Ketik disini

Headline Pendidikan

Pak Menteri, Anda Jahat!

Bagikan

Dipaksa menjalankan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), NTB lempar handuk. Sekolah tak siap. Siswa apalagi. Ujian model ini ternyata bukan melulu soal ketersediaan komputer. Tapi juga mesti mempertimbangkan soal siswa yang gemeter. Siswa butuh simulasi di tengah kemampuan siswa SMP dan SMA Bumi Gora tak merata sekali. Yang merana adalah sekolah-sekolah madrasah, sebab minim sarana dan minim segalanya. Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, NTB ingin tetap UN dengan cara lama. Anda jahat, kalau tak mengabulkannya.

***

SEPERTIA� barang mati, komputer-komputer hanya teronggok di ruang Laboratorium Komputer milik SMPN 2 Lingsar, Lombok Barat.

Seperti barang disimpan di gudang, komputer itu berdebu. Menempel di monitor, di CPU dan juga di bagian aksesoris lainnya. Pun begitu kursi dan meja tempat menaruhnya. Jauh dari tangan-tangan perawatan. Telah lama, perangkat teknologi informasi itu tidak dihidupkan.

a�?Sekarang kita coba hidupkan lagi komputer ini,a�? kata Kepala SMPN 2 Lingsar Tajuddin pada Lombok Post pekan lalu.

Tentu saja, tangan Tajuddin tak sedang gatal ingin main komputer. Kalau komputer-komputer itu hendak dinyalakannya kini, karena memang sedang ada hal mendesak.

Semenjak dua pekan lalu, Tajuddin memang memutar otak. Musababnya, apalagi kalau kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang hendak menerapkan Ujian Nasional tahun ini dengan memakai komputer.

Maka semenjak pekan lalu, komputer yang lama nganggur di laboratorium milik sekolah itu pun kembali diutak atik. Berhasil Tajuddin?

Jawabnya nggak. Dia memang punya komputer. Namun, modal komputer saja, bukan berarti menjamin UN dengan komputer bisa digelar di sekolah itu.

Karena ada hal lain yang juga harus disiapkan. Yakni jaringan internet. Jaringan ini juga tak kalah pentingnya. Tanpa jaringan internet, maka komputer tak akan bisa mengakses server soal Ujian Nasional.

a�?Komputer memang bukan satu-satunya fasilitas UNBK. Banyak yang harus kami siapkan,a�? sambung Tajuddin. Dia pasrah.

Semenjak awal tahun ini, sekolah-sekolah di NTB memang sempat terhenyak. Tentu saja tak cuma Tajuddin. Namun, juga kepala sekolah lain di sekujur NTB.

Kebijakan pemerintah yang tidak jadi memoratorium UN memang bukannya berujung pada kabar gembira. Namun, nyaris berujung pada sebuah petaka. Masalahnya apalagi, kalau bukan kebijakan Kemendikbud yang memaksa semua sekolah UN pakai komputer.

Bekalangan, kebijakan itu direvisi. Yakni 30 persen untuk SMP, dan 80 persen untuk SMA.

Tapi, meski direvisi, NTB belum juga selamat. Daerah ini tak tenang. Sebab, angka 30 persen dan 80 persen itu tetap juga masih jadi petaka.

Masalah NTB tidak melulu soal minimnya ketersediaan sarana prasarana komputer di sekolah-sekolah. Nyaris bisa dihitung, berapa jumlah sekolah yang punya komputer memadai di NTB. Belum lagi mempertimbangkan akses internet. Mengingat banyaknya blank spot di daerah ini.

Ambil contoh perekaman e-KTP saja. Seluruh pemerintah kabupaten/kota jemput bola untuk perekaman e-KTP ke desa-desa. Memboyong alat-alat perekaman itu dekat dengan tempat tinggal masyarakat. Apa yang terjadi? Alat-alat itu tak bisa berfungsi. Lantaran jaringan internet tak ada. Model beginilah yang diramalkan pada penyelenggaraan UNBK di NTB, jika tetap dipaksa.

Butuh SImulasi

Selain masalah perangkat, masalah pengetahuan siswa tentang komputer juga jadi ganjalan lain. Tajudin mengatakan, siswa butuh latihan dan simulasi. Dan itu artinya, seluruh perangkat sudah harus siap sebelum UN digelar.

Problemnya, berapa lama waktu yang dipunya sekolah menyiapkan perangkat? Mepet sekali. Karena UN sudah harus digelar pada April. Itu berarti waktu efektif yang tersedia hanya tiga bulan dari sekarang.

Di sisi lain, tidak semua siswa fasih mengoperasikan komputer. Apalagi kalau bicara siswa SMP. Memang di kelas VII, komputer sudah mulai dikenalkan melalui pelajaran teknologi dan informasi. Namun, tetap saja, tak menjamin seluruh siswa mahir.

Karena itu kata Tajuddin, jika UNBK diterapkan, mestinya pemerintah pusat memberikan bantuan fasilitas. Seperti server, komputer, dan fasilitas pendukung lainnya. Jika hanya menyuruh saja tanpa melihat kondisi sekolah maka akan sulit dijalankan.

Ia menyebutkan, jumlah siswanya yang akan melaksanakan UN tahun ini 314 orang. Dan aturannya harusnya tersedia 314 unit kompter dan empat A�server. Tapi, komputer yang dipunya pihaknya, tentu jauh dari angka itu.

Karena itu, jika UNBK dipaksakan kepada siswa, maka mau tak mau pihaknya akan numpang di sekolah lain. Rencananya, ia akan numpang di SMAN 1 Narmada. a�?Tapi, jika ada pilihan kami mau UN dengan manual saja,a�? lata Tajuddin.

Bukan apa-apa. Dia yakin seyakin-yakinnya. UNBK akan memengaruhi nilai siswa. Bahkan, jawaban yang mestinya bisa dijawab, nantinya malah salah karena tidak bisa mengaplikasikan komputer. a�?Ini yang kami khawatirkan,a�? ucap dia.

Kepala SMPN 7 Mataram H Sibawaih juga mengakui hal yang sama. UNBK membuat sekolah repot. Meski merasa siap, tetap saja dibuat kewalahan. Sebab, sekolah tidak memiliki fasilitas lengkap guna melaksanakan ujian sistem online itu. Untuk menyiasatinya, ia meminjam laptop guru untuk menanggulangi kekurangan komputer.

Idealnya lanjut dia, satu komputer digunakan satu siswa. Tapi ini tidak, siswa harus bergantian menggunakan komputer pada UNBK. Kalau UNBK tetap dipaksakan, maka di SMPN 7 Mataram kata dia, akan ada tiga shif UNBK.

Karena itu, ia memastikan tidak mungkin menerima siswa lain untuk numpang melaksanakan UN di sekolahnya. Sebab, siswanya saja akan pulang sampai sore pada UN tersebut. Bagaimana jika ada sekolah lain yang akan numpang. a�?Bisa pulang malam nantinya,a�? katanya. Belum lagi kalau server ngadat, atau listrik padam. Dia membayangkan kerepotan yang berlipat-lipat.

Sementara Kepala SMPN 1 Mataram Saptadi Akbar menilai UNBK ini tidak dibarengi dengan bantuan fasilitas. Sekolah-lah yang dibebankan menyiapkan semua fasilitas tersebut. a�?Ini kan tidak mudah,a�? kata dia.

Mestinya lanjut dia, kebijakan ini harus dibarengi dengan fasilitas dari pusat. Paling tidak, pusat memberikan bantuan komputer ke sekolah. a�?Tidak hanya menyuruh saja tanpa ada sumbangsihnya,a�? imbuh pria yang juga menjabat Ketua PGRI Kota Mataram ini.

Ia mengklaim, kebijakan ini akan menyulitkan sekolah. Tak ada kemudahannya. Ia mencotohkan, sekolah dipimpinnya ini hanya memiliki beberapa komputer. Jika UNBK diterapkan maka ia harus meminjam laptop guru dan siswa.

Sementara untuk server ia harus merogoh kocek cukup besar. Satu server harganya Rp 20 juta. Sementara sekolah membutuhkan paling tidak lima server. Ia mengatakan, banyaknya server dibutuhkan sekolah karena jumlah siswa yang akan melaksanakan UN cukup besar. Ia mengutarakan, jumlah siswa yang akan melaksanakan UN sebanyak 565 orang.

Meminta wali murid berpartisipasi pada pelaksanaan UNBK juga tidak mungkin. Ini akan menjadi pungutan liar (pungli). Seperti yang kini membelit koleganya di SMPN 6 Mataram awal pekan ini.

Maka Akbar menyiapkan alternatif. Sekolahnya akan numpang di SMKN 3 Mataram pada UNBK. Ia sudah mendapat sinyal dari kepala SMKN 3 Mataram untuk memberi ruang kepada siswa SMPN 1 Mataram.

Konsekuensi Besar

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB H Muhammad Suruji mengatakan, wacana Kemendikbud meminta 80 persen siswa SMA sederajat dan 30 persen siswa SMP sederajat melaksanakan ujian online bisa saja diterapkan daerah. Namun, dia mengingatkan kalau konsekuensi sangat besar.

Tak ada jaminan UNBK itu akan lancar. Bahkan mungkin sebaliknya. Mengingat, banyak sekolah di NTB yang belum memiliki fasilitas.

Jika sistem numpang di sekolah lain, maka waktu sudah dipastikan akan lama. Bahkan siswa bisa pulang subuh.

Di sisi lain, jika UN menggunakan LJK atau manual, Suruji juga ragu. Sebab, waktunya cukup singkat. Proses pencetakan naskah soal dan tender membutuhkan waktu cukup lama.

Maka, andai UNBK tetap dipaksakan, pihaknya tak akan menolak. Tapi pusat juga harus siap dengan konsekuensi siswa pulang tengah malam paling cepat.

Jumat pekan lalu, Suruji mengaku sudah mengutus salah satu kepala bidangnya untuk ke Jakarta membawa proposal terkait pengadaan komputer dari pusat. Sebanyak 48 ribu unit komputer akan disiapkan pusat pada UNBK tahun ini. NTB ingin bagian yang besar dari pengadaan itu.

Paling tidak lanjut dia, NTB nantinya bisa mendapat bantuan dua ratus titik tempat pelaksanaan UNBK. Mulai dari Ampenan sampai Sape, Bima nanti ada titik pelaksanaan ujian.

Setiap titik jaraknya 5 kilometer. Di setiap titik akan ada persiapan fasilitas. a�?Mudahan kita dapat bantuan cukup banyak nantinya,a�? harapnya.

Tanpa bantuan itu, maka mustahil UNBK bisa dijalankan. NTB tentu saja tak punya uang untuk mengadakan komputer di SMA dan SMK yang kini menjadi tanggung jawab provinsi. APBD telah diketok. Dan tak ada alokasi anggaran untuk beli komputer dan sejenisnya.

Saat ini, jumlah ada 314 SMA di NTB. Sementara SMK 297 unit. Sedangkan SMP ada 850 sekolah. Dari jumlah itu, hanya 30 persen maksimal, yang bisa menjalankan UBK sendiri. Yang artinya, masih jauh dari ketentuan Kemendikbud yang mewajibkan 80 persen SMA dan SMK serta 30 persen SMP.

Dan harap diingat. Ini baru sekolah umum di bawah Kemendikbud saja. Belum termasuk sekolah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama. Yakni Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah.

Madrasah Merana

Soal kesiapan madrasah ini, Kanwil Kemenag NTB telah memberitahukan ketidaksiapan mereka untuk menerapkan UNBK ke Dinas Dikbud NTB.

a�?Dari 1.723 madrasah di NTB,A� hanya 60 madrasah yang siap melaksanakan UNBK,a�? kata Kepala Bidang Mapenda Kanwil Kemenag NTB H Jalallusayuti, pada Lombok Post, kemarin (10/1).

Saat ini, di NTB ada 17 Madrasah Aliyah (MA) Negeri di NTB dan 551 MA swasta. Madrasah Tsanawiyah negeri sebanyak 24 dan dan MTs swasta 781.

Tentu saja madrasah kata dia, tak bisa dipaksa melaksanakan UNBK. Sebab, sarana prasarana tidak ada, terutama di madrasah swasta. a�?Kalau mau dipaksa, ya harus dibantu sarana prasarananya,a�? tandas dia.

Ini pun tak bisa serta merta. Sebab, madrasah harus menyiapkan diri. a�?Meski ada bantuan (komputer) sekarang tidak mungkin bisa dilaksanakan karena waktunya mepet,a�? sebut dia.

Karena itu, dia meminta UN untuk madrasah digelar manual saja. Seperti UN sebelumnya. Madrasah pun tidak bisa menumpang untuk gelar UNBK. Sebab, jarak satu madrasah dengan madrasah lain berjauhan. a�?Kami hanya berharap UN manual bisa diterapkan di daerah,a�? sebut dia.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Dikpora NTB H Sukran menuturkan,A� pola pelaksaan UNBK sampai saat ini belum turun. Menurutnya, pola ujian online bisa saja waktunya panjang. Bisa saja satu mata pelajaran diujikan sampai dua atau tiga hari. Tapi ini, masih perkiraan. Sebab, sampai sekarang semuanya belum jelas.

Ia juga belum tahu berapa jumlah peserta UN tahun ini. Saat ini masih dalam pendataan yang dilakukan Dikbud di masing-masing sekolah.

Tapi, bagi Ketua PGRI NTB H Ali Rahim, UNBK hanya akan melahirkan diskriminasi. Karena tidak semua siswa memiliki kemampuan IT. UN pakai komputer begini juga tak bisa mendadak.

Ali menilai, kalau UNBK dipaksakan, maka sudah pasti hasilnya akan jeblok di NTB. Sebab, siswa yang belum siap jika dipaksakan pasti grogi.

a�?97 persen sekolah di NTB tidak siap melaksanakan UNBK,a�? ucap dia. Di Kota Mataram saja sebut dia, hanya beberapa sekolah yang siap. a�?Apalagi di kabupaten lain,a�? kata dia.

Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan NTB H Kutjip Anwar mengatakan, pelaksanaan UNBK akan sulit diterapkan. Ujian sistem online bukan perkara mudah. Harus ada persiapan cukup lama jika melaksanakan UNBK. Ia mencotohkan, SMAN 1 MataramA� saja melaksanakan UNBK dengan persiapan cukup panjang. Bahkan bertahun-tahun.

a�?Saya rasa wacana MendikbudA� hal yang sulit. Hasilnya pasti tidak maksimal,a�? ucap dia.

Ia tidak yakin pelaksanaan UNBK ini berjalan lancar. Pasalnya, ini tidak semudah seperti dibayangkan Kemendikbud. Kondisi sekolah kata Kutdjip, terutama di pelosok tidak memiliki internet dan komputer. Meski diterapkan sistem numpang ia yakin tidak akan bisa meng-cover sebagian besar siswa. Lihat saja, sekolah yang siap melaksanakan UNBK ujiannya sampai sore. Apalagi jika ada puluhan sekolah yang nantinya numpang.A�(jay/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka