Ketik disini

Headline Pendidikan

Spena Bantah Lakukan Pungli ke Siswa

Bagikan

MATARAMA�a�� SMPN 6 Mataram tidak pernah melakukan pungutan liar (pungli) kepada siswa seperti dituduhkan Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) NTB. Dugaan pungli itu adalah bentuk kesepakatan wali murid melalui rapat komite dalam menghadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). a�?Itu sumbangan tidak dipaksakan, bahkan banyak orangtua yang tidak nyumbang,a�? kata Wali Kelas SMPN 6 Mataram Hj Marlita Suryani, kemarin (11/1).

Spena sebutan SMPN 6 Mataram salah satu sekolah yang terus perpacu meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan. Tahun lalu, sekolah yang berlokasi di Jalan Udayana Mataram menerapkan ujian sistem online. Tahun ini, sekolah ini kembali ditunjuk Dikbud Kota Mataram untuk melaksanakan ujian sistem Computer Based Test (CBT).

Seiring meningkatnya jumlah siswa tahun ini yang akan melaksanakan UN maka wali murid diminta berpartisipasi seikhlasnya mendukung UNBK. Sebab, fasilitas yang ada tahun lalu kurang. Tahun lalu siswa yang ikut UN sebanyak 330 siswa yang terbagi dalam tiga ruang. Kini jumlah siswa sebanyak 379. a�?Ini kan membutuhkan sarana prsarana satu ruang lagi. Bahkan dua sama ruang cadangan,a�? sebut dia.

Kekurangan sarana prasarana ditangani melalui rapat komite. Para wali murid kelas IX dimintaA� berpartisipasi pada UNBK dengan tidak ada paksaan. a�?Ini sifatnta tidak memaksa,a�? singkat perempuan berjilbab ini.

Pada rapat dilaksanakan 26 Oktober 2016 lalu maka terbentuk kesepekatan wali murid untuk mendukung pelaksanaan UNBK. Wali murid diminta menyumbang seikhlasnya melalui wali kelas. Sementara wali kelas akan menyerahkan ke bendahara komite. Dari hasil sumbangan ini terkumpul Rp 90 juta. Ini pun tidak semua siswa nyumbang. Karena sifatnya tidak memaksa.

Dari dana tersebut maka pihak komite mengundang kembali wali murid 20 November 2016 lalu untuk memaparkan apa yang telah diperuntukkan dari dana tersebut. Dana tersebut diperuntukkan untuk membeli komputer, CPU, kabel, dan fasilitas lainnya penunjang UNBK. a�?Ini semua ada laporannya, a�? sebut dia.

IaA� cukup keberatan dengan beberapa media yang memberitakan ada pungli di sekolah. Bahkan ia menulis dana Rp 300 juta. Dari mana ia bisa kalkulasikan dana ini bisa mencapai itu. Mestinya kata dia, sebelum ada tulisan itu muncul harus ada konfirmasi terlebih dahulu ke pihak sekolah. a�?Sumbangan bukan untuk semua siswa. Tapi hanya untuk kelas IX saja karena akan melaksanakan UN sistem CBT,a�? sebutnya.

Ia menjelaskan, apa yang dilakukan sekolah ini tidak lain untuk menunjang siswa pada UNBK. Jika tidak, maka siswa tidak bisa melaksanakan ujian sistem online tersebut. Sebab, dari pemerintah tidak ada sumbangan, baik itu server maupun komputer. a�?Ini A�murni kami melaksanakan secara mandiri. Mestinya pemerintah mendukung,a�? ucap dia.

Jika sumbangan dan kesepakatan wali murid ini dibilang pungutan maka tidak akan ada sekolah yang akan maju di daerah ini. Mestinya, pemerintah daerah harus bersyukur dengan partisipasi wali murid. a�?Ini akan mengurangi beban negara,a�? ucap dia.

Ia juga tidak habis pikir jika ada wali murid yang keberatan dengan sumbangan ini. Mestinya kata dia, tidak usah menyumbang jika tidak ada keikhlasan. Buat apa dia menyumbang jika membuat kondisi di sekolah seperti sekarang ini. Guru tidak tenang. Karena mereka kecewa dengan sikap oknum wali murid ini. a�?Ambil saja uang sumbangannya,a�? cetusnya,

Wali kelas lainnya Ahmad Fauzi mengatakan, sumbangan tidak ada paksaan. Sumbangan ini dilakukan untuk menambah sarana dan prasarana pada UNBK. Tahun lalu UNBK hanya membutuhkan tiga ruang. Tapi kini membutuhkan empat ruang karena jumlah siswa yang akan melaksanakan ujian lebih besar.

Sumbangan wali murid pada UNBK ini dilakukan melalui rapat komite yang hampir semua wali murid hadir. Kebutuhan sarana dan prasarana UNBK ini ditahu wali murid. Sumbangan ini sikhlasnya dan tidak memikat. a�?Tidak ada paksaan kok, di kelas saya banyak yang tidak nyumbang,a�? ucap dia.

Sementara itu Waka Humas SMPN 6 Mataram Waluyo, apa yang dilakukan Tim Saber Pungli ini sangat mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Sebab, guru diperiksa yang membuat aktivitas KBM terganggu. a�?Ini jelas membuat guru tidak meaksanakan tugasnya,a�? jelas dia.

Jika ada pungli mestinya tim saber terlebih dahulu melakukan kroscek, klarifikasi, mengamati, dan menganalisis. Ini dunia pendidikan harus ada etika jika masuk didalamnya. Majunya suatu bangsa tidak lepas dari pendidikan.

Kepala SMPN 6 Mataram HL Marwan tidak takut dengan dugaan ini. Sebab, ia tidak pernah merasa melakukan pungli kepada wali murid. Sekali lagi apa yang dilakukan sekolah ini adalah bentuk dari partisipasi wali murid dalam UNBK. a�?Ini sudah dibahas dalam rapat komite,a�? sebut dia.

Sekarang ini apa saja bisa dikatakan salah. Berbuat baik saja bisa dikatakan salah. Tapi saat ini yang terpenting guru tetap semangat dalam melaksanakan KBM. Ia ingin guru fokus mempersiapkan siswa pada UN. Jangn sampai masalah ini membuat motivasi guru kendor. a�?Kami tidak takut, karena kami tidak pernah melakukan pungli,a�? sebut dia.

Terpisah salah seorang wali murid A�Elly Nasution mengaku tidak ada paksaan dari pihak sekolah dalam pungutan ini. Jika ada sumbangan diperuntukkan untuk kebutuhan anaknya maka ia akan menyumbang. Ia menilai, jika sarana dan prasarana UNBK dibutuhkan sekolah hal yang wajar jika wali murid berpartisapasi. Sebab, fasilitas UNBK ini tidak disiapkan pemerintah. a�?Ini untuk anak kita semua,a�? ucap dia.

Ia mengatakan, dirinya yang notabane orang pendidikan akan mendukung apa yang dilakukan sekolah. Karena ini tidak lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan. a�?Meset orangtua itu harus diubah. Baru pendidikan gratis maka semuanya mau gratis. Jika ingin kualitas maka harus ada partisipasi,a�? cetus dia.A�(jay/r9)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka