Ketik disini

Praya

FKD Loteng Akhirnya Pecah

Bagikan

PRAYA-Forum Kepala Desa (FKD) di Lombok Tengah (Loteng),  akhirnya benar-benar pecah. Kini, sudah muncul forum tandingan bernama FKD Reformasi, kepengurusannya pun akan terbentuk dalam waktu dekat ini, melalui konfrensi cabang (Konfercab).

“Keanggotaan dan kepengurusannya mencapai 80 persen, dari total 127 kepala desa (kades) di seluruh Loteng,” kata Kades Pengembur, Pujut Supardi Yusuf, kemarin (4/1).

Itu artinya, kata Supardi mayoritas pemimpin akar rumput di Gumi Tatas Tuhu Trasna akan bergabung di dalam FKDR, bukan FKD. Sebut saja, para kades di Batukliang Utara (BKU), Batukliang, Kopang, Janapria, Praya Timur, Praya Tengah, Praya, Pujut, Praya Barat, Praya Barat Daya dan Pringgarata. “Kecuali, Jonggat saja,” katanya.

Alasannya, terang Supardi di Jonggat merupakan basis kepengurusan dan keanggotaan FKD, karena ketuanya berasal dari Desa Nyerot, Jonggat. “Inilah akhir dari perjalanan panjang FKD di Loteng,” kata mantan Sekretaris FKD Loteng tersebut.

Penyebabnya, kata Supardi bukan karena ketersinggungan yang terjadi di internal kepengurusan FKD, di tingkat kecamatan.Dimana para mantan pengurus FKD seperti dirinya  tidak difungsikan sama sekali dalam kepengurusan FKD saat ini. Termasuk, para senior kades yang sudah menjabat beberapa tahun. Sebut saja, misalnya Kades Barabali, Batukliang Ki Agus Azhar. “Awalnya, kami sudah membangun komunikasi. Tapi, usulan kami tidak diterima,” sesalnya.

Atas dasar itulah, pihaknya bersama para kades lain, sepakat mengeluarkan surat mosi tidak percaya dengan kepengurusan FKD. Lalu, membantuk FKDR

“Insya Allah, kami akan usung nama Ki Agus Azhar sebagai ketua FKDR,” bebernya.

Namun demikian tak semua kades sepakat dengan pembentukan FKDR ini. Kades Aikmual Asrorul Hadi meminta agar perpecahan dalam korganisasi kades tersebut bisa diselesaikan dengan kepala dingin.

“Kalau ada komposisi kepengurusan yang tidak tepat, mohon sebaiknya kita komunikasikan lagi,” saran Kades Aikmual Asrorul Hadi, terpisah.

Ia tidak ingin, ada dualisme organisasi ditingkat kades. Jika itu terjadi, maka dikhawatirkan akan menimbulkan konflik berkepanjangan. Akibatnya, para kades pun sibuk dengan urusan keorganisasian, lalu melupakan kewajiban awalnya sebagai pemimpin masyarakat desa. “Ini yang tidak kita inginkan,” katanya.

Untuk itulah, tambah Asrorul beberapa kades di Praya menyatakan mempertimbangkan sikap beberapa kades lain, yang akan membentuk FKDR. Lebih lanjut, pihaknya menunggu sikap kepengurusan FKD, apakah membiarkan masalah yang dimaksud berlarut-larut atau segera menyelesaikannya. “Kita tunggu saja,” kata Asrorul.(dss/r2)

 

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka