Ketik disini

Headline Metropolis

Pemerintah Bisa Apa?

Bagikan

MATARAM – Luar biasa. Harga cabai di pasar Mandalika, semakin a�?pedasa�?. Pantauan Lombok Post Senin (9/1) kemarin, harga cabai menembus Rp 115 ribu perkilogram (kg).

Lalu apa yang bisa dilakukan pemerintah? Atau pertanyaan paling mendasar, pernahkah Wali Kota Mataram menyambangi pedagang dan pembeli di pasar untuk memastikan harga cabai itu memang tinggi?

Entahlah! Yang jelas Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana, mengaku terus memantau perkembangan harga. Kenaikan harga cabai ini lanjut dia, terjadi secara nasional. Tidak hanya di Kota Mataram.

Pihaknya mengaku masih perlu mengkaji lagi, langkah tepat mengatasi ngamuknya harga cabai rawit ini. a�?Saya fikir kalau turun (pantau pasar) juga tidak akan memberi banyak perubahan harga. Tapi kita lihat dulu (perkembangannya),a�? kata Mohan, saat ditanya apakah sebaiknya perlu melakukan sidak mengobati rasa kecewa warga dengan harga yang melambung tinggi.

Dari pengamatannya sejauh ini, ia masih meyakini ada kaitannya dengan cuaca Lanina yang cukup ekstrem beberapa waktu kemarin. Seperti dilaporkan Dinas Pertanian di Kota Mataram saja, tercatat 50 are lahan pertanian cabai rusak karena cuaca.

Persoalan ini pun merata terjadi di banyak daerah. Termasuk kawasan yang menjadi penyuplai kebutuhan cabai untuk kota. diantaranya Lombok Timur, Bali dan Jawa.

a�?Tapi saya juga masih menunggu laporan dari Dinas Pertanian soal ini, seperti apa sebenarnya ketersediaan cabai kita,a�? imbuhnya.

Terkait adanya aksi spekulan dalam kenaikan harga cabai ini, Mohan justru kurang percaya. Ia tetap condong, kalau kenaikan harga cabai ini murni karena banyak daerah dikabarkan gagal panen.

Dirinya juga memastikan, jika sistem pemerintahan yang menangani persoalan harga logistik tetap bekerja memantau harga di pasar. Meski dua dinas yang menangani persoalan ini, Dinas Perdagangan sebagai leading sektor pengawasan harga dan Kepala Bappeda sebagai ketua tim Inflasi daerah belum ditunjuk untuk melakukan penanganan taktis.

a�?Tetap kita akan pikirkan nanti langkah terbaiknya. Meski belum ada itu (Kepala Dinas dan Kepala Bidang) ya,a�? tandasnya.

Jika dibandingkan pada puncak tahun 2016 kemarin, kaitannya dengan Maulid, Natal dan Tahun Baru, harga cabai level tertinggi yang hanya mencapai Rp 100 ribu. Sempat turun pada hari Jumat (6/1) menjadi Rp 90 ribu, lalu kembali naik pada hari Minggu (8/1) menjadi Rp 95 ribu.

a�?Sekarang perkilogram Rp 115 ribu,a�? kata Kepala Pasar Mandalika Ismail.

Harga ini, menjadi tertinggi dalam 16 tahun terakhir. Tetapi belum mampu melewati rekor harga cabai sekitar tahun 2000.

Saat itu, kata Ismail harga cabai sampai menyentuh harga Rp 150 ribu perkilogram. Ia sendiri belum bisa menebak pola harga cabai ini kapan bisa turun. Sebab dari keterangan sejumlah pedagang di pasar, banyak yang tidak mengetahui apa penyebabnya. Bahkan, tidak berani menyimpan stok banyak.

a�?Belum pecah rekor ini. Sekitar tahun 2000, pernah sampai Rp 150 ribu,a�? terangnya.

Terpisah, Anggota Tim Pemantau dan Pengendali Inflasi Dareah (TPID) Kota Mataram Iwan Harsono mengatakan, kenaikan harga cabai memang perlu diantisipasi sebagai aksi spekulan atau oknum yang ingin mendapatkan keuntungan besar dari kenaikan harga. Ia mencotohkan, tahun lalu 70 ton cabai NTB dikirim secara ilegal ke Aceh.

a�?Kita memang perlu waspada. Ini jangan-jangan terjadi lagi,a�? pungkasnya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka