Ketik disini

Metropolis

Lebih Suka Manual Ketimbang “Laser”

Bagikan

Tak hanya sekedar potong. Menyunat juga butuh keahlian. Ahmad Safrudin lantas menceritakan lika-liku hidupnya selama berurusan dengan alat kelamin pria itu.

***

MELIHAT plank nama itu, rasanya tergelitik. Entahlah. Apa di tempat lain juga seperti itu. Tapi jujur, baru kali ini melihat ada plank besar. Menunjukan kediaman, sang juru sunat. Biasanya, yang dipampang nama dokternya. Tapi yang ini beda!

Nama pria 60 tahun itu, Ahmad Safrudin.  Saat Koran ini mengunjungi kediamannya di Rembiga, Saf begitu ia akrab dipanggil, tengah beristirahat. Seorang wanita berbaik hati, memanggilkan pria itu. Sekitar 10 menit kemudian, pria dengan baju perawat tapi bersarung keluar dari pintu depan.

“Saya mulai menggeluti profesi ini sejak tahun 80-an,” kata Saf, memulai cerita.

Meski sudah sangat senior, pria dengan rambut hitam lebat itu nampak terlihat muda. Sayang, uban di alis tak bisa menutupi usianya yang semakin senja. Tetapi setengah abad lebih sepuluh tahun itu, Saf menyimpan banyak kenangan soal profesi unik itu.

“Saya lulusan SPKU, yakni Sekolah Penjenjeng Kesehatan Umum,” ceritanya.

Sekolah ini, setara dengan SMU/SMK saat ini. Tapi bedanya, dulu lulus SPKU dapat kepercayaan ikut terlibat dalam berbagai kegiatan medis rumah sakit. Karenanya, meski lulus SPKU yang dulu gedungnya berada di sebelah timur kantor Gubernur, sekitar tahun 1978, dia sudah bisa memberi pelayanan medis di Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar.

“Lalu sekitar tahun 1983 saya dipercaya pegang ruang bedah,” tuturnya.

Tentu saja bukan untuk melakukan praktik pembedahan sendiri. Tetapi menjadi asisten sejumlah dokter bedah saat itu. Di antara nama dokter ahli bedah saat itu tuturnya ada Dokter Majid, Dokter Susbandoro, Dokter Satyo dan Dokter Gede Ardite dan lainnya. Pengalaman membantu mereka membuat Saf terampil berurusan dengan urusan bedah-membedah.

“Sebenarnya keahlian sunat ini juga saya dapat dari ayah. Beliau sama seperti saya, jadi mantri (perawat) dan juga tukang sunat,” terangnya.

Saf lalu menuturkan, menjadi tukang sunat itu gampang-gampang susah. Keahlian dasar yang harus dimiliki tentu nyali dulu. Nyali berani memotong ‘bagian’ organ tubuh manusia. Apalagi ini termasuk organ vital. Selain itu, harus siap juga ‘bermain’ dengan darah.

“Sebab ada kalanya pasien yang disunat itu, punya jumlah pembuluh yang berbeda. Sehingga jika tidak cepat diikat pembuluh darahnya, pendarahan akan sangat banyak,” terangnya.

Pada kasus seperti ini, “haram” hukumnya seorang mantri atau perawat panik. Sebab, jika panik tentu proses penyembuhan bisa sulit dilakukan. Terutama saat menggabungkan kulit dalam dan kulit luar. Di dekat glans penis (kepala penis).

“Kalau malpraktik alhamdulillah tidak pernah. Tetapi kalau menghadapi pendarahan pasien itu sering,” ungkapnya.

Sebenarnya proses sunat kata Saf tidak asal potong. Ada teknik dasar yang harus dipenuhi. Bagian kulit yang diptong dari alat kelamin pria harus sekitar setengah centimeter ke glans panis.

“Kasarnya, pangkal kepalanya itu,” celetuknya.

Pemotongan kulit alat kelamin, memang secara teori kedokterannya harus sampai di pangkal kepala glans panis itu. Sebab kalau tidak, sunatan bisa percuma.

Secara medis, kulit di ujung alat kelamin pria memang rentan tempat berkembang biak bakteri dan penyakit.

“Supaya bagus, pemotongan juga dilakukan dengan tiga cara,” sambungnya.

Cara pertama yakni dengan pemotongan langsung. Cara ini memang tergolong cepat. Hanya saja, hasilnya tidak maksimal. Jika tidak dibantu dengan alat khusus untuk menjepit batas kulit dalam. Cara kedua yakni dengan sistem membelah kulit. Dan cara ketiga yakni dengan membuat lubang.

“Cara kedua dan ketiga memang lebih rumit. Tapi, maksimal memotong kulit dalam dan luar. Sehingga hasilnya akan jauh lebih indah,” celetuknya.

Dewasa ini berkembang teknik baru. Banyak orang menyebut teknik ini sebagai teknik laser. Padahal menurut, Saf itu sebenarnya bukan laser. Tetapi hanya alat pemotong  yang menggunakan kawat besi yang secara konduktif mengalami pemanasan akibat bertemunya kutub positif dan negatif. Persis seperti korek api elektrik.

“Kalau ini disebut laser, sama saja dengan pembodohan warga. Ini bukan menggunakan sinar laser. Tetapi alat soder,” cetusnya.

Penggunaan alat ini memang relatif lebih praktis. Kawat besi yang sudah memuai panas dan berwarna merah bara, dengan cepat bisa digunakan memotong kulit di ujung alat kelamin pria. Selain itu, alat ini membuat pembuluh darah tertutup. Sehingga tidak terjadi pendarahan.

“Ya memang tidak berdarah, karena pembulunya langsung tersumbat karena gosong,” ungkapnya.

Tetapi alat seperti ini berisiko. Hasil pemotongannya tidak maksimal. Dengan kata lain tidak memangkas habis kulit ujung kelamin, sampai batas pangkal glens penis. Namun, dari dari belasan ribu warga yang pernah disunatnya, sebagian besar meminta disunat menggunakan alat yang mereka lebih suka sebut sebagai “laser”.

“Memang terkesan cepat sembuh. Tapi karena mereka minta dengan cara ini ya harus dipenuhi. Walaupun sebenarnya dengan cara manual jauh lebih baik,” ulasnya.

Saf mengaku telah menyunat belasan ribu orang. Dari masyarakat biasa hingga keluarga pejabat. Bahkan tidak hanya di Mataram, undangan untuk melakukan sunatan massal bahkan datang hingga Pulau Sumbawa.

Tarif sekali sunat, ia mematok Rp 250 ribu. Tapi itu harga yang fleksibel. Bahkan ia tak segan mengembalikan uang, jika warga yang disunat adalah orang yang tegolong tidak mampu.

“Harga obat-obatannya, sekitar Rp 50 ribu, tapi kadang kami gratiskan kalau ia termasuk keluarga yang tidak mampu,” tuturnya.

Dari hasil menyunat, Saf berhasil mengkuliahkan kedua anaknya. Bahkan salah satunya sudah lulus S2 di sebuah perguruan tinggi negeri di Malang, Jawa Timur. Tidak hanya itu, rumah yang tergolong besar dan kesempatan naik haji, juga menjadi bagian rizki melimpah bagi Saf dan keluarga.

“Tapi karena nama belum keluar sampai sekarang (untuk berhaji) saya dan istri rencananya berniat umrah dulu,” tutupnya. (bersambung /LALU  MOHAMMAD ZAENUDIN/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka