Ketik disini

Feature

Hampir Setiap Bulan Tampil di Luar Negeri

Bagikan

Kesannya main-main, tapi serius. Itulah Senyawa, grup musik eksperimen dari Jogja yang beranggota dua orang: Rully Shabara dan Wukir Suryadi. Mereka mengeksplorasi suara-suara aneh yang ditimbulkan oleh pukulan dan gesekan benda-benda dipadu suara vokal yang tak biasa.

***

PENIKMAT musik kebanyakan mungkin agak sulit menerima jenis musik karya duo Senyawa ini. Pasalnya, suara-suara yang dihasilkan terkesan tak beraturan. Tidak mainstream. Eksentrik. Sehingga bisa dikategorikan musik eksperimen atau alternatif.

Mungkin mereka juga tidak begitu dikenal di belantika musik Indonesia. Wong aliran mereka termasuk ’’tidak umum’’. Tapi, siapa sangka, kelompok musik rumahan itu sudah pernah tampil di 30 negara. Mereka juga mendapat apresiasi dari para penggemar seni eksperimen di negara-negara yang mengundangnya manggung itu.

Yang paling sering, mereka tampil di Australia, Jerman, dan Jepang. Di tiga negara tersebut, mereka pernah manggung lebih dari sekali. Lainnya, antara lain, Singapura, Malaysia, Lebanon, Inggris, Rumania, dan Prancis. Bahkan, dalam dua tahun ini, mereka sangat sering ke luar negeri. Hampir setiap bulan diundang untuk tampil di sana.

Senyawa merupakan duo musisi eksperimen yang tidak bisa dilepaskan satu sama lain: Rully Shabara dan Wukir Suryadi. Mereka lahir dan eksis karena cocok, senyawa. Karena itulah, ketika Selasa malam lalu (10/1) keduanya tidak tampil bareng dalam sebuah demo musik, terasa ada yang hilang.

Malam itu hanya Rully yang perfom. Sedangkan Wukir menjalani pekerjaan di tempat lain. Rully yang ditemani tiga teman, dua di antaranya seniman bule, memainkan musik alternatif di Ruang Gulma Collective, Desa Sembungan, Kasihan, Bantul, Jogjakarta.

Rully mengeksplorasi suara-suara dari mulutnya. Meski begitu, suara yang dihasilkan mampu menciptakan suasana magis, membuat merinding yang mendengarkan. Lirih, perih, dan kadang-kadang mengejutkan.

Suara vokal Rully itu dipadu musik yang dibawakan tiga temannya. Ketiganya tampil dengan bunyi-bunyian yang diciptakan dari pukulan dan gesekan berbagai peralatan. Ada senar yang digesek-gesek, pengaduk adonan kue yang diputar-putar, serta pukulan benda-benda yang ada di sekitar rumah. Setelah dipadu padan, hasilnya cukup dinamis dan bisa dinikmati.

’’Semua alat kami produksi sendiri. Dengan begitu, kami bisa mendapatkan suara yang kami inginkan,’’ kata Rully ketika ditemui di markas Senyawa, kawasan Patangpuluhan, Wirobrajan, Jogjakarta, Selasa lalu.

Rully mengungkapkan, olah vokalnya tersebut mengimbangi beragam bunyi dalam komposisi itu. ’’Vokal tidak harus menyanyikan lirik atau harus jelas liriknya,’’ imbuhnya.

Rully kemudian menceritakan perjalanannya bersama Wukir, si pemusik bambu, melahirkan Senyawa pada 2011. Menurut dia, Senyawa bukan band konvensional, melainkan kolaborasi musik yang terus-menerus dilakukan. Rully dan Wukir merupakan dua individu yang berusaha bereksplorasi bersama. Berbeda dengan band yang membuat lagu bersama.

’’Dan kami tidak mau dibilang bergenre tertentu. Kami musik yang terus meng-explore dan bereksperimen,’’ ujar pria kelahiran 1982 itu.

Rully menegaskan, musik Senyawa tidak untuk digolongkan. Sebab, musik mereka tidak di satu jenis saja. ’’Kami menciptakan bunyi atau karya tidak berdasar genre apa.’’

Rully menyebut bunyi-bunyi yang mereka hasilkan  terinspirasi dari mana saja. Mulai lingkungan, alam, hingga benda-benda di sekeliling. Dia memberikan contoh ketika banyak jangkrik jantan mengerik berirama. Bagi orang umum, suara jangkrik hanya bunyi hewan belaka, bukan bunyi musik seperti yang dipahami Senyawa. Karena itu, Rully dan Wukir sering memanfaatkan bunyi-bunyi alam menjadi bagian dari kolaborasi musiknya.

’’Dari situ, bisa nggak ya kami memadukan dengan bunyi-bunyi yang kami ciptakan. Suara mulut saya atau suara instrumen Wukir. Jadi begitu semangatnya. Menciptakan bunyi yang kemudian disusun menjadi sebuah komposisi,’’ jelas Rully.

Sekitar 2010 di sebuah panggung Yes No Klub Jogjakarta, kali pertama Rully bertemu Wukir. Seusai acara itu, mereka seperti menemukan kecocokan dalam bermusik. Maka, keduanya langsung sepakat untuk membentuk grup musik eksperimental. Saat itu Rully menjadi bagian dari kelompok musik Zoo, sedangkan Wukir memiliki proyek sendiri.

Nama Senyawa bukan bikinan mereka. Nama itu diberikan kawan mereka, Wok The Rock, direktur Mes 56 yang juga pemilik label musik Yes No Wave Music. ’’Dia kasih nama Senyawa untuk judul minialbum pertama kami, EP,’’ kata Rully.

Tak berapa lama, mereka langsung mendapat undangan tampil di Australia pada 2011. Mereka manggung di Melbourne Jazz Festival. Itulah penampilan resmi pertama mereka menggunakan nama Senyawa. ’’Kami bangga poster penampilan kami pertama itu sudah menggunakan nama Senyawa. Keren,’’ tambah dia.

Lima tahun terbentuk, Senyawa sudah memiliki tiga album vinil yang seluruhnya dirilis di luar negeri. Yakni, Jerman, Australia, dan Denmark. ’’Kami juga punya album kolaborasi bersama musisi lain dari Jepang dan Amerika. Kemudian, ada album split dengan Melt Banana dari Jepang. Kami juga bikin single dengan band dari Prancis. Antara lain, meng-cover lagu dangdut Kereta Malam,’’ ungkap Rully.

Konser solo pertama mereka yang berlangsung pada 22 Desember 2016 di Gedung Kesenian Jakarta merupakan gebrakan Senyawa untuk memperkenalkan diri dan membagi musik karya mereka di dalam negeri. Rully menyebut konser itu sebagai oleh-oleh untuk tanah air setelah lima tahun terakhir mereka mencari uang di negeri orang.

Konser itu pun menjadi pengalaman berharga bagi Senyawa. Sebab, setiap kali Senyawa manggung tunggal di negeri orang, semua sudah disiapkan dan mereka tinggal bermain. Sementara itu, dalam konser perdana tersebut, mereka benar-benar mengurus sendiri semuanya.

’’Kami mendapat banyak pengalaman. Kami juga mendapat ekspos dari berbagai media. Itu membuktikan banyak yang ingin tahu musik kami,’’ ujar Rully. (GLORIA SETYVANI PUTRI, Jogjakarta/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka