Ketik disini

Metropolis

324.230 Pelanggan Mulai Bayar Mahal

Bagikan

MATARAM – Sebanyak 324.230 pelanggan listrik 900 VA di NTB mulai harus bersiap-siap. Sejak Januari 2017, pelanggan ini tidak lagi akan menikmati subsidi listrik. Subsidi untuk pelanggan ini dicabut pemerintah, lantaran dinyatakan sebagai rumah tangga mampu.

Para pelanggan listrik tersebut tersebar di tiga area yakni area Mataram yang mencakup pelanggan listrik se-Pulau Lombok, area Sumbawa, dan area Bima.

Rinciannya, area Mataram terdapat 241.622 pelanggan listrik, area Sumbawa 37.639 pelanggan listrik, dan area Bima sebanyak 44.969 pelanggan listrik. Survey telah dilakukan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), dan dipastikan para pelanggan ini adalah keluarga mampu.

Dengan tidak adanya subsidi, maka tarif listrik akan diberlakukan normal. Sebagai acuan, pelanggan 900 VA yang tadinya biasanya membayar tagihan listrik Rp 74 ribu per bulan, maka setelah subsidi listrik dicabut, maka pembayaran tagihan bulanan bisa membengkak hingga angka Rp 185 ribu.

Deputi Manager Hukum dan Humas PLN Wilayah NTB Fitria Adriana kepada Lombok Post kemarin mengatakan, saat ini, todal di seluruh ada 1.087.064 pelanggan listrik. Dari jumlah tersebut, terdapat 493.388 pelanggan daya 900 VA. Sehingga total yang hanya akan menikmati subsidi tersisa 169.158 pelanggan.

Dia mengatakan, penghapusan subsidi untuk pelanggan 900 VA yang masuk kategori rumah tangga mampu (RTM) tersebut didasari atas peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral. Kebijakan itu kata Fitria bertujuan agar subsidi listrik tepat sasaran.

“Sebelumnya, pelanggan listrik yang diberi subsidi adalah pelanggan 450 VA dan 900 VA. Untuk pelanggan 450 VA tetap disubsidi, tapi untuk pelanggan 900 VA dibagi dua katagori yakni pelanggan mampu dan pelanggan tidak mampu,” kata Fitria.

Pihaknya memperoleh data baik pelanggan listrik RTM maupun tidak mampu dari TNP2K pada Maret 2016. Pelanggan listrik tidak mampu adalah mereka yang menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT), pemegang Jamkesmas, serta kartu sehat. Nantinya, jika dalam prosesnya kembali ditemukan data pelanggan RTM yang belum masuk TNP2K, akan diubah untuk tidak diberikan subsidi.

Sebelumnya, golongan 900 VA membayar Rp 585 setiap konsumsi listrik per kWh dan dibantu dengan subsidi pemerintah Rp 875 kWh dengan rata-rata konsumsi listrik 125 kWh per bulan. Dengan begitu, tagihannya pun mencapai Rp 74.740 per bulan.

Mulai 1 Januari 2017, maka tagihannya Rp 1.450 per kWh menyusul kebijakan pencabutan subsidi. Tagihan tersebut di atas rata-rata konsumsi 125 kWh per bulan sehingga tagihannya mencapai Rp 185.794 per bulan.

Pencabutan subsidi listrik itu dilakukan bertahap yakni tahap pertama dilakukan pada periode Januari–Februari, tahap kedua periode Maret–April 2017, dan tahap ketiga per Mei–Juni 2017. “Penghapusan subsidi itu tentu akan dibarengi dengan peningkatan pelayanan,” tandas Fitria. Apa bentuk peningkatan pelayanan itu, dia tak merincinya.

Fitria menegaskan, hingga saat ini pihaknya terus memantau kondisi listrik NTB. Untuk sistem Lombok mengalami surplus listrik dengan beban puncak 20 MW. Daya mampu sistem Lombok sebesar 235 MW dengan beban puncak pemakaian pelanggan 214 MW.

“Kalau beban pada pagi karena banyak pelanggan yang tidak menggunakan listrik secara maksimal dapat suplus hingga 50 MW,” papar dia.  (tan/r8)

Komentar

Komentar

Tags:
Berikutnya

Anda mungkin juga suka