Ketik disini

Metropolis

Vokalisnya Berjilbab, Jangan Diboikot!

Bagikan

Di lini jagat media sosial dan media online lokal, muncul ajakan boikot Kecimol. Tudingan erotisme akibat akulturasi budaya, membuat beberapa pihak resah. Tapi benarkah semua kecimol menjual erotisme dengan bertameng seni? Berikut laporannya.A�

***

HARI Minggu lalu, Lombok Post bertandang ke daerah perbatasan Lombok Barat dengan Mataram. Tepatnya di desa Bengkel, Lombok Barat. Mengunjungi sanggar seni Kecimol Rizki Group.

Lokasinya di jalan TGH Saleh Hambali. Grup musik tradisional ini dipimpinan Husni Mubarok.

Sampai di markas Kecimol Rizki Group, terlihat dua gadis belia tengah berdandan. Satu berjilbab. Satu lagi tidak.

Yang berjilbab, Silviana Putri namanya. Sedangkan gadis satu lagi adalah adiknya. Nama lengkapnya Luluk Al Marjan.

Dua gadis itu, awalnya tampak malu-malu. Beberapa pertanyaan media ini kebanyakan dijawab dengan anggukan kepala dan menggeleng. a�?Sudah berhenti,a�? jawab Luluk.

Usai di bedaki sang kakak, Luluk kembali sibuk dengan ponsel. Koran ini lantas coba menggoda gadis yang terlihat terlalu cepat “matang” itu. Lalu dengan mengerutkan dahi dan senyum jutek, ia pun nyeletuk. “Ke kepo-nya!a�? uccapnya dengan muka sedikit masam.

Jawaban Luluk kontan mengundang tawa personel Kecimol lain yang ikut mendengar perbincangan kami siang itu. Bahkan, seorang personel sampai ikut-ikutan menggodanya.

a�?Luk, segerah side wah bedoe braye (masa kamu sudah punya pacar)? Patah hatiku!a�? guraunya. Menegaskan pertanyaan Koran ini.

Kali ini, Luluk tersipu-sipu. Wajahnya yang masih terlalu belia, tetapi nampak a�?matanga�? oleh make up disembunyikan dalam lipatan dengkulnya.

Ia sesekali melirik. Tetapi kembali wajahnya ia benamkan di antara rasa malu bercampur kesal. a�?Ada,a�? jawabnya singkat.

Ia sepertinya berharap ini pertanyaan terakhir dari Koran ini. Tapi Luluk salah. Sorakan dari rekan-rekannya yang lain membuat dia semakin malu.

Usia Luluk baru 15 tahun. Ia harus berhenti dari sekolah. Justru saat ia baru duduk di kelas 2 SMP. Alasannya, karena soal biaya.

Luluk enggan bercerita lebih jauh. Apa sebab ayah dan ibunya berpisah. Ia dan kakaknya, Putri memilih tinggal bersama ibu. Sementara sang ayah kabarnya pergi ke Jakarta. a�?Ndak ada biaya,a�? tegasnya.

Wajah luluk berkerut. Garis pelipis matanya melengkung ke bawah. Ia sepertinya sedih. Tapi Luluk cepat menguasai diri. Meski putus sekolah, Luluk masih punya cita-cita besar. a�?Ingin jadi dokter,a�? jawabnya lagi pendek.

Sementara waktu, Luluk memang bingung. Ia sebenarnya mau sekolah lagi. Sayang, karena persoalan biaya, ia harus bekerja. Bukan hanya semata-mata untuk beli buku, pulpen dan uang saku sekolah. Lebih dari itu.

Luluk tetaplah anak gadis yang butuh eksistensi diri. Ia ingin tampil cantik dengan bedak, punya baju baru, celana baru, alat kecantikan baru, pulsa, beli makanan dan lain-lain. Dan semua itu butuh duit!

“Ya ndak tahu nanti,a�? jawabnya menggantung cita-cita.

Jadi dokter memang impiannya. Tapi itu tentu butuh biaya besar. Ia dan kakaknya Putri memang berusaha untuk menabung. Tapi apa iya cukup? Luluk sendiri ragu.

Terang-terangan Luluk mengaku punya pacar. Untungnya, sang pacar tidak posesif. Pekerjaannya sebagai dancer di Kecimol Rizki Group, memang menguras cemburu.

Bagaimana tidak? Ia harus melayani tarian remaja-remaja yang kadang nakal ingin meggrayangi tubuhnya. a�?Ndak (cemburu),a�? tegasnya.

Penghasilan juga tidak seberapa. Menjadi dancer Kecimol ia mendapat upah Rp 50 ribu. Untungnya, Luluk mengaku menjalaninya dengan happy. Ia memang sangat suka menari.

Berbeda dengan kakaknya Putri yang hoby menyanyi dan menjadi vokalis di grup kecimol Rizky Group. Pendapatan kakaknya sampai Rp 200 ribu. a�?Saya? Punya (pacar juga),a�? timpal Putri.

Penampilan Putri memang jauh lebih tertutup. Ia menggunakan jilbab. Tapi alasan Luluk tidak menggunakan jilbab, masuk akal juga. Apa jadinya kalau dia dancer lalu berjilbab? Bisa-bisa Luluk terjerat pasal penistaan agama! Atau setidak-tidaknya dikecam banyak orang. Iya di kecam! Walau sebenarnya dipuja dan ditunggu-tunggu juga kehadirannya.

A�a�?Saya suka nyanyi sejak masih kelas satu SD,a�? sambung Putri.

Putri jauh lebih tenang menjawab setiap pertanyaan. Wajar saja, gadis itu memang lebih dewasa. Pilihan kata yang diucapkan juga jauh lebih tertata. Bahkan Putri terlihat sangat menikmati wawancara.

Uniknya, Putri juga punya cita-cita yang sama dengan adiknya. Yakni jadi Dokter. Sayang, seperti adiknya, Putri juga hanya bisa sekolah sampai lulus SMA. a�?Coba nabung dulu. Kalau cukup lanjut (sekolah) kalau tidak ya, lihat nanti,a�? jawabnya ngambang.

Bagi Putri, menjadi dokter itu pekerjaan mulia. Bisa menyembuhkan banyak orang. Selain itu, tidak ada ceritanya dokter kere. Semua dokter kaya-kaya. Wajar saja, sebagai anak yang tumbuh di keluarga kurang berada, ia ingin memperbaiki nasib.

Sayangnya ia sendiri mengaku tak yakin, cita-citanya bisa tecapai suatu saat. a�?Kalau putri jadi dokter, saya mau sakit setiap hari,a�? goda rekannya yang lain. Seisi ruangan kembali tertawa lebar.

Tapi ketika Putri dan Luluk disodorkan pertanyaan tentang boikot Kecimol? Dua gadis yang baru beranjak remaja itu terdiam. Mereka lalu berpandangan satu dengan lain. Bisa ditebak apa yang ada dalam fikiran mereka.

Satu kawasan memboikot, berarti peluang mendapat rezeki makin berkurang. Apalagi persaingan kecimol semakin sengit di lapangan. Itu artinya juga mimpi jadi dokter menjauh!

a�?Kami kan beda dengan yang lain. Pakaian saya tertutup, sementara adik saya juga tidak menari vulgar kok,a�? tutupnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka