Ketik disini

Selong

HL Suandi : Selaraskan Pendidikan dan Kebudayaan di Lotim

Bagikan

HL Suandi menjadi pejabat yang diamanahkan memimpin Dinas Pendidikan dan Kebudyaan Lotim. Seperti apa visi dan misinya?

***

KEMAJUAN suatu daerah ditentukan oleh sumber daya manusianya. Tugas membangun sumber daya manusia ini umumnya dimulai dari bangku sekolah. Meski terlihat sederhana, membangun sumber daya manusia bukanlah perkara mudah. Tugas inilah yang diemban pria yang sebelumnya menjadi Kadis Dikpora Lotim HL Suandi.

“Secara umum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mirip dengan Dikpora. Semuanya ini bermuara membangun sumber daya manusia yang lebih baik,” kata pria ini kepada Lombok Post kemarin (13/1).

Mantan Kepala Dishubkominfo Lotim ini menjelaskan, membangun pendidikan di Lotim harus dimulai dari tata kelola yang baik. Karena dengan tata kelola yang sesuai aturan, citra dan kualitas pendidikan bisa lebih baik.

“Setiap kurikulum dan sistem yang dijalankan harus mengikuti ketentuan. Jika tidak menyimpang dari itu, Insya Allah kualitas pendidikan kita akan menghasilkan output yang diharapkan,” jelasnya.

Dengan wilayah Lotim yang cukup luas, menurut pria kelahiran Rarang 3 Agustus 1963 ini pembangunan pendidikan yang berkualitas secara merata di Lotim bukanlah hal yang mustahil. Sistem pendidikan saat ini dikatakannya memiliki standar yang sama. Baik di daerah perkotaan maupun daerah yang jauh dari kota.

 “Standar evaluasi yang kita terapkan pun sama,” cetusnya.

Hanya saja kendala yang dihadapi saat ini dalam dunia pendidikan di Lotim saat ini terletak pada keterbatasan jumlah tenaga pengajar. “Kita saat ini berada dalam posisi dilema. Kita kekurangan guru namun kita dalam posisi tidak bisa mengangkat guru akibat keterbatasan anggaran,” terangnya.

Beruntung, keberadaan guru honor dirasakan sangat membantu daerah membangun dunia pendidikan. “Makanya kita sangat berharap para guru honor ini tidak kehilangan semangat keikhlasan dalam mengajar. Kami terus berusaha memperjuangkan mereka akan mendapatkan upah sesuai UMR,” ungkapnya.

Selain menyinggung masalah pendidikan, kebudayaan juga akan menjadi perhatian Suandi. Ia ingin keberadaan kebudayaan bisa selaras dengan pembangunan dunia pendidikan. “Kebudayaan itu akan menjadi sebuah identitas daerah. Ini yang harus dipertahankan dan dilestarikan,” tegasnya.

Terkait adanya sejumlah kebudayaan yang dirasakan saat ini mulai menyimpang, Suandi mengaku ini menjadi PR-nya. “Di sinilah peran kita untuk mengarahkan generasi muda untuk tidak menyimpang dalam mengartikan kebudayaan. Sehingga terbentuk generasi muda yang terdidik dan berbudaya,” tandasnya. (HAMDANI WATHONI, Selong/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka