Ketik disini

Metropolis

Satu Lukisan Rp 150 Ribu sampai Rp 1 Juta

Bagikan

Bisnis lukisan memang belum mengembirakan. Tidak banyak pelukis yang khusus membuat karya lukis untuk dijual. Salah satunya Ketut Wijana.

***

Bagi pecinta seni lukis akan terbelalak melihat corak lukisan yang terpajang di outlet milik Ketut Wijana di Jalan Catur Warga Mataram. Lokasinya yang strategis di pinggir jalan protokol cepat menarik pengguna jalan yang melihatnya.

Ketut Wijana merupakan seorang pelukis asal Bali yang sudah lama berkecimpung di dunia lukisan. Dia mulai melukis sejak lama. Namun lukisannya baru dijual sejak 2013. Diawali dengan menjual beberapa lukisan buah tangannya, terus berkembang hingga memiliki dua outlet.

Melukis bukan soal gampang. Butuh ketenangan, kaya ide, serta tentu punya rasa seni tinggi. Itulah setidaknya modal yang dimiliki Ketut Wijana, sebelum terjun ke dunia bisnis lukisan. Dia membutuhkan waktu lama untuk menghasilkan karya yang ciamik, sedap dipandang mata, dan tentunya bernilai seni tinggi.

Kakek empat cucu ini sudah menghasilkan ratusan karya lukisan. Tapi, karena permintaan terhadap lukisan mulai meningkat, dia bekerja sama dengan rekannya sesama pelukis untuk berbisnis. Menurut dia, berbagai macam jenis lukisan yang dijual, seperti lukisan kontemporer, dekoratif, minimalis, realis, abstrak, dan lainnya.

“Bagi yang hobi lukisan tentu mau merogok kocek untuk memperoleh lukisan berkualitas,” kata Ketut Wijana kepada Lombok Post

Dia tidak perlu pusing dengan konsumen. Sebab, tidak sedikit penggemar lukisan datang untuk membeli lukisannya. Termasuk hotel, villa, dan masyarakat umum yang ingin memenuhi ruangan rumahnya dengan lukisan.

Hanya saja, akhir-akhir ini bisnisnya agak sepi. Omzetnya merosot dari sebelumnya. Dalam sebulan lebih kurang 20 lukisan yang terjual. Dia membandrol lukisannya dengan harga yang terjangkau yakni kisaran Rp 150 ribu hingga Rp 1 juta.

“Ada juga yang pesan dari Pulau Sumbawa bahkan dari Kalimantan,” papar dia.

Semangatnya untuk bergelut di dunia lukisan tidak pernah padam. Dia bermimpi suatu saat Kota Mataram menjadi salah satu kota para pelukis. Seperti halnya sejumlah kota-kota besar baik di Bali, Surabaya, Jogjakarta, maupun di Jakarta. Dia sadar jika saat ini minat masyarakat Mataram terhadap seni lukis tidak seramai kota-kota besar lainnya.

Dengan dua outlet, di Mayura Cakranegara dengan nama Rada Art and Galeri dan di Jalan Catur Warga bernama Raungan Art and Galeri dinilai cukup sebagai salah satu modal utama untuk lebih membuat seni lukis di Mataram eksis.

Ke depan, dia berencana membuat sekolah melukis. Hal itu dinilai penting untuk menelurkan keahliannya dalam melukis sehingga generasi pelukis di Mataram terus bermunculan. a�?Cita-cita saya mau buat sekolah melukis bagi pelajar, saya berharap seni lukis di Mataram ini menjamur sehingga dikenal sebagai salah satu kota seni di Indonesia,a�? papar dia. (Edy Gustan/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka