Ketik disini

Metropolis

Sopir BRT Diduga Dipukul

Bagikan

MATARAM – Beroperasinya angkutan massal  Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Mataram, menyisakan masalah. Pascademo sejumlah sopir angkutan kota (angkot) atau lebih akrab disebut bemo kuning ke Kantor Dinas Perhubungan Kota Mataram, Selasa (3/1) kemarin, beredar kabar terjadi pemukulan dilakukan oknum sopir angkot pada driver BRT.

Belum diketahui pasti kronologinya. Namun menurut beberapa sumber, pemukulan terjadi di kawasan terminal Mandalika. Diduga kuat ini buntut kekecewaan dari pemilik angkot karena lahan kerja mereka diserobot BRT.

“Iya ada sopir yang pukul pengemudi kita,” kata General Manager Damri Perum Mataram, Nursyamsu.

Nursyamsu juga enggan menuturkan kronologi pemukulan dalam versinya. Hanya saja, ia juga menyampaikan jika persoalan itu telah dilaporkan pada aparat kepolisian. Tindakan hukum ini diambil untuk melindungi hak-hak para driver BRT dan dismping itu, menindak langkah-langkah premanisme yang dilakukan pihak-pihak yang menolak keberadaan BRT. “Sudah (lapor polisi), ” jawab dia singkat.

Driver yang dipukul dikonfirmasi atas nama Safi’i. Dari keterangan Nursyamsu, pemukulan itu memang tidak mengakibatkan luka parah. Hanya saja, tindakan premanisme dari oknum sopir angkot cukup membuat pihak Damri akhirnya bersikap. Mereka mengkandangkan seluruh armada di pool.

“Kami masih tunggu sikap Dishub Kota Mataram soal aksi demo dan pemukulan itu. Baru setelah itu kami operasi lagi,” terangnya.

Hanya saja, lanjut dia terkait pemukulan itu ia tetap berniat memprosesnya secara hukum. Dengan harapan ada efek jera dan sebagai bentuk perlindungan manajemen dari aksi-aksi premanisme sopir angkot.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram H Khalid mengatakan belum mendapat informasi resmi soal tindakan premanisme yang dilakukan oknum sopir angkot. Hanya saja desas-desus sempat didengarnya. “Nanti saya pastikan informasinya,” jawab Khalid.

Namun menyikapi aksi demo yang dilakukan sejumlah sopir angkot kemarin, Khalid menyampaikan tetap menampung keluhan mereka. Ia juga akan mengupayakan memediasi pertemuan dengan Dishub Provinsi untuk membahas beroperasinya BRT.

“Kita memang perlu duduk bersama untuk membahas ini supaya bisa saling memahami,” imbuhnya.

Di sisi lain ia berharap semua pihak bisa melihat secara jernih, program BRT adalah program nasional. Pada awalnya keberadaan BRT diharapkan dapat mengurai kemacetan kota-kota yang mulai berkembang. Salah satunya adalah Kota Mataram dan Lombok Barat mendapat jatah armada BRT. “Sebenarnya mereka (angkot) kami niatkan untuk jadi feeder,” Imbuhnya.

Hanya saja, penerapan menjadikan angkot sebagai feeder rupanya dibutuhkan kajian teknis dan akademis. Untuk menentukan apakah angkot layak dijadikan feeder atau tidak. Begitu juga, dampak ekonomi yang dirasakan para sopir. “Anggaran kajian teknisnya telah kami siapkan sebesar Rp 50 juta,” terangnya.

Dari hasil kajian teknis itu, pihak Dishub juga telah menyiapkan Rp 150 juta sebagai tindak lanjut hasil kajian. Khalid berharap, upaya ini menjadi salah satu alternatif solusi mengatasi perseteruan antara Damri Perum Mataram dengan para sopir angkot.

“Kami belum melakukan pertemuan juga dengan Damri untuk berkoordinasi lebih lanjut,” tandasnya. (zad/r5)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka