Ketik disini

Perspektif

2017

Bagikan

a�?SELAMAT A�Tahun Baru, kamu liburan kemana?a�? Pernyataan dan pertanyaan itu terasa terlalu sering diucapkan awal minggu lalu. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, terasa tidak baru. Tapi di balik pertanyaan yang tak baru, kita memiliki jawaban-jawaban yang berbeda, sebab pengalaman yang beda.

Sebagaimana pengalaman saat momen pergantian tahun pada dua tahun terakhir, saya tidak merayakan bersama anak. Sebab, dia menghabiskan masa liburan smesternya bersamaan dengan libur pergantian tahun. Dia ikut bersama rombongan keluarga yang berkunjung ke keluarga di Bali. Sementara saya masih harus menyelesaikan catatan lapangan studi terakhir pada pertengahan Desember lalu.

Liburan yang baik adalah liburan yang menyisakan banyak cerita dan pertanyaan, begitu prinsipnya. Jadi sepulang dari liburan biasanya kami akan saling menceritakan dan bertanya pengalaman masing-masing.

Tempat bermain, aktivitas selama seminggu menjadi cerita-cerita Nejad. Ia berseloroh soal foto-foto liburannya yang terpasang di akun medsos milik kakak sepupunya. Nampak ia begitu bahagia menikmati foto liburannya meski hampir di setiap momen pada foto yang berbeda, ia tetap saja terlihat mengenakan kaos yang sama bertulis a�?My Trip My Adventurea�?.

Akhir cerita, biasanya ia akan bertanya tentang sesuatu yang kurang dipahaminya selama perjalanan liburan. Kali ini pertanyaannya tentang harga mie instan dalam gelas yang hendak dibeli namun urung, saat ia berada di atas kapal menuju Bali. Menurutnya sangat mahal, tiga kali lipat dibanding harga biasanya.

a�?Apa karena tahun baru? Atau karena jualan di atas kapal?a�? tanyanya. Saya menjawab karena berada di atas kapal. Lantas ia melanjutkan dengan pertanyaan dan pernyataan. a�?Aneh sekali untuk kapal yang berlayar di lautan, mereka hanya menyediakan mie instan. Mengapa tak masak lauk ikan, bukankah mereka bisa memancing atau membeli dari nelayan?a�? Saya menjawab a�?mungkin mereka butuh sesuatu yang cepat disajikan, mie instan, kopi instan tidak perlu menunggu lama.a�?

Pertanyaan si Nejad sesungguhnya mengingatkan saya pada pengalaman saat saya bertamu ke salah satu kampung nelayan di Lombok bagian Selatan. Di sana saya disuguhi kopi. Dari rupa dan aromanya itu jelas kopi instan yang kini sangat biasa kita jumpai di warung-warung. Meski mereknya sungguh akan mengingatkan pada lautan, kapal. Tapi yang instan tetaplah instan.

Begitu juga ketika waktu makan tiba, pemilik rumah yang ramah mempersilakan saya untuk bersantap siang bersama. Seperti keluarga jauh yang sudah sejak lama tidak bertemu saya dipersilakan untuk membuka tudung saji di hadapan kami. Di satu piring yang berjejer selain masakan cumi berkuah dan sambal, terdapat piring berisi tumpukan mie. Sekali lagi saya pastikan itu mie instan.

Karena penasaran saya lantas bertanya kepada pemilik rumah, apakah setiap hari bahan makanan yang dibeli dan dikonsumsi adalah sesuatu yang instan dan siap saji? Sahabat saya menjawab, tidak setiap hari hanya saja jika ada tamu biasanya mereka menyugukan sesuatu yang instan dan dibeli dari warung, meskipun sebenarnya mereka masih menyimpan kopi yang disangrai sendiri atau menyuguhkan menu makan ala kadarnya dari hasil laut yang terhampar sebagai halamannya. Sebab, menurutnya, itu salah satu bentuk penghormatan terhadap tamu.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan apresiasi saya atas apa yang dilakukan sahabat saya tadi, saya lantas memberinya saran untuk tidak perlu repot-repot melakukan hal itu. Menyajikan sesuatu yang ada yang kita olah dan hasilkan sendiri itu jauh lebih baik. Sebab, makanan bagi saya, selain mengenyangkan perut, ia adalah sumber energi yang bermakna, sesuatu yang menguatkan, yang berbicara tentang proses mengolah, menyajikan.

Lantas apa hubungan antara tulisan tentang libur dan tahun baru, keluarga dengan makanan? Jelas ada, sebab meski terlambat akhirnya saya mencatat beberapa hal yang akan saya lakukan sejak awal tahun ini. Antara lain: pada hari libur akan menjadi waktu khusus untuk mengolah masakan berupa makanan dari bahan yang ada di sekitar rumah kami, yang ditanam sendiri ataupun menyempatkan diri ke pasar berbelanja ikan dan lainnya. Intinya: masak. Dan sedapatnya menghindari untuk mengonsumsi makanan instan.

Selanjutnya, menjadwal beberapa perjalanan yang untuk mengisi hari libur bersama anak. Tidak selalu ke tempat wisata. Bisa jadi kami akan mengunjungi perpustakaan, museum atau bertamu ke rumah sahabat dan kerabat jauh yang jarang kami kunjungi.

Hal-hal yang sangat jarang kami lakukan di tahun sebelumnya, berharap tahun ini kami berkesempatan melakukannya lebih sering. Hingga jika masih ada pertanyaan, a�?Liburan kemana?a�? Setidaknya kami masih bisa menjawab, menceritakan setiap hal yang kami lakukan untuk mengisi liburan adalah sesuatu yang menyenangkan dan bermakna. A�(r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka