandasnya. (ton/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka