Ketik disini

Headline Praya

Kades Kuta Minta Bau Nyale Dimajukan

Bagikan

PRAYA – Penentuan pelaksanaan bau nyale di pantai Seger Desa Kuta, Pujut Lombok Tengah (Loteng) dipersoalkan. Aparatur Desa Kuta menolak tradisi tahunan itu digelar pada 16-17 Februari.

a�?Alasanya, hari itu kami pastikan tidak akan ada nyale. Buktikan saja kalau tidak percaya,a�? kata Kepala Desa (Kades) Kuta Lalu Badaruddin, kemarin (8/1) usai bertemu Bupati HM Suhaili FT di pendopo bupati.

Pada saat pelaksanaan sangkep warige atau rapat penentuan bau nyale, pihaknya mengaku tidak diundang. a�?Tumben tahun ini, saya tidak dilibatkan,a�? sesalnya.

Jika diundang, pihaknya akan mempertahankan hasil penerawangan yang sudah dilakukan. Menurutnya, bau nyale seharusnya dilaksanakan pada 15-16 Februari. Bukan, 16-17 Februari mendatang.

a�?Dari mana mereka bisa menentukan tanggal 20, bulan 10 penanggalan Sasak itu, jatuh pada 16-17 Februari. Itu salah,a�? kata Badaruddin didampingi mantan Camat Pujut Lalu Wiraksa.

Ia tidak ingin, bau nyale di tahun 2015 lalu, terulang kembali. Kala itu, penentuan waktunya salah. Sehingga, tidak ada nyale di pantai Seger dan sekitarnya, wisatawan yang mengikuti bau nyale pun pulang dengan kecewa. Kejadian itu berawal, dari perdebatan panjang dirinya dengan para tokoh adat Sasak.

Atas dasar itulah, pihaknya bersama salah satu tokoh Adat Sasak wilayah selatan, yang juga mantan Camat Pujut Lalu Wiraksa, menghadap ke Bupati Loteng HM Suhaili FT.

a�?Kami memberi masukan kepada bupati, agar mempertimbangkan perubahan waktu bau nyale,a�? kata Badaruddin.

Menurut Badaruddin bupati menyatakan penentuan bau nyale yang digelar para pemangku adat Sasak pada Kamis (5/1) kemarin, belum menjadi keputusan final. Sehingga, sewaktu-waktu bisa berubah.

a�?Intinya, kami hanya ingin meluruskan saja. Dari pada wisatawan yang hadir kecewa, maka lebih baik kita duduk bersama lagi,a�? sambung mantan Camat Pujut Lalu Wiraksa.

Ia meminta, agar seluruh pemangku adat diundang, tidak boleh ada yang terlewatkan. Karena, setiap pemangku adat memiliki keilmuan yang berbeda-beda, pengetahuan dan kemampuan penerawangan yang berbeda-beda. Jika di satukan, maka itulah yang terbaik.

a�?Saya sempat di undang juga. Itu pun sesudah pelaksanaan sangkep warige, baru saya ditelepon. Jangan suka saling mengabaikan,a�? sindir Wiraksa.(dss/r2)

 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka