Ketik disini

Metropolis

Selamat Tahun Baru 2017

Bagikan

MATARAM – Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB menyiapkan uang sedikitnya Rp 1,4 triliun untuk menyambut Natal dan Tahun baru 2016. Jumlah tersebut melonjak 27 persen dibanding natal dan tahun baru tahun sebelumnya.

a�?Kita antisipasi karena ada lonjakan permintaan,a�? kata Humas Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB Anita Lubis pada Lombok Post kemarin(31/12).

Dia mengatakan, peningkatan kebutuhan akhir tahun ini karena momen natal dan tahun baru bersamaan pula dengan momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Diketahui Masyarakat Pulau Lombok memperingati maulid sebulan penuh dengan berbagai kegiatan bernuansa keagamaan dan menyajikan berbagai menu makanan khas daerah.

Menurut dia, uang pecahan senilai Rp 1,4 triliun tersebut termasuk uang rupiah baru emisi 2016 yang diluncurkan bulan ini. Masyarakat bisa memperoleh uang pecahan untuk kebutuhan tahun baru dengan cara menukar di BI dan bank-bank yang beroperasi di seluruh wilayah NTB.

Menyambut libur panjang tahun baru ini, BI juga mengimbau kepada seluruh bank untuk selalu menjaga keterisian mesin anjungan tunai mandiri (ATM). a�?Kami ingin perbankan hitung kebutuhan uang yang akan beredar di masyarakat dan harus tersedia di mesin ATM,a�? tuturnya.

Pengalaman sebelum-sebelumnya, transaksi di masyarakat pada tahun baru kata dia memang meningkat. Itu sebabnya, BI melakukan optimalisasi distribusi dan persediaan uang tunai di Kantor Pusat dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia di daerah.

Sedangkan untuk kebutuhan nontunai, Bank Indonesia telah mempersiapkan infrastruktur dan layanan sistem pembayaran agar mampu mengantipasi peningkatan transaksi pembayaran nontunai. Baik melalui sistemA�Bank Indonesia Real Time Gross SettlementA�(BI-RTGS) maupun Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI).

Secara nasional kebutuhan uang (outflow) periode Desember 2016 diperkirakan Rp 88 triliun sampai dengan Rp 94 triliun. Sementara realisasiA�outflowA�pada tahun 2015 sebesar Rp 85,6 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 3-10 persen.

Proyeksi kenaikanA�outflowA�tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya realisasi anggaran pemerintah dan swasta, jumlah hari libur yang lebih banyak dibandingkan tahun 2015, pengeluaran uang baru tahun emisi 2016, serta penambahan titik dan frekuensi penukaran baik yang dilakukan oleh Bank Indonesia maupun bekerja sama dengan perbankan.

ProyeksiA�outflowA�tersebut, didominasi oleh uang pecahan besar Rp 20 ribu ke atas sebesar kurang lebih 98 persen. Sisanya 2 persen merupakan uang pecahan kecil Rp 10 ribu ke bawah.

OutflowA�tertinggi diperkirakan terjadi di wilayah Jabodetabek sebesar Rp 23,9 triliun diikuti oleh Sulawesi, Maluku dan Papua sebesar Rp 12,6 triliun, Sumbar, Riau, Kepri dan Jambi sebesar Rp 8,6 triliun, Kalimantan Rp 8,5 triliun, Jatim Rp 7,8 triliun, Jateng dan DIY Rp 7,2 triliun, Jabar dan Banten Rp 6 triliun, Sumut dan NAD Rp 5,7 triliun, Sumsel, Bengkulu, Lampung dan Babel Rp 3,3 triliun. a�?Khusus Bali dan Nusa Tengara sebesar Rp 4,3 triliun,a�? jelasnya.

Bank Indonesia memandang persediaan uang secara nasional sangat mencukupi. Apalagi untuk memenuhi kebutuhan uang hingga akhir tahun.

Dari sisi nontunai, Bank Indonesia telah melakukan berbagai persiapan yang meliputi pengujian terhadap seluruh aplikasi, infrastruktur, dan jaringan komunikasi data. Ini agar dapat berfungsi dengan optimal serta mempersiapkanA�help-deskA�danA�back-up site guna memastikan terselenggaranya layanan sistem pembayaran secara aman, lancar dan efisien.

Selain itu, dalam rangka memfasilitasi penyetoran penerimaan negara untuk mendukung pelaksanaanA�tax amnestyA�tahap II,A�Bank Indonesia membuka layanan transaksi nontunai melalui BI-RTGS, Bank Indonesia-Scripless Securities Settlement SystemA�(BI-SSSS)A�dan SKNBI pada tanggal 31 Desember 2016.

Di sisi lain, beberapa bank di NTB juga akan melakukan layanan terbatas untuk tahun baru. Di antaranya ada Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, dan Bank Mandiri. Layanan terbatas ini diberikan untuk memudahkan transaksi yang diperlukan saat libur panjang akhir pekan.

IHSG Melonjak

Sementara itu, perjalanan indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang 2016 berakhir di level 5.296,711. Pasar saham Indonesia mencatatkan kenaikan kumulatif 15,32 persen. Kenaikan itu merupakan yang tertinggi kedua di dunia setelah Thailand (19,62 persen).

Pencapaian Indonesia mengalahkan pasar saham Inggris yang naik 13,71 persen dan Amerika Serikat (12,59 persen). Sementara itu, pasar saham Tiongkok minus 12,31 persen. Demikian juga Malaysia yang turun 3,00 persen; Filipina turun 1,60 persen; dan Singapura menipis 0,07 persen.

a��a��Capaian lain yang membanggakan adalah pasar surat utang, terutama surat utang korporasi kapitalisasinya menembus Rp 113 triliun,a��a�� kata Menko Perekonomian Darmin Nasution saat menutup perdagangan saham Indonesia 2016 di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, kemarin.

Meski begitu, Darmin menilai masih ada satu kekurangan. Yaitu, minimnya perusahaan tercatat alias emiten baru yang listing pada 2016. Hanya 15 perusahaan. a��a��Terendah dalam tujuh tahun terakhir,a��a�� ujarnya.

Darmin menilai, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari situasi global, termasuk efek Donald Trump sebagai presiden terpilih Amerika Serikat (AS). Menurut dia, AS tidak mungkin mendorong ekonominya ke arah terlalu jauh. Sebab, hal itu membuat dolar AS terlampau menguat. a��a��Tidak usah risau,a��a�� tuturnya.

Menanggapi minimnya emiten baru, Direktur Utama BEI Tito Sulistio menyatakan, targetnya memang 30 emiten baru. a��a��Tanpa maksud membela diri, IPO secara global turun sekitar 70 persen. Jadi, kita tidak menjadi yang paling kecil, kita masih masuk lima besar untuk tambahan emiten baru yang listing,a��a�� terangnya.

BEI akan mengajak lebih banyak perusahaan agar mau tercatat di bursa. Tito meyakini akan banyak dana yang masuk ke pasar modal Indonesia pada 2017. a��a��Saatnya untuk memobilisasi dana jangka panjang,a��a�� katanya.

Kepala Eksekutif Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida meyakini potensi pasar modal, terutama pasar saham, lebih positif pada 2017. Terlepas dari kondisi global yang belum pulih, situasi di dalam negeri cukup banyak sentimen positif. a��a��Salah satunya tax amnesty. Ada repatriasi Rp 143 triliun,a��a�� ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad menuturkan, pencapaian pasar modal Indonesia sepanjang 2016 tidak terlepas dari stabilitas ekonomi tanah air. Pertumbuhan ekonomi sekitar 5,02 persen pada kuartal ketiga 2016 merupakan yang terbaik jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya.

a��a��Kondisi ekonomi domestik yang tetap kuat? ini mendorong apresiasi rupiah dan penguatan IHSG,a��a�� katanya. (nur/JPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka