Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Industri Tempe Tetap Bertahan

Bagikan

MATARAM – Industri tempe Kekalik terus bertahan di tengah kenaikan harga bahan baku. Salah satu pebisnis tempe H Masrun mengaku, kenaikan harga bahan baku, terutama kedelai, menghambat usahanya. Sebab dia tidak dapat menaikkan harga tempenya lantaran takut rugi. Karenanya dia berupaya maksimal untuk tetap memproduksi tempe meski harga kedelai mencapai Rp 750 ribu per kwintal.

Ditemui Lombok Post, Masrun sedang memproduksi tempe. Lebih kurang 500 tempe siap jual tersedia di rumahnya. Tempe-tempe tersebut didistribusikan ke pasar, hotel, warung makan, dan para pengecer.

“Keuntungannya sangat tipis karena masih ada komponen lainnya yang dibutuhkan selain kedelai,” kata Masrun kemarin (9/1).

Masrun mengaku, akhir-akhir ini permintaan terhadap tempe buatannya terus meningkat. Namun dia tidak bisa menambah jumlah produksinya, lantaran tidak memiliki modal. Selain itu memproduksi tempe dalam julah banyak juga rentan rugi. Pasalnya, tempe buatannya tanpa pengawet sehingga hanya bisa bertahan maksimal selama dua hari.

Menurutnya, daya tahan tempe itulah salah satu cara membedakan antara produk berbahan pengawet atau tidak. Dia juga tidak mengurangi ukuran tempenya meski harga kedelai terjepit.

a�?Saya berharap ada bantuan pemerintah untuk dapat memberikan subsidi bagi industri kedelai agar usaha kami terus bertahan,a�? imbuhnya.

Masrun yang sudah 20 tahun menjalankannya bisnisnya mengaku tidak sedikit pengusaha tempe di wilayahnya yang gulung tikar lantaran kehabisan modal. Ayah empat anak ini menyediakan 200 kilo kedelai untuk menghasilkan produk berkualitas. Termasuk menyediakan Rp 100 ribu untuk biaya operasional dan pekerja. Proses pembuatan tempe itu berlangsung selama tiga hari. Baik dari proses memilih kedelai, menggodok, mencuci, hingga mencetak menjadi tempe.

“Saya belum berani menyetok lebih dari kebutuhan karena harga kedelai belum stabil,” ujarnya. a�?Zainul pelanggan tempe yang berjualan di kantin kampus Universitas Mataram membenarkan jika permintaan tempe akhir-akhir ini meningkat. Terlebih di kalangan mahasiswa dan pelajar. Dia membeli puluhan tempe dari Masrun untuk keperluan warung. a�?Dia sengaja membeli tempe langsung ke Kekalik lantaran harganya yang terjangkau. Dia optimistis bisnis tempe terus bertahan mengingat peminatnya yang banyak.

“Dalam sehari justru bisa dua tiga kali bolak-balik lantaran permintaan yang tinggi,” ungkap Zainul. (tan/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka